J. Ariadhitya Pramuhendra

Karya-karya perupa J. Ariadhitya Pramuhendra dalam rangkaian pameran tunggal pertamanya menjadi sangat istimewa. Beberapa kali karya-karyanya muncul dalam pameran-pameran bersama yang penting dan mendapat perhatian besar dari publik. Dalam pameran tunggal ini secara mendalam Pramuhendra berhasrat menguak imaji salah satu maha karya sang maestro Renaisans abad 15, Leonardo Da Vinci (1452-1519), sebuah lukisan dinding atau mural di Santa Maria delle Grazie, Milan; berjudul Perjamuan Terakhir atau The Last Supper (atau Il Cenacolo or L’Ultima Cena). Lukisan ini adalah sebuah lukisan alegori (dan apropriasi) yang menggambarkan drama yang ditafsirkan dari kitab suci Injil, saatYesus Kristus mengadakan perjamuan makan bersama ke 12 muridnya dalam satu meja.

Last Supper dalam Dua Konteks Persoalan

Ada dua alasan penting mengapa karya The Last Supper menjadi sangat penting bagi Pramuhendra maupun umat Kristiani lainnya. Pertama menyangkut relijiusitas. The Last Supper merupakan peristiwa yang penting dalam nilai keagamaan, terutama umat Katolik, yang mendasarkan ritual misa di gereja pada kejadian ini. Di malam itu Yesus mengumumkan akan adanya upaya pengkhianatan atas dirinya oleh salah seorang murid, yang kemudian kita ketahui bernama Judas. Kita lalu ketahui bahwa pada keesokan harinya, diri-Nya kemudian menghadapi pengadilan para Rabi Yahudi dan kemudian dijatuhi hukuman penyaliban oleh tentara Romawi. Bagi Pramuhendra, peristiwa itu adalah suatu metafor, suatu momentum penting dalam kehidupan reliji serta memiliki makna simbolik bagi dirinya, bahwa setiap sosok di sana mungkin bisa mewakili situasi keimanan seseorang pada saat sekarang.

Dalam ayat Markus 14 diuraikan:
22 Dan ketika Yesus dan murid-murid Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahnya, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Ambilah inilah tubuhKu.” 23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap sukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 24 Dan Ia berkata kepada mereka: “ Inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam kerajaan Allah.”1

Alasan kedua, berkaitan dengan problematika imaji The Last Supper itu sendiri. Dalam kitab Injil, peristiwa ini ternyata hanya disebut secara sekilas, pendek, namun penuh makna penting bagi keberadaan-Nya. Ada banyak penggambaran alegoris dalam bentuk ikonografi tentang peristiwa ini sebelum digambarkan Leonardo, tapi Last Supper versi Leonardo dicatat khusus oleh banyak sejarawan dan ahli seni sebagai sebuah mahakarya yang melahirkan cara pandang baru, terutama ketika Eropa memasuki jaman pencerahan. Ketika The Last Supper dipesan khusus oleh Paus untuk Gereja di Milan itu, Leonardo kemudian membuatnya menjadi sebuah drama yang monumental sekaligus juga menandai kehebatannya dalam sains. Dalam karyanya kita dihadapkan pada suatu adegan saat Yesus berada di tengah ke-12 muridnya, ketika Ia mengumumkan tentang pengkhianatan atas diri-Nya. Kita juga melihat gestur mereka yang gelisah ketika mendengar berita itu.

The Last Supper karya Leonardo berukuran 460 – 880 centimeter, selesai setelah pengerjaan seksama dari 1495 hingga rampung pada 1498. Bila kita perhatikan dengan seksama, sang Yesus berada sebagai pusat di tengah meja , ke-12 murid berada masing – masing 6 di sebelah kiri dan kanannya. Semua gerakan diperagakan oleh model. Meja tempat mereka berkumpul berada di tengah ruangan secara simetris, dengan sudut pandang sempurna secara perspektif. Bila kita tarik garis lurus masing-masing akan bertemu dalam satu titik. Garis perspektif dipercayai banyak ahli sebagai salah satu kejeniusan Leonardo, ia menemukan metode cara penggambaran secara matematis dan terhitung yang kemudian menjadi acuan menggambar teknik modern. Kita bisa perhatikan konstruksi bangunan ruang, terutama plafon yang berupa grid, serta jendela di sekitarnya.

