Biennale Jogja X – Jogja Jamming

Jogja JammingSetelah kurang-lebih 21 tahun, sesudah 9 kali perhelatan, Biennale Jogja telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis dan pencapaian artistik para pelaku senirupa di kota ini.

Kemungkinan itu merupakan semacam jembatan kesempatan untuk merayakan tradisi ini dengan partisipasi. Tapi sejauh ini partisipasi itu masih dianggap bersifat fragmentaris—dan hal inilah yang kerap memunculkan kritik dari satu perhelatan ke perhelatan lainnya.

Karena itu, setelah 9 kali pergelaran, sudah saatnya untuk menengok kembali, tidak hanya signifikansi kritik itu terhadap Biennale Jogja, tapi juga apa yang selama itu telah berlangsung dalam tradisi ini. Dengan kata lain Biennale Jogja X-2009 ini dapat ditempatkan sebagai semacam “momen pertemuan” untuk membongkar, membaca, dan menyuratkan apa-apa yang terjadi di seputar perhelatan Biennale Jogja dan laku kreatif di dunia senirupa Yogyakarta.

Maka gerakan mengarsip menjadi salah satu pokok soal yang penting dalam Biennale Jogja X-2009, karena dengan itulah perkara lupa dapat dihalau dari tradisi ini. Dengan begitu ingatan bisa diperpanjang dan diharapkan dapat menjadi sandaran untuk menata apa-apa yang menjelang tidak hanya dalam tradisi ini, tapi juga dalam laku cipta para pelaku senirupa di Yogyakarta.

Dari sini, kita berharap mendapatkan ruang apresiasi dan refleksi kemanusiaan dalam pusparagam karya senirupa—juga gerakan terbuka dan komunal mengarsip praktik artistik semua bentuk seni rupa di Yogyakarta. Itu sebabnya mengapa Biennale Jogja X-2009 mengusung tema “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Senirupa Jogja”.

Pada titik inilah Biennale Jogja X-2009 akan menggelar perhelatannya di 2 panggung besar bernama “Artists Interpretation” di Taman Budaya Yogyakarta dan Jogja National Museum, dan “Public on the Move” di sejumlah titik strategis kota Yogyakarta, pada 10 Desember 2009-10 Januari 2010.

“Artists Interpretation” adalah sebuah pergelaran yang berikhtiar memajang karya-karya senirupa mutakhir milik para perupa kontemporer Yogyakarta yang saat ini—setidaknya dua tahun belakangan ini—berkibar di dunia senirupa Indonesia. Karya-karya mereka merupakan interpretasi atas semangat zaman yang menaungi praktik penciptaan senirupa di Yogyakarta dari era 1940-an sampai era kontemporer belakangan ini—di mana sejarah diaktualisasikan dengan bahasa visual mutakhir sebagai sebuah upaya menggurat yang menjelang perkembangan estetika di dunia senirupa Yogyakarta.

