Biennale Jogja X: Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa

OLEH: YUYUK SUGARMA
Sinar Harapan, Sabtu, 07 November 2009

Yogyakarta – Ruang publik Kota Yogya bakal dipenuhi karya-karya artistik para perupa.

Di baliho-baliho, aspal jalanan, tembok-tembok maupun ruang-ru­ang yang kosong akan terpampang lukisan yang ber bentuk digital print, instalasi, bahkan performing art ataupun eksperimental art. Sementara di empat venue (Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, Gedung Bank Indonesia dan Sangkring Art Space) juga akan terpampang lukisan-lukisan karya perupa di era kemerdekaan, seperti Sudjojpno, Trubus, dan Affandi. Total, ada 130 perupa (di antaranya Heri Dono, Dadang Christanto, Djoko Pekik, Jumaldi Alfi, Nasirun, Totok Buchori, Edi Hara, Rudi Manthovani dan masih seabrek lagi perupa lainnya) yang akan terlibat dalam pameran in door. Sementara itu, tak kurang dari 150 seniman/kelompok (seperti Kelompok Seringgit, Dicky Tjandra, Albara, dan Kelompok Hitam Manis) terlibat “mempercantik” kota Yogya.

Itulah tekad panitia yang diwujudkan dalam perhelatan seni rupa Biennale yang akan berlangsung sejak 10 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa,” demikian tema yang diambil pada Biennale Jogja X.

Tema ini sengaja diambil, menurut Wahyudin, salah seorang kurator, untuk menunjukkan bukanlah sebuah omong kosong jika Kota Yogya disebut kota budaya. Sebuah kota yang melahirkan serta menggembleng seniman besar yang kini banyak tersebar di seantero Indonesia, bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Sebuah kota yang bergerak dalam pemikiran modern namun tetap tak meninggalkan tradisi. Kota yang tetap mengedepankan persaudaraan, keguyuban, serta kenyamanan.

“Dinamika kesenian di Yogya bisa diibaratkan seperti jam session dalam musik. Setiap seniman saling merespons dalam proses kreatif. Denyut inilah yang hendak direfleksikan dalam Biennale Jogja X. Tema Jogja Jamming berbasiskan pada dinamika wacana seni rupa yang berlangsung di setiap dekade,” tambah Butet Kartaredjasa, Direktur Biennale Jogja X dalam jumpa pers, Kamis (5/11).

Humanisme Kerakyatan
Jika kita mencermati kilas balik seni rupa Yogyakarta, menurut Butet, kita akan menemui sebuah semangat yang menjadi penanda zamannya. Humanisme kerakyatan telah menjadi penanda semangat yang dominan di zaman Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjojono yang merupakan generasi pemula seni rupa modern Indonesia hingga tahun 1960-an.
ASRI (kini ISI Yogya) yang berdiri pada tahun 1950-an, tidak bisa tidak, juga membawa wacana tersebut yang kemudian membedakan dirinya dari wa ca na yang menguat di Ban dung misalnya. Pa da masa rezim Orde Baru, wacana yang terbangun dalam seni rupa pun cenderung apolitis.

Bentuk-bentuk estetika dominan yang berkembang lebih mengarah pada sema ngat humanisme universal dengan menguatnya seni abstrak, dekoratif, dan lain-lain. Belakangan, kita juga mengetahui, “semangat” yang berimplikasi pada laku dan pilihan estetik, digugat oleh generasi setelahnya, seperti tercermin dalam “Ge rakan Seni Rupa Baru” dan “Seni Kepri ba dian Apa”. Kemudian, kecende rung an di luar dunia seni rupa, yaitu perbincangan tentang me-”lokal” dan meng-”global” pada tahun 1980-an telah menyeret praktik-praktik seni rupa Yogya.

Dalam hal ini, perhelatan Biennale Seni Lukis I hingga Biennale Seni Rupa Jogja IX dapat d ijadi kan sebagai studi kasus, terutama soal-soal organisasi pelaksanaannya. Hingga yang paling kontemporer, praktik-praktik seni rupa yang tidak bisa menghindar dari budaya urban dan kecenderungan pasar.

“Berdasarkan semangat yang berbasis pada sejarah seni rupa Yogya inilah lebih dari 200 seniman akan menginterpretasi semangat zaman yang telah ditoreh kan para seniman dari rentang tahun 1940-an hingga yang terkini era 2000-an,” kata Butet.


Art News