Lalu kita juga bisa perhatikan meja panjang yang digunakan dalam perjamuan itu. Leonardo menafsirkannya berbeda dengan para pelukis sebelumnya. Meja sepanjang itu mungkin terasa aneh, dan dalam Injil perjanjian Baru tak disebutkan spesifik, tetapi hanya digambarkan Yesus ketika berada di meja perjamuan , dikelilingi ke-12 murid. Kita bisa membayangkan meja ketika jaman Yesus dan muridNya hidup, yang kesehariannya sangat sederhana, bukan sebagai sosok yang berlimpah harta. Perjamuan itu digambarkan dalam sebuah ruangan di sebuah rumah, dan juga tak banyak menarik perhatian, karena memang selalu harus menghindar dari perhatian masyarakat umum kala itu.

Leonardo seolah memberikan makna baru bagi perjamuan itu, sebuah peristiwa suci yang singkat, namun sangat penting, karena pada saat itulah sebenarnya dimulai drama yang akan mengubah sejarah dunia terutama kemunculan Kristiani. Leonardo dalam lukisannya menggambarkan Last Supper begitu megah, dramatik dan teatrikal. Gestur tubuh-tubuh, meja dan ruangan sekitarnya seolah berubah menjadi panggung megah, menjadi peristiwa yang agung. Re-konstruksi ini bagi Leonardo dalam The Last Supper adalah upaya untuk mengapropriasi bentuk-bentuk artefak alegori yang telah diciptakan sebelumnya yang menggambarkan peristiwa ini.

Leonardo Da Vinci merupakan sosok yang melegenda, hampir menjadi mitos dalam dunia seni dan sains, punya banyak misteri, penuh teka-teki dan unik secara personal. Ia dikenal juga dengan temuan-temuan yang mengejutkan banyak sejarawan. Karya the Last Supper merupakan bukti salah satu pencapaian artistik yang ia campur dengan kesempurnaan matematis dan sain. Kita mengenal tiga sosok ahli seni dalam masa awal Renaisans, dua lainnya: Michaelangelo dan Raphael yang banyak hasil karyanya dikenal oleh publik lebih dahulu. Baru pada abad ke-19 para sejarawan kemudian mengenal sebagian karya-karyanya, hingga abad ke-20 ia baru dikenal dunia lewat karya lukisannya Mona Lisa yang sohor dan paling sering direkayasa. 2 Namanya menjadi semakin santer dan semakin populer di abad ke-21 ini, berkat novel fiksi Best-Seller: Da Vinci Code, karya Dan Brown yang sangat kontroversial.

Oleh karena itu, menjadi sangat menarik, ketika perupa muda seperti Pramuhendra mencoba meninjau kembali imaji The Last Supper yang digambarkan Leonardo, dalam suatu proyek khusus. Menarik untuk melihat bagaimana ia mengaitkannya dengan persoalan dalam kehidupan relijiusitasnya sebagai landasan berkarya, juga bagaimana ia harus mengadakan pendekatan terhadap sebuah imaji yang kanonik.

Membedah Last Supper
Dalam pameran bertajuk Tentang Last Supper, ia membentang kanvas tanpa sambungan sepanjang 7 meter dan lebar 1,5 meter. Di sana ia mulai menggambar sosok-sosok potret dirinya sebanyak 13 orang. Sebelum mengeksekusi di kanvas, dengan seksama ia memperhatikan satu persatu sosok-sosok yang muncul dalam karya Leonardo. Ia kemudian memperagakan seluruh gestur dengan tubuhnya sendiri dengan telanjang dada dan kemudian direkam oleh kamera dijital. Foto hasil jepretan tersebut diolah lewat rekayasa komputer untuk menyusun imaji Last Supper-nya. Tak berhenti di situ, Pramuhendra kemudian memakai sebuah baju-berjubah yang biasa digunakan dalam misa gereja, yang juga kira-kira menyerupai pakaian yang ada dalam imaji Leonardo, untuk pose-posenya. Ia bertindak sebagai sutradara sekaligus pemerannya.