Dari pembacaan bersama antara tim kurator (Eko Prawoto, Hermanu, Samuel Indratma, Wahyudin) atas sejarah dan praktik penciptaan senirupa di Yogyakarta, ditetapkan ada 5 semangat zaman yang akan menjadi titik tolak para senirupawan untuk melakukan interpretasi.
(1). Humanisme Kerakyatan. Semangat ini muncul antara lain dipicu oleh situasi penuh gelora revolusi dan semangat kebangsaan. Dalam perkembangannya terjadi perbedaan dan perselisihan antara mereka yang meyakini paham “seni untuk rakyat” dengan mereka yang mengimani “seni untuk seni”. Praktik seni tersebut dapat dilacak pada karya-karya para senirupawan yang tergabung dalam Seniman Indonesia Muda (SIM), Pelukis Rakjat, atau Sanggar Bumi Tarung.
(2). Humanisme Universal: muncul terutama oleh perupa-perupa yang meyakini “seni untuk seni”; seni sebagai ekspresi pribadi, yang mengolah dan menggubah persoalan-persoalan atau pandangan-pandangan personal, terhadap berbagai masalah kehidupan. Praktik seni tersebut misalnya dapat dilihat pada karya-karya Handrio, Fadjar Sidik, Widayat, atau oleh para perupa yang tergabung dalam Sanggar Bambu.
(3). Perlawanan Terhadap Kemapanan Estetika: sebuah gerakan yang lahir dari sebuah angkatan penuh gelora pemberontakan terhadap kemapanan nilai-nilai konvensional yang dianut oleh para “senior” yang dianggap berada dalam “estetika lama”. Mereka melancarkan pemberontakan dengan mengusung wacana budaya dan kritik sosial-politik sebagai salah satu ikhtiar untuk melihat arti penting keragaman bentuk-bentuk seni rupa sebagai sama derajat, dengan cara memperluas bentuk praktik seni tidak sebatas lukisan, patung, dan grafis, tetapi meliputi seluruh praktik seni yang terjadi di masyarakat dalam berbagai lapisan. Praktik seni tersebut dapat dilihat pada karya-karya terutama oleh Seni Kepribadian Apa dan Gerakan Seni Rupa Baru .
(4). Pergolakan Antara Budaya Lokal dan Global: gaya sekaligus sikap berkesenian dan merupakan strategi perupa dalam “tawar-menawar posisi” di forum senirupa internasional, pengembangan komunitas lewat praksis senirupa, dan kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat atau lembaga donor di dalam dan luar negeri. Praktik seni tersebut dapat dilacak pada karya-karya yang dipresentasikan oleh Rumah Seni Cemeti, upaya-upaya eksplorasi visual Heri Dono, Mulyono dengan seni rupa lingkungan, atau eksplorasi visual oleh Entang Wiharso.
(5). Seni Rupa Urban; merupakan praksis seni rupa yang mengolah dan menggubah problematika sehari-hari, juga praktik seni di tengah masyarakat, yang meleburkan batas-batas antara seni tinggi dengan seni rendah, seni murni dengan seni terap, antara seni dengan desain, bahkan antara seni rupa, seni pertunjukan, dan teknologi. Praktik seni tersebut dapat ditengarai pada karya-karya, antara lain Apotik Komik, Taring Padi, Daging Tumbuh, Penerbit Bentang Budaya (sampul buku), Dagadu dan Jaran (T-shirt), The House of Natural Fiber, Grafis Minggiran, Mess 56, dan Indonesian Visual Art Archive.

“Public on the Move” adalah sebuah perhelatan di ruang-ruang publik Yogyakarta sebagai sebuah kehendak mempertautkan praktik senirupa dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta. Di sini khalayak dapat secara leluasa mengapresiasi tidak hanya karya senirupa, tapi juga arsip dan dokumen visual milik para perupa di studio mereka masing-masing.

Tak kurang dari itu, masyarakat dapat menyaksikan praktik kreatif perupa dengan perupa dari dalam dan luar negeri; perupa dengan khalayak, dalam sebuah kegiatan kolaborasi dan workshop senirupa. Dengan begitu, partisipasi para perupa, komunitas senirupa dan masyarakat di ruang-ruang publik itu akan menjadi sebuah jembatan kesempatan untuk menciptakan gerakan mengarsip senirupa di Yogyakarta.

Untuk “menghias” panggung besar perhelatan senirupa itu Biennale Jogja X-2009 akan menyelenggarakan diskusi publik tentang sejarah dan “keistimewaan” praktik penciptaan senirupa Yogyakarta dengan menghadirkan sejumlah pakar, pengamat, kolektor, dan perupa-eksponen gerakan senirupa Yogyakarta.
Tak kalah penting dari itu—sebagai sebentuk penghormatan kepada para perupa yang telah mengabdikan penuh-seluruh hidupnya untuk berkarya di dunia senirupa—Biennale Jogja X-2009 akan memberikan “Lifetime Achivement Award” kepada 2 perupa yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

Atas itu semua, masyarakat senirupa Jogja merasa perlu untuk mengejawantahkan tradisi ini menjadi sebuah lembaga permanen sebagai ikhtiar penuh seluruh bagi kerja bersama yang lebih baik di masa mendatang.

(WAHYUDIN, anggota tim kurator Biennale Jogja X-2009)


Art News