
She will be strips down for her three-page spread inside the magazine — posing in a bunch of sexy cartoon lingerie. So get your November issue of Playboy 2009.

Terikat Tubuh, 170×170, Acrylic on Canvas, 2009, Nico Rikardi

140×140, Acrylic On Canvas, 2009, NasyaPatrini
With these latest sculptures from his ongoing Everyone series, Rodney Glick – an Australian artist – presents us with a strange and intriguing cultural mix. The works are loosely based on Indian Hindu paintings from the 18th and 19th centuries. [Curatorial] [Exhibition Detail]
12 Photos
Pada tahun ini, Program Seni Rupa SVF direncanakan mengambil bentuk yang berbeda dari dua program sebelumnya. Program Seni Rupa SVF 2009 akan menghadirkan karya seni rupa publik (public artworks). Sejumlah seniman terpilih akan diundang untuk merespons ruang-ruang publik di kawasan Sanur dengan karya maupun aktivitas artistik mereka.
Program Seni Rupa SVF 2009 akan menampilkan gabungan antara karya seni di ruang terbuka (outdoor) dan suasana keseharian desa pesisir Sanur. Mengetengahkan karya-karya kontemporer yang dirancang untuk memiliki kaitan visual maupun fisik dengan lingkungan pantai dan laut (marine) Sanur.
Dihadirkan di kolong langit, di kawasan tepi laut, di tengah aktivitas keseharian warga dan lalu-lalang pengunjung Sanur, karya-karya seni inovatif diharapkan menciptakan suasana artistik yang unik di kawasan wisata terkenal ini.
Enam perupa dengan aneka latar-belakang kultural sepakat memilih ungkapan yang unik, “Neng Nong Neng Pur”, sebagai judul pameran mereka. “Neng Nong Neng Pur” adalah sebuah onomatopoeia yang menirukan bunyi orkestra tradisional gamelan Bali. Dalam sebuah orkestra, keindahan musikal dibangun oleh harmoni unsur-unsur bunyi yang berbeda antara satu sama lain. Beragam alat musik dengan kekhasan bunyinya masing-masing dimainkan secara kolektif dan harmonis, menghasilkan irama yang enak dinikmati.
Demikian pula spirit pameran ini. Pameran “Neng Nong Neng Pur” mengetengahkan karya-karya yang membawakan estetika dan kecenderungan artistik personal masing-masing perupa. Lukisan setiap perupa berlainan dalam hal konsep, tema maupun gaya. Namun mereka dipersatukan oleh semangat kebersamaan yang mengatasi perbedaan. Pameran “Neng Nong Neng Pur” mempromosikan perbedaan sebagai kekuatan yang produktif dan inspiratif. Analog dengan orkestra gamelan Bali, pameran ini ingin mengajak publik untuk mengapresiasi keragaman. Continue Reading →
“\THE SECRET GARDEN\”
“But to go deeper, beneath what people said (and these judgements, how superficial, how fragmentary they are!) in her own mind now, what did it mean to her, this thing she called life? Oh, it was very queer. Here was So-and-so in South Kensington; some one up in Bayswater; and somebody else, say, in Mayfair. And she felt quite continuously a sense of their existence and she felt what a waste; and she felt what a pity; and she felt if only they could be brought together; so she did it. And it was an offering; to combine, to create…”
- Mrs. Dall oway, Virginia Wolf, 1925
The first word in the title is a play of words. The term Fools’lore does not exist in the English vocabulary as a single or hyphenated word. Here, it is introduced as a parody of Folklore. The understanding of ‘fool’ here finds its equivalent in the Bahasa Indonesia concept of pandir: stupid, idiotic, humorous, but not without charm. Fools’lore is an epic created by Indieguerillas.
The storylines of fools’lore were born from the artists’ experiences in engaging folklore. Indieguerillas took it as their mission to re-load various traditional folk tales into the contemporary art scene. This intentional reload process is aimed towards unpredictable effects and sensations. These results are achieved through combining signs, compositions, characterization of figures created (or re-created). It is not only done in a single media, but also intermedia. Through this reload process, they grasp an opportunity to present their versions of history. Their attitude is staunch: they refuse to be dictated by history while at the same time responding to and thriving within the popular culture that upholds temporal appearances. In many ways, this fools’lore project is subversive.
As if anxious of the insecurities and uncertainties of life’s impermanency, people seek principles to hold on to. One of their choices is to believe in mythologies. Disregarding authenticity and accuracy of a myth, folk tales are considered reliable by many as guidance for daily life, even among modern society. Myth blends itself into daily activities. Like a mirror, in myth we often find a semblance of precision, compatibility, and similarity between our characters and those in the traditional shadow puppet stories. As the industry of popular-culture grows, heritage such as traditional shadow puppetry is pushed aside, diminishing in popularity. Many folk tales are in danger of dying. They lay asunder, often neglected between a waning past and the people’s pressing needs for signs that hold the promise of fresh forms.
Embroidery and manga are an unlikely match, but in Kirsty Ludbrook’s large-scale silk artworks, the painstaking technique is used to preserve the fleeting moment they depict.
Intricately hand-stitched, the embroideries are appliquéd into graphic compositions that each describe a single, reflective instant. Paintings on the same scale investigate different sensations of the moment, as Ludbrook manipulates paint to explore motion. Together the series of ‘storyboard’ frames build a sense of repetitive motion around the exhibition space.
Interested in the ways we attain knowledge of ourselves, Ludbrook here explores the simple moments of reflection in which understanding comes to us. ‘The Frames in Between’ – the undrawn frames in a storyboard – are those she believes are the most significant in the pursuit of self-knowledge. Continue Reading →
Bangsa Khazar adalah metafora untuk sekelompok kecil manusia yang bertahan di antara kekuatan-kekuatan adidaya dan agama-agama besar. Pada akhir abad kesepuluh, bangsa ini hilang dari peta kebudayaan dunia. Masih banyak hal belum diketahui tentang bangsa ini.
Novel ini menjajaki dan menyingkap Polemik Khazar secara cerdas dan jenaka. Kamus Khazar menyajikan perpaduan yang menarik antara fiksi dan nonfiksi. Pembaca akan disuguhi berjibun anekdot khas cerita rakyat. Continue Reading →
Namun, novel ini berformat kamus mirip ensiklopedia mungil yang menggabungkan referensi silang dari tiga agama (Kristen, Islam, dan Yahudi). Layaknya membuka kamus, pembaca dapat memulai dari bagian mana saja—”Kitab Merah” untuk sumber Kristen, “Kitab Hijau” untuk sumber Islam, dan “Kitab Kuning” untuk sumber Yahudi—bukan melulu dari depan ke belakang.
Pameran ini menampilkan sosok semar dalam berbagai bentuk,simbol, gaya, ekspresi,aksesoris yang digarap secara cermat dan artistik. Semar yang merupakan putra Sang Hyang Wisesa atau dalam filosofi budaya Jawa juga disebut Badranaya memiliki karisma yang kuat untuk memberi tauladan agar selalu ingat terhadap Sang Pencipta, menyayangi sesama umat, serta menegakan keadilan dan kebenaran di bumi. Semar dikenal memiliki anugerah mustika manik astagina yang memiliki delapa daya, yang membuat dirinya tidak pernah lapar, mengantuk, jatuh cinta, bersedih, merasa capek, sakit, serta tidak pernah kepanasan dan kedinginan.
Selain keramik 30 Semar karya F Widayanto juga ditampilkan wayang kulit dan wayang golek Semar koleksi Greg Churchil