Pramuhendra menyeburkan dirinya ke dalam dunia The Last Supper Leonardo, meninjau kembali konstruksi paling dasar imaji. Memperagakannya dan menggantikan sosok-sosok di sana dengan tubuhnya sendiri. Ia bahkan melakukan uji coba untuk melihatnya dari belakang , mencari kemungkinan sudut pandang berbeda. Ia berdialog dengan imaji itu dan seolah mampu menjadi saksi, berada dalam peristiwa itu dan mengelilingi perjamuan suci. Imajinasi dan perilaku kita pada sebuah dunia imaji karya-karya seni dari budaya yang berjarak jauh dari keberadaan serta realitas kita, menjadi sangat beda sejak penemuan mesin cetak dan fotografi. Imaji-imaji karya yang bersemayam di dalam gereja maupun museum, kita bisa lihat dari dekat dan tinjau lebih jauh.

Walter Benjamin, filsuf Yahudi-Jerman yang melankolis, menyebut era modern sebagai zaman di mana kita memasuki dunia pasca-auratik. Pada saat itulah kita tak perlu lagi mengadakan peziarahan yang jauh untuk melihat maha karya atau benda-benda sakral lainnya di dunia. Dengan mesin reproduksi mekanik, mesin cetak dan foto, kita bisa temukan buku-buku lengkap dengan gambar-gambar rinci sehingga informasi tentang dunia yang jauh itu bisa kita khusyuki. 3 Mereka bahkan telah menciptakan museum-museum tanpa dinding atau membentuk dunia virtual di dalam benak kita, seperti yang dilontarkan sastrawan Perancis, André Malraux di tahun 50-an.

Dan sekarang di masa Pramuhendra dan kita hidup, informasi menjadi lebih terbuka dan bisa kita akses dengan cepat, di mana saja melalui internet lewat komputer maupun telepon genggam. Bagi Benjamin ini menjadi problematika baru bagi eksistensi karya-karya tersebut. Nilai-nilai hakikinya tercerabut dari keberadaannya. Keotentikan, dan nilai-nilai yang disakralkan, atau ‘aura’ lenyap. Imaji menjadi milik publik yang luas, kekuatan nilai asali sebuah karya serta-merta hilang, digantikan oleh nilai-nilai yang muncul dari nilai pengamatnya. Lalu siapa sebenarnya yang memegang kendali makna? Pencipta atau pengarangnya atau pembaca ? Bagi kaum posmodernis sang pengarang telah mati serta-merta ketika karya itu dilahirkan.

Pramuhendra, saya dan sebagian dari kita mungkin belum pernah menyaksikan keagungan karya Leonardo secara langsung di Gereja di Milan itu. Tapi imajinya memang akrab dalam benak kita, nilai dan maknanya mendahului eksistensi dirinya sendiri. Pertanyaannya, apakah seseorang berhak untuk menggubah karya orang lain, secara semena-mena atau dimaknai secara berbeda? Metoda pembedahan yang dilakukan Pramuhendra setidaknya mengingatkan saya pada apa yang dilakukan perupa kontemporer dari Jepang, Yasumasa Morimura. Ia sejak awal 1990-an telah memulai proyeknya yang bereaksi terhadap imaji atas lukisan para maestro seni Eropa seperti Vincent Van Gogh, Velasquez , Rembrant dan Gerhard Richter. Ia memotret dirinya dengan dandanan dan berpose seperti pada imaji lukisan-lukisan mereka. Kadang ia harus menggunakan efek komputer untuk menghasilkan gambar, saat ia harus hadir sekaligus dalam jumlah yang banyak, memunculkan sebuah kualitas omnipresence.

Pendekatan apropriasi ini telah dilakukan pula oleh Cindy Sherman lewat karya-karya fotonya dengan melakukan pose-pose tertentu, seperti dalam adegan-adegan film klasik terkenal. Jauh ke belakang, dalam sejarah seni rupa kontemporer barat, Marchel Duchamp dan Salvador Dali pernah juga memarodikan karya Leonardo yang cukup sohor, Mona Lisa. Apropriasi telah menjadi sebuah pendekatan yang menarik bagi seniman dalam menjelajahi imaji, walaupun didasari begitu beragam alasan, mulai dalam rangka menguji diri, mengkritisi hingga parodi. Namun, kesemuanya mengarah kepada persoalan artikulasi untuk menghasilkan perupaan dengan konstruksi makna yang baru, yang sesuai dengan konteks personal dan sosial-budaya masyarakatnya.

