Perhelatan akbar senirupa Biennale Yogyakarta akan berlangsung sebentar lagi. Namun dalam Biennale yang ke-10 ini ada yang mengemuka dan bisa menjadi tonggak sejarah dalam perjalanannya.
Dimotori Butet Kartaredjasa, Dyan Anggraini, Ong Hari Wahyu, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Yuswantoro, Adi, Kusen Hadi dan masih banyak nama lagi, mereka sepakat bahwa Biennale X yang akan berlangsung Desember mendatang tak akan ada penjualan karya oleh
panitia.
Selain itu, Biennale Jogja X juga akan menjadi tonggak sejarah. Kegiatan perhelatan Biennale yang biasanya hanya ditangani sebuah kepanitiaan, kelak akan menjadi lembaga permanen. Lembaga yang nantinya didanai APBD ini akan berkonsentrasi pada penyelenggaraan Biennale Yogyakarta dua tahun sekali, menggalang dana abadi, memperkuat jaringan seni rupa tingkat nasional dan internasional, serta membangun infrastruktur seni rupa. Ini merupakan impian lama, dan kali ini akan terwujud nyata.
“Kini kami sedang mempersiapkan panitia kecil, dengan target waktu 6 bulan semuanya sudah beres,” tegas Butet, Direktur Biennale X Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Setidaknya ada 12 orang yang akan masuk dalam panitia kecil ini, meski masih tidak menutup kemungkinan beberapa orang lagi akan masuk. Di antaranya adalah Soewarno W, Kuss Indarto, Tita Rubi, Anggi, Kusen Hadi, Ong Hari Wahyu, Dian Anggreni.
“Kepanitiaan kecil ini melibatkan semua kelompok yang ada, mengingat ini adalah kerja masyarakat senirupa Yogya secara keseluruhan,” tambah Ong Hari Wahyu.
Menurut Butet, adanya lembaga yang formatnya tengah digodok ini jelas akan menambah perhelatan Biennale Yogyakarta ke depan lebih focus dan tentu akan terjaga kualitasnya di samping dijamin kesinambungannya.
“Jadi nantinya Biennale ini akan dipegang dan dipikirkan oleh orang-orang yang duduk di lembaga ini, tidak seperti sekarang ini yang setiap menjelang Biennale baru dibentuk panitia sehingga kerjanya kurang maksimal,” tambah Butet.
Ditambahkan Dyan Anggraini, Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), menyelenggarakan Biennale tak bisa dibuat main-main, mengingat tantangan Biennale ke depan semakin kompleks.
Terlebih lagi semangatnya adalah perhelatan akbar seni rupa ini harus mempunyai karakter
dan bisa berskala internasional. “Karena itu menangani Biennale tak cukup hanya dilakukan oleh sebuah panitia yang baru dibentuk menjelang akan diselenggarakan saja. Terlebih lagi kalau nantinya diputuskan untuk menggodok visi Biennale Yogya,” ujar Dyan.
Butet dan Dyan menyatakan, lembaga Biennale yang segera terbentuk ini juga sudah mendapat dukungan penuh oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Beberapa waktu lalu, sejumlah seniman yang terlibat dalam kepanitaan Biennale X ini sempat pula bertemu dengan Sultan. Dalam perbincangannya yang berlangsung selama 2 jam itu pada akhir Agustus lalu, Sultan sangat apresiatif adanya lembaga itu. Sebab, kata Sultan, dengan adanya lembaga tentu akan lebih mudah menstrategikan perhelatan seni secara berkesinambungan.
Pada pelaksanaannya yang kesepuluh pada tahun ini, Biennale mengambil tema “Jogja Jamming”. Tema tersebut diambil oleh perhelatan seni dua tahunan ini karena Yogyakarta dikenal sebagai kota yang guyub, ramah dan warganya saling toleran.
http://gudeg.net/id/news/2009/09/4819/Biennale-X-Yogyakarta-Akan-Digelar.html