DEMI GENGSI-KONSUMTIF
Curated by Tommy Awuy
Suatu kecenderungan yang demikian kuat pada budaya urban adalah ”bungkusan” (packaging). Hal ini dimulai dari hasrat untuk memberikan sebuah penampilan yang menarik secara estetik dan mengejutkan selain untuk memproteksi. Namun langkah demi langkah makna bungkusan yang dianggap sebagai atribut ini sekarang berubah menjadi substansial. Bungkusan bukan lagi merupakan suatu wujud tindakan lanjut melainkan langkah awal bagi perwujudan sesuatu,
Continue Reading →
A solo exhibition by Soni Irawan
Reviewed by Alia Swastika
JIKA seni adalah sebuah cara untuk mengada, saya kira, dengan cara tertentu, Soni Irawan, menghayati pandangan tersebut sepenuhnya. Di luar makin tidak populernya cara pandang yang romantik atas peran dan perilaku seniman (terutama berkaitan dengan tindak kesenimanan),
Continue Reading →
Pameran-pameran senirupa kini, sudah menjadi kian umum Continue Reading →
membawa sebuah tajuk berdasarkan tema-tema tertentu, dan membuat pameran tersebut menjadi “pameran pernyataan”. Ini terjadi untuk pameran tunggal maupun pameran bersama. Tetapi sering juga terjadi, antara tajuk pameran dengan karya yang dipamerkan, ternyata tidak cukup terjadi kaitan signifikan antara keduanya. Ini hanya semacam prolog ringan untuk mengantar pintu masuk pameran Oasis To Be ini. Kenapa Oasis To Be? Ada tiga hal yang ingin dipertemukan di sini, untuk membangun narasi pameran ini:
Starting the year of 2010, We – Srisasanti Syndicate will presents a Solo Exhibition of visual art entitled “Immortal War”, featuring two-dimensional works of art from Fazar Roma Agung Wibisono, a talented young artist from Bandung, West Java. Fazar will features approximately 21 of his amazing paintings and one of the very latest presentations of our contemporary art. The curator of this exhibition is a young curator who also came from Bandung,
Continue Reading →
BAYI DALAM KONSTRUKSI KEGAIRAHAN
Tommy F Awuy
Bilamana seseorang disebut bayi sebenarnya masih belum memiliki definisi umum dan setepat-tepatnya. Namun orang pada umumnya menyangka, bahwa sebutan bayi itu dikenakan pada seorang anak yang baru lahir hingga sekitar 5 tahun. Masa di mana seorang anak dirawat dengan ekstra hati-hati bagi segenap keberadaan dirinya. Dan dari perawatan pada sekitar usia tersebut bisa menandakan akan seperti apa jadinya sang anak kelak
Continue Reading →
MELACAK RUANG SPIRITUAL DAN PENDALAMAN NILAI ESTETIKA SEBAGAI MANIFESTASI PROSES KREATIF
Deteritorialisasi spiritual adalah kehidupan spiritualitas yang tanpa kedudukan, kepastian atau ketetapan. Hidup mengalir mengikuti energinya sendiri, dalam keseketikaan dan kesesaatan yang terus-menerus, tanpa ada konsistensi menuju pada sebuah tujuan yang pasti.
[Guattari]
Pengembaraan perenungan dan pemikiran seorang seniman dalam beberapa sisi tinjauan teks mengenai soulscape tampaknya seperti sebuah proyek ambisius. Betapa tidak, subject matter yang menjadi bingkai proses kreatif sekaligus dasar-dasar pemikirannya adalah jiwa.
Continue Reading →
NOL, dari tiada kembali ke tiada
Kata “NOL” dalam pengertian umum mengacu pada kata “kosong, nihil, atau tidak bernilai”. Atau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, NOL berarti “bilangan persiapan sebelum memasuki tingkat pertama di urutan kelas; tidak ada kenyataan”. Atau menurut Merriam Webster Dictionary “the number between the set of all negative numbers and the set of all positive numbers; an insignificant person or thing; a state of total absence or neutrality”.
Continue Reading →
SHOPASSION
A Sujarwo solo painting exhibition
NARASI SEBUAH HASRAT
Pameran Lukisan Sujarwo yang bertema SHOPASSION ini boleh dikatakan adalah lanjutan dari pameran tunggalnya yang pertama bertema SHOPPING MALL & FASHION, di galeri yang sama, setahun yang lalu. Kali ini Sujarwo lebih memfokuskan kegiatan berbelanja daripada suasana shopping mall itu sendiri. Mengeksplorasi obyek atau tema seperti ini tentu saja dilakukan dengan suatu kesadaran akan realitas kekinian di mana kegiatan berbelanja sudah merupakan bagian terpenting bagi life style kelas menengah urban.