Begitu pula kasus potret diri Pramuhendra yang menggantikan keberadaan sosok Yesus dan ke-12 muridnya dalam imaji Leonardo, atau saat ia membayangkan bagaimana Yesus berada di meja itu sendiri tanpa muridnya, membayangkan bagaimana suasana ketika meja itu ditinggalkan setelah perjamuan itu berakhir. Penggambaran tentang sosok Yesus tentu bukan tradisi yang baru, sudah ratusan tahun dan bahkan beberapa dimaknai secara berbeda, seperti imaji Yesus sebagai sosok yang berkulit hitam, sebagai orang kulit putih atau Asia. Hasrat seseorang untuk menafsirkan ulang karya seni yang punya makna khusus baginya merupakan alasan yang paling kuat, terutama berhubungan dengan pencarian nilai-nilai spiritual dan religiositas dalam konteks sosial-budaya.

Hasrat yang kurang lebih sama mungkin muncul dalam diri Leonardo ketika menciptakan The Last Supper, terutama ketika melihat berbagai ikonografi lainnya. Apakah mungkin imaji sosok-sosok di sana juga merepresentasikan kehadiran diri sang maestro, adakah potret diri Leonardo tergambar secara tersembunyi? Apakah ia menyisipkan nilai-nilai individu di sana? Konteks kehidupan gereja pada saat itu hampir pasti melarang penggambaran diri sang seniman dalam penciptaan ikonografi di dalam institusi gereja maupun istana. Inilah salah satu teka-teki sosok Leonardo terutama bagi para penafsir kontemporer, seperti halnya Dan Brown.

Bagi seniman, tradisi penggambaran diri atau potret diri, tidak hanya dipakai untuk menguji eksistensi psikologis dirinya, atau semacam visual autobiografi, tapi juga menjadi cerminan persoalan eksternal yang berkecamuk ke dalam dirinya. Potret diri menjadi penting, karena kita bisa melihat persoalan-persoalan lain lewat problema individu dalam konteks yang terkait di luar dirinya . Kita juga sering melihat berbagai pose dan raut wajah ironis Agus Suwage yang secara intens menangkap pokok-soal identitas dalam masyarakat, sembari terjun dan berenang dalam dunia imaji yang populer dan ikonik. Memang sang seniman selalu merenungkan nilai subtil tentang keberadaan dirinya di tengah jaman dan kehidupan. Seniman seolah menjadi antena yang mengalirkan sinyal berbagai problema jamannya. Kita telah memiliki tradisi ini, sejak Raden Saleh, ketika hampir dua abad lampau ia menyaksikan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda, menirunya dan menyisipkan imaji dirinya dalam lukisannya sebagai suatu resistensi terhadap wacana kolonial. 4

Bedanya, kekaryaan Pramuhendra lebih menusuk pada pokok soal dalam religiositas personal. Menafsirkan kembali makna dari peristiwa perjamuan terakhir melalui kemunculan dirinya sebagai perwakilan dari manusia sekarang. Ia seolah mengajak kita untuk merenungkan watak tiap karakter yang disimbolkan melalui ke 13 sosok itu, sebagai re-kontekstualisasi nilai-nilai yang terpancar dalam kitab Injil. Potret dirinya muncul sebagai perwakilan dari watak manusia yang pernah ia munculkan dalam karya-karyanya di tahun 2007. Dalam serial karya yang diberi tema Seven, sebagai suatu karya alegori dari tujuh dosa manusia (seven deadly sin), ia muncul menjadi tujuh sosok yang berjejer secara rampak dengan imaji yang baur. Dalam diri Pramuhendra tentu kehidupan religi menjadi titik keberangkatan yang paling inti. Ia tidak terhenti sebagai dogma serta ritual yang rutin, tapi berkembang menjadi pemaknaan yang lebih personal dan konstruktif.

