Sebelah Mata

Sebelah MataMenapak jejak langkah Sang Maestro Fotografi Fendi Siregar

Menelusuri ruang demi ruang kerja kreatif fotografer Fendi Siregar terasa mampu membangkitkan kepekaan kita akan nuansa seni yang bernilai tinggi dalam sajian atmosfer yang berbeda. Kita seolah olah diajak bersama menjelajahi perjalanan kehidupan dunia fotografi Fendi Siregar yang sejak lama digelutinya semenjak Fendi mengenal kamera di usia muda 5 tahun akibat kedekatan dengan ayahnya yang menggemari dunia fotografi.

Seiring berjalannya waktu kemahiran dalam penguasaan dunia fotografi berkembang pesat dan menjadi starting point dibidang fotografi saat Fendi Siregar mengawali kuliahnya di Fakultas Komunikasi Universitas Pajajