Friend or Foe

Artist: I Gede Arya Sucitra, I Nyoman Agus Wijaya
Curated by Kadek Krishna Adidharma

Friend or Foe juxtaposes very different artists: a painter and a sculptor. Both Arya Sucitra and Nyoman Agus Wijaya are young up-and-coming artists who have shown promising beginnings. They have unique sensibilities. Arya chooses to paint cows on canvas, while Nyoman sculpts dogs out of metal. Both have chosen animals they love. Yet these creatures remain an enigma to the artists, especially in unveiling mankind’s relationship with these domesticated creatures.

Continue Reading →

New Ripple

RIAK OMBAK BARU DI PANTAI TAK TEPERMANAI

Seseorang pernah mengibaratkan seni rupa laksana pantai tak tepermanai dengan riak ombak yang meresik nyaring sampai jauh. Pantai itu medan kreativitas—dalam hal ini adalah Yogyakarta—yang sulit, ganjil, dan misterius. Riak ombak itu perupa muda—dengan segala tingkah-laku, sikap dan peran serta—yang belum sudah menceburkan diri sedalam-dalamnya ke pantai itu.

Ini kali Prayoga Satria, Janu Satmoko, Prihatmoko Catur, Riono Tanggul, dan Toto Nugroho, yang berasal dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan semangat—pinjam frase Chairil Anwar—semua dapat tempat, semua perlu dicatat, melakoni kesunyian masing-masing di pantai tak tepermanai itu sembari mendengarkan RadioHead atau Punkasila; menikmati Robert Crumb atau Basiyo; dan melahap Juxtapoz Magazine atau Komik Rada Lucu.

Continue Reading →

New Ripple

RIAK OMBAK BARU DI PANTAI TAK TEPERMANAI

Seseorang pernah mengibaratkan seni rupa laksana pantai tak tepermanai dengan riak ombak yang meresik nyaring sampai jauh. Pantai itu medan kreativitas—dalam hal ini adalah Yogyakarta—yang sulit, ganjil, dan misterius. Riak ombak itu perupa muda—dengan segala tingkah-laku, sikap dan peran serta—yang belum sudah menceburkan diri sedalam-dalamnya ke pantai itu.

Ini kali Prayoga Satria, Janu Satmoko, Prihatmoko Catur, Riono Tanggul, dan Toto Nugroho, yang berasal dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan semangat—pinjam frase Chairil Anwar—semua dapat tempat, semua perlu dicatat, melakoni kesunyian masing-masing di pantai tak tepermanai itu sembari mendengarkan RadioHead atau Punkasila; menikmati Robert Crumb atau Basiyo; dan melahap Juxtapoz Magazine atau Komik Rada Lucu.

Continue Reading →

Diskusi Seni Rupa Indonesia

Diskusi Seni Rupa IndonesiaPerjalanan Seni Rupa Indonesia dalam perspektif kesejarahan, dengan pemahaman pihak-pihak yang berperan aktif untuk seni rupa Indonesia. Pendidikan seni di sekolah maupun perguruan tinggi melibatkan pembahasan mengenai sejarah seni rupa Indonesia, dari catatan yang dibuat oleh pemerintah. Sementara proses pemparan sejarah tersebut belum tentu disusun berdasarkan ilmu kesejarahan. Bagaimana periodisasi diterapkan dalam sejarah seni rupa modern Indonesia?

Pembicara : Hilmar Farid & Agus Burhan
Moderator : Halim HD
Hari, tanggal : Sabtu, 19 Desember 2009
Waktu : 15.30 – 17.00 WIB
Lokasi : Sangkring Art Space
Notulen : Yuliana Intan

CP: Fajar Martha: 0817465917
jogjabiennale@yahoo.co.id
biennalejogja.com

Solo Exhibition of Jeihan Sukmantoro

Solo Exhibition Jeihan SukmantoroDengan bekal selama setengah abad menekuni dunia gambar model itu, kini Jeihan sampai pada “puncak” dari segala teknik gambar. Karya-karyanya bertambah sublim bahkan menampakkan kebeningan yang luar biasa.

Di luar itu semua –dan inilah capaian ‘mutakhir’ Jeihan, perupa ini bekerja tidak lagi atas dasar dorongan ‘keinginan’. Bahwa segala sesuatu terwujud didorong oleh gerak insting. Insting, dalam perumusan Jeihan, sebuah keadaan kejiwaan yang bekerja di atas kesadaran, tidak lagi pada tataran bawah sadar yang sering diterjemahkan sebagai bekerjanya intuisi. Pada prakteknya saat-saat bekerja Jeihan tidak lagi melihat apa yang terjadi di atas kanvasnya, ia berkonsentrasi penuh untuk memasuki alam kejiwaan para modelnya. Lewat getaran-getaran energi yang dipancarkan modelnya atau lebih populer dikenal sebagai aura, Jeihan menemukan spesifikasi-spesifikasi karakter yang kemudian ia terjemahkan lewat warna-warna. (Sumber: Leaflet Pameran, 2009)

Continue Reading →

Janus

JanusCurated by Hardiman
Will be officiated by Syakieb Sungkar

Artists:
AA Darmayuda, Agus Cahaya, Alit Suaja, Bambang Pramudijanto, Diyanto, Ikay Khairudin, Isa Perkasa, I Wayan Sudarna Putra, Kun Adnyana, Made Budhiana, Polenk Rediasa, Tatang BSP

