Sunaryo: Sang Pemberi Ruang bagi Seniman Muda

SunaryoText and Photos by Sari Widiati

“Prahara negeri kita mendesak saya untuk membungkus seluruh karya ini. Sejak awal tahun 1998, telah hilang daya untuk berkreasi seperti biasanya. Rasa gusar, pedih, cemas membuat semua beku. Terhimpit segala rasa. Krisis…sampai titik nadir…! Dalam proses pembungkusan terjadi interaksi bagai berkarya di atas karya. Bahkan terjadi reinterpretasi karya. Melipat, mengingat, merajut. Sampai kapan terdiam dan tetap terbungkus? Entah…menunggu mentari negeri kita mulai berseri…” – Ungkapan Sunaryo dalam buku berjudul “Dedikasi Satu Dekade”, yang juga pernah dibentangkan di pintu masuk saat pembukaan Selasar Sunaryo pada 1998.

Di tengah Indonesia yang sedang bergejolak, kehadiran Selasar Sunaryo atau Sunaryo Art Space dianggap sebagai sebuah semangat baru bagi dunia seni Indonesia. Setelah sebelas tahun berdiri, anggapan itu telah berkembang hingga kini ia menjadi ruang seni idaman, khususnya bagi para seniman muda.

Sunaryo, yang lahir di Banyumas, 15 Mei, 1943, merupakan penggagas dan pemilik dari ruang seni tersebut. Ia dikenal luas sebagai seniman serba bisa: mengolah seni lukis, grafis, patung, monumen, instalasi dan lain-lain. Sebagian kecil karyanya telah memperindah Jakarta, antara lain patung Soedirman yang berdiri tegap di bilangan jalan utama dan Soekarno-Hatta di pintu gerbang bandara international di Cengkareng.

Pada satu waktu, ia tanpa ragu menerima Garuda magazine untuk menyaksikan langsung keberadaan bangunan yang merupakan bagian tersendiri dari proses kreatif panjangnya. Dan di tengah hawa sejuk yang mengisi Bukit Pakar Timur, Bandung, dan karya-karya brilian dari Agus Suwage yang membahana di setiap ruang pameran kala itu, kami terlibat percakapan dalam suasana romantis, nuansa khas dari Selasar Café.

Apa kabar Pak Sunaryo? Dan apa kegiatan Bapak akhir-akhir ini?
Kabar baik meski beberapa bulan lalu saya mengalami operasi jantung. Tahun lalu saya pensiun mengajar di ITB dan sekarang sedang bikin rumah di kebun yang disusun tanpa gambar, hanya untuk aktifitas saja. Itu karena saya dikasih kayu yang besar sekali. Sempat saya tidak ambil karena tidak ada tempat.

Apa karya Bapak terakhir?
Karya saya yang terakhir merupakan hasil dari workshop di Singapura (2007), di mana bahan-bahannya adalah kertas. Di sana saya melihat ada studio kertas (Singapore Tyler Print Institute) yang kertasnya tebal-tebal sekitar delapan milimeter dan lebar. Di sini ada teknologi yang memakai teknik cetak saring, semacam kolase dan kemudian ada yang memakai mesin cetak.
Pemerintah Singapura mengundang saya untuk tinggal gratis selama dua bulan. Dalam proses kreatif saya diberi asisten, satu ahli kertas dari Amerika, yaitu Richard Hungerford, dan satu ahli cetak dari Jepang, yaitu Eitaro Ogawa, dan satu dari Singapura dan dibantu oleh beberapa orang lagi.

Selama waktu itu saya menghasilkan 40 karya kertas dan dipamerkan di Singapura. Saya juga mengundang kolektor dari Indonesia. Agar karya saya itu tidak terus berada di luar negeri, mereka membeli 30 buah, yang kemudian saya pinjam untuk dipamerkan di sini tahun ini (28 Februari-15 Maret berjudul “Puisi Lubuk Mimpi”).

Dan kesan Bapak dengan karya tersebut?
Selama dua bulan saya diurus dan difasilitasi dengan baik oleh pemerintah Singapura. Pokoknya, saya hanya kerja. Untuk seorang seniman itu sangat berharga dan mungkin tidak akan terulang lagi.

Mengenai Selasar Sunaryo yang sudah 11 tahun, apa pesan yang ingin Bapak sampaikan?
Ini semacam ibadah saya dan sifatnya non-profit. Sudah terbentuk satu komunitas di sini sebagai tempat bagi seniman-seniman muda, kolektor, kurator dan arsitek, dan tidak terbatas untuk seni rupa saja. Di sini sering ada konser seni musik dan pertunjukan teater, video park, diskusi, seminar dan jugai peragaan fesyen seperti batik. Batik yang diangkat bukan berpola pada kain-kain yang ada di toko atau galeri pada umumnya tapi yang memiliki arti karena kaitannya dengan kehidupan.

Di Selasar atmosfirnya bernuansa ITB, di mana di belakang karya ada semacam gagasan senimannya yang tidak bisa dilepaskan. Bersama kurator, Selasar senantiasa mencari benih-benih yang segar dan memiliki karakter.

Dan di sini tujuannya bermuara pada seniman muda, yang dikasih ruang untuk berkarya dan yang sudah-sudah pamornya melesat.

Pendapat Bapak mengenai karya-karya seni di Bandung?
Pada umumnya banyak insan Bandung yang kreatif dalam bidang seni rupa. Mereka sadar dituntut berkonsep, tidak asal bikin, sehingga banyak kurator yang melirik karya seni artis Bandung. Terlepas dari baik dan buruknya pemilihan dari kurator, anak-anak muda di Bandung senantiasa berkonsep dan idenya segar. Makanya banyak dari mereka yang mendapatkan apresiasi dari pecinta seni.

Lantas, bangaimana Selasar Sunaryo memilih karya-karya seni yang pantas dihadirkan?
Selasar memiliki dewan kurator yang senantiasa mencari benih-benih segar yang memiliki karakter. Para anggotanya adalah arsitek, pengamat seni dan ahli filsafat. Mereka ini akan memberikan arahan dan saya hanya melihat saja. Selama on track, saya oke saja. Karena merekalah Selasar mempunyai karakter yang terbaca oleh pecinta seni.

Selasar Sunaryo juga melengkapi kota Bandung karena di sini banyak dilakukan eksperimen kontemporer. Pada dasarnya seniman itu memberi pencerahan kepada orang lain; kalau pemikiran-pemikirannya ke belakang, berarti mereka tidak kreatif. Itulah yang coba dihadirkan oleh kami.

Apakah Bapak masih berminat buat patung lagi?
Tidaklah, saya sudah capek, karena membuat patung itu membutuhkan waktu dan tenaga yang besar.

Dari banyak monumen yang Bapak buat, apa yang bisa kita tangkap?
Kebanyakan monumen di Indonesia itu inisiatif dari penguasa, sedangkan monumen-monumen yang yang saya buat itu semua refleksi dari kerinduan akan perjuangan.

(source: http://www.garudamagazine.com/department.php?id=210)


Wall