Meskipun tak harus seperti Mel Gibson yang berupaya secara radikal menghadirkan kembali alegori penggalan kehidupan Yesus dalam konteks muasal dan menghadirkan kesakitan yang brutal, seperti dalam filmya Passion of Christ, dalam menghampiri subjek Last Supper, Pramuhendra bekerja dengan logika filmis. Ia seolah membawa kamera dalam lorong waktu, menghadiri dan mengelilingi imaji itu dari berbagai sudut pandang, dengan memasuki dunia Leonardo. Sembari berdialog, ia mencoba mengamati satu persatu wataknya, gesturnya, dan kemudian keluar dari sana untuk kemudian kembali lagi untuk mengganti peran mereka. Kita bisa melihat karya dengan potret dirinya di meja sendiri, sebagai gestur Yesus Kristus yang menunggu ke-12 muridnya datang, menunggu dan berpikir menghadapi mereka untuk menceritakan isyarat Sang Khalik, atau ia hanya sosok Pramuhendra yang tetap diam di sana ketika perjamuan telah usai, seolah menjadi saksi atas seluruh peristiwa tersebut bersama jejak-jejak yang tersisa di atas meja.

Di sinilah konsep inkarnasi dalam kepercayaan agama ia serap dan diartikulasikan lebih jauh lagi. Sosok-sosok dirinya yang sedang menopang sebuah cawan besar menjadi suatu simbol spiritual, tempat terepresentasikan suatu beban dirinya. Cawan sang Yesus menjadi alegori bagi diri Pramuhendra, menjadi kelanjutan tafsirannya atas tanda-tanda yang di isyaratkan dalam Alkitab. Cawan itu menjadi saksi atas janji suci, sebuah pengorbanan diri yang harus diemban tiap murid dan umat-Nya, yang menerima dan melanjutkan ajaran-ajarannya. Pramuhendra juga menggantikan nilai pengorbanan sang Yesus dengan menghadirkan cetakan sepatunya dengan membuat lubang bekas paku menembus telapak. Sepatu yang dihadirkan bukanlah sepatu masa ketika Yesus hidup, atau menghadirkan telapak kaki Nya yang luka bolong bekas paku di kayu salib, tapi sepatu kets olah raga yang Pramuhendra gunakan sehari-hari. Simbolisasi yang dilakukan Pramuhendra tentang pengorbanan merupakan upaya tafsiran yang melampaui konteks perjamuan terakhirnya Leonardo menuju pada suatu ungkapan yang personal atas nilai serta drama sang Yesus.

Penutup
Dengan karya-karya yang seluruhnya bernuansa hitam putih: arang di atas kanvas, Foto-dijital, objek dan instalasi serta objek-objeknya, Pramuhendra menghadirkan suasana yang enigmatik dan menciptakan nuansa klasik. Hitam-putihnya juga menyediakan ruang, tempat tersedia spektrum ketegasan gelap-terang, dan tempat kekaburan abu-abu semakin terasa haru juga mendalam dalam kesederhanaannya. Keterampilannya dalam menggambar tak lagi menghalanginya dalam menghadirkan sebuah drama senja sang Yesus. Olahan foto-dijital sebagai acuan seolah terlumat oleh garis-garis hitam pekat yang ia pindahkan ke atas kanvas dengan penuh intensitas. Meski demikian, foto-foto dijitalnya pun tak kurang bernilai dalam menyampaikan sebuah gagasan. Olahan fotografi dengan perangkat lunak komputer dengan lugas bisa memberikan gambaran tentang konsepsi sang seniman dengan jernih.

Kerja artistik Pramuhendra mampu memberikan arti baru pada drawing, karena kepekaannya terhadap medium, berhasil membangkitkan estetika yang begitu mendasar, yakni kekuatan rasa terhadap realitas yang kompleks melalui sebatang arang hitam. Ini adalah suatu kekuatan primitif yang terdorong oleh konstruksi imaji mutakhir. Inilah suatu yang menarik dari para perupa abad informasi. Walaupun kemampuan fotografi dan komputer bisa saja menumpulkan keterampilan tangan dan dikhawatirkan membunuh praktik seni lukis, namun perupa dan kurator Asmudjo J. Irianto pernah kemukakan bahwa seni lukis tak pernah mengalami usang. Dalam konteks perkembangan seni rupa mutakhir yang diyakini bisa berupa apapun dan mengenai apapun, maka dengan serta merta seni lukis menjadi bagian sah di dalamnya—seperti juga segala medium dan kemungkinan lain. 5 Begitupun drawing Pramuhendra, ia seolah tampil namun dengan sikap yang berbeda, tak terjebak cara-cara lama.