Start Time: Monday, December 28, 2009 at 6:30pm
End Time: Thursday, January 28, 2010 at 10:00am
Location: T-artspace
Address: Jl. Raya Ubud, Gianyar 80751 Bali Ubud, Indonesia

Wasted

WastedMultimedia Concert & Exhibition by Tomoko Mukaiyama

Tomoko Mukaiyama has been engaged by prestigious orchestras and ensembles, among others the Ensemble Modern in Frankfurt, the London Sinfonietta, the Ensemble Intercontemporain and the Royal Concertgebouw Orchestra. She has collaborated with film directors, designers, architects, dancers and photographers, such as Ian Kerkhof, Marina Abramovic, MERZBOW, Kim Ito and Jirí Kylián.
Ten years ago Tomoko Mukaiyama started working as a visual artist. She used her experience as a concert pianist to create her first installation piece in a concert hall. She gave new meaning to the concert hall as a location with her project ‘Amsterdam x Tokyo’ (2000) ‘for you’ (2002) and studied the absence and presence of composer, audience and pianist in her installation

Continue Reading →

HAM ‘brgr’ ACT

HAM brgr ACT ionHormati Hak Asasi Manusia .. karena itu fitrah Manusia,
Kita semua bebas memilih jalan Hidup yang disukai.
Tuhan pun tidak memaksakan apa yang hamba-nya lakukan,
kita bebas untuk melalukan Segala-galanya .. asal Saja tidak bertentangan dengan Pancasila
[ Lirik Lagu Hak Asasi - Rhoma Irama ]

Hari HAM .. bulan Desember menjadi momen penting bagi kemanusiaan kita. Kita diingatkan agar menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang lebih baik, adil, dan peduli pada tahun-tahun mendatang. Pada bulan Desember ini kita memperingati sejumlah hari penting yang merupakan perayaan untuk memuliakan kemanusiaan kita. Misalnya 9 Desember yang diperingati sebagai Hari Antikorupsi Sedunia dan 10 Desember yang sudah lama kita peringati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.

Continue Reading →

Diskusi Hasil Pemberdayaan Arsip: Biennale Yogya 1-9 To members of Public Event on Biennale X – 2009

Grace Samboh meneliti dengan memberdayakan arsip IVAA mengenai Binal 92, ternyata dalam perjalanannya, berkembang menjadi penelitian Biennale yang terjadi di Jogjakarta sejak 1988. Pengembangan terjadi karena Binal ’92 mempengaruhi proses kuratorial dan eksekusi Bienale Jogja selanjutnya. Dengan memberdayakan arsip IVAA serta penelusuran arsip Biennale di lembaga lain, seperti apakah Biennale yang terjadi di Jogjakarta selama ini?

Pembicara : Grace Samboh
Moderator : Ferdiansyah Thajib
Hari, tanggal : Kamis, 17 Desember 2009
Waktu : 15.30 – 17.00 WIB
Lokasi : R. Seminar -Taman Budaya Yogyakarta
Notulen : Yuliana Intan

CP: Fajar Martha: 0817465917
jogjabiennale@yahoo.co.id
biennalejogja.com

Artist Talk : AIKO on Maling Jemuran

Artist Talk :
AIKO ditemani oleh Fendi Siregar*)

Kamis,17 Desember 2009
pk.14:00~
di Ruang Serba Guna JF
Gd.Summitmas I lt.2
Jl. Jend.Sudirman kav.61-62
Jakarta Selatan

Terbuka untuk UMUM.GRATIS.
Info. (021) 520-1266

*) Fendi Siregar adalah Senior Photographer, praktisi & pengajar fotografi, Mantan ketua Jurusan Fotografi IKJ I dan Pendiri Assosiasi Fotografer Indonesia,peraih ACCU Prize di Jepang, yang juga pernah berpameran di World Expo di Tsukuba Jepang

Maling Jemuran Photo Exhibition + Book Launch (PART 1)

Ki Jarot Jogo Pikiran

Ki Jarot Jogo PikiranKI JAROT JOGO PARKIR NENG GEDUNG BI

KI JAROT, adalah akronim dari JUKI-JAHANAM-ROTRA, akan manggung bareng fashion show karya Tere & Rika di Gedung BI (Bank Indonesia) Jogja. Jogo Parkiran adalah lagu hip-hop Jawa yang pertama kali populer, sementara fashion show Tere & Rika mengambil inspirasi dari baju tukang parkir.

Acara ini adalah salah satu program dari BIENALE JOGJA X 2009

Host: Jogja Hip Hop Foundation
Date: Wednesday, December 16, 2009
Time: 3:30pm – 9:30pm
Location: GEDUNG BANK INDONESIA (BI) YOGYAKARTA

Diskusi Sanggar Bumi Tarung: Ruang Alternatif Era 60′an

Ruang Alternatif Era 60'anSanggar Bumi Tarung berdiri 1962, dalam lingkungan Kampus ASRI Yogyakarta; oleh sekelompok pelukis muda ASRI. Mereka bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat, hal ini dinyatakan secara eksplisit oleh anggotanya bahwa keberadaan LEKRA sesuai kesadaran semangat Bumi Tarung. Peristiwa ’65 membuat Bumi Tarung berusia cukup pendek, mereka menjadi bagian dari proses transformasi sanggar-sanggar kebudayaan di Yogyakarta, dan menjadi penanda yang sangat penting dari pergolakan situasi masa tersebut. Peristiwa ’65 justru telah menghancurkan dinamika sanggar-sanggar.

Continue Reading →