Continue Reading →
“The body seals and conceals a hidden language, and language forms a glorious body” [1]
I was very much impressed by the images of fragile wings in two of Lie Fhung’s exhibitions, spread across 2005 –2008 in two different venues in Jakarta. In the exhibition of “flight” (CP Artspace, Jakarta, 2005), the partially-glazed, tiny porcelain wings appeared as if in mid-flight. Before the dark background, these objects resembled a constellation of silent stars or twinkling fireflies that slowly moved away from sight.
Some of the times, the objects seemed to find themselves unlucky, “lost” in empty bottles that were hung upside-down, seemingly falling downward and swaying from the ceiling of the exhibition space. The wings were caught in spiraling steel wires that created an impression of complexity or distortion. The strong steel ties carried us downward to earth while the blackened background brought us to an unlimited horizon of adventure. Did the coupled wings represent the eternal soul of lovers?
Continue Reading →
“This exhibition marks a truly important point of my career. Although I have exhibited internationally in the past, it is the first time I’m showing work in Indonesia. I have quite an eclectic background; born in New York, our Balinese family lived in Indonesia, Singapore, America and the UK. Growing up I developed quite a strong affinity to Bali, considered it as one of my many ‘homes’ and quickly learnt that ‘identity’ was neither fixed nor stable. ‘Identity’ was not about where you lived or about where your parents came from; rather it was about developing a series of differences; establishing a role in the world that was culturally constructed, wholly transient and constantly changing in relation to a globalised economy.”
Sponsored by the British Council UK, London based artist Sinta Tantra, acclaimed for her public artworks and installations, stages her first major international solo show this November in Indonesia’s prestigious Gaya Art Space. The exhibition explores ideas surrounding fantasy and identity; simultaneously celebrating as well as deconstructing surface surface sheen, seduction and faith in artifice.
Continue Reading →
TENGANAN
Oleh Hardiman
Tradisi selalu membedakan antara ‘orang dalam’ dan
‘orang luar’, karena partisipasi dalam ritual dan penerimaan terhadap kebenaran formulatif adalah syarat
bagi keberadaan tradisi.
Anthony Giddens, 2003.
PANDANGAN Giddens seperti yang dikutip di atas, segera menyeret ingatan kita pada Bali. Betapa tidak, pulau yang dicitrakan sebagai ‘sorga terakhir’ ini hingga hari-hari ini masih memelihara tradisi di tengah gemuruhnya kebudayaan global. Tentu saja ada sejumlah latar belakang yang menjadikan Bali mempertahankan tradisinya dengan jalan tradisionalisasi diri. Tak pelak, ini terkait dengan sejarah pencitraan terhadap Bali. Banyak dicatat bahwa Aermoundt Lintgens, pelaut Belanda, orang asing pertama yang menjejakkan kaki di Kuta, Bali, Februari 1597. Ia bersama Emanuel Roodenburch, seorang yang berkebangsaan Portugis, melukiskan alam dan manusia Bali sebagai sorga terakhir (the last paradise). Catatan perjalan ini kemudian dipakai Helen Eva Yates untuk membuat semacam panduan tahun 1914 yang digunakan Koninklijk Paketvaart Maatschapij untuk menggaet turis Belanda ke Bali.
Continue Reading →
Menapak jejak langkah Sang Maestro Fotografi Fendi Siregar
Menelusuri ruang demi ruang kerja kreatif fotografer Fendi Siregar terasa mampu membangkitkan kepekaan kita akan nuansa seni yang bernilai tinggi dalam sajian atmosfer yang berbeda. Kita seolah olah diajak bersama menjelajahi perjalanan kehidupan dunia fotografi Fendi Siregar yang sejak lama digelutinya semenjak Fendi mengenal kamera di usia muda 5 tahun akibat kedekatan dengan ayahnya yang menggemari dunia fotografi.
Seiring berjalannya waktu kemahiran dalam penguasaan dunia fotografi berkembang pesat dan menjadi starting point dibidang fotografi saat Fendi Siregar mengawali kuliahnya di Fakultas Komunikasi Universitas Pajajaran/ UNPAD, Bandung tahun 1969.
Continue Reading →