Pendekatan dengan metode yang dilakukan Pramuhendra menjadi semakin menarik dalam konteks perkembangan seni rupa di Indonesia, saat kondisi jaman pasca industri dan pasca kolonial menyediakan keluasan dan kebebasan penjelajahan berbagai imaji dalam ruang yang lebih personal. Pembedahan menyeluruh yang dilakukannya terhadap imaji Last Supper berupaya meninjau kembali dan melampaui mitos-mitos yang menyelubungi maha karya Leonardo dan sekaligus makna dari drama perjamuan terakhir. Ia mengajak kita pada petualangan spiritual dan perenungan terhadap sebuah kejadian sejarah dalam ruang imajinasi yang konstruktif dan kritis, bukan untuk menolak atau melemahkan keberadaan dan nilai-nilainya, tapi untuk membangun konstruksinya yang baru dan memberinya ruang dan ruh yang segar dalam keberlangsungan kehidupan kita saat ini dan masa depannya. ***

Jakarta , Maret 2008

Footnotes:

1. New American Bible

2. Donald Sasoon in Mona Lisa, The History of the World’s Most Famous Painting (Harper Collins Publisher. 2002) especially on the chapter Cult of Leonardo, pp. 61 – 93.

3. Read the classic essay of Walter Benjamin, The Work of Art In The Age of Mechanical Reproduction, in Illuminations: Essay and Reflections, edited by Hannah Arendt, Shocken Book, New York, 1969, pp. 217 – 251.

4. See the introduction on the exhibition of On Appropriation by Rifky Effendy, Galeri Semarang, 2007.

5. Asmudjo J. Irianto’s statement in the curatorial note of Digital Realisme, Cemara 6 Galeri, Jakarta, 2007. Website: http://cemara6galeri.wordpress.com/previous-year-events/event-2007/digital-realism-on-line-catalogue/

source: http://cemara6galeri.wordpress.com/event-2008/online-catalogue-on-last-supper-by-ja-pramuhendra/

Biography
Born in Semarang, August 13th 1984

BFA, Printmaking Major, Art Dept. Bandung Institute of Technology (ITB), Bandung, 2007

Solo Exhibitions
2009
Spacing Identities : Part Two, mapping Asia – CIGE 2009, Beijing, China, Galeri Canna
2008
On Last Supper, Cemara 6 Galeri, Jakarta

Selected Group Exhibitions
2009
Bandung Art Now”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta
2008
Manifesto”, Galeri Nasional, Jakarta
Bandung New Emergence”, Selasar Sunaryo, Bandung
Space/Spacing”, Semarang Art Gallery, Semarang
Searching in Red and Black”, Langgeng Icon, Jakarta
On Last Supper” Cemara 6 Galeri, Jakarta
CIGE, Beijing
B-Invasion” Galeri Canna, Jakarta
2007
Petisi Bandung” Galeri Langgeng Magelang.
Errata – Optika, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
On Appropiation, Galeri Semarang, Semarang
Preview Bandung New Artist, Cemara 6 gallery, Jakarta
Seven, Galeri Soemardja, Bandung
2006
Re: Siapakah Aku (Exhibition on Khazanah The 12th International Biennial Print and Drawing Exhibition, National Taiwan Museum of Fine Arts.
2005
Tubuh dalam Drwaing, Ci + Gallery, Bandung
Human+Space, Galeri Soemardja, Bandung
2004
Pabrik Artifisial, Kedai Kebun Forum Gallery, Yogyakarta
SM 3025, Galeri Soemardja, Bandung
2002
Ekologi Demokrasi, Lebak Siliwangi, Bandung
2002
INkUBAsi, Aula Timur ITB, Bandung

Award
2003
Honorable Mention, Drawing Award, The 12th International Biennial Print and Drawing Exhibition, National Taiwan Museum of Fine Arts.


The Last Supper Performed
225 x 48.9 cm
digital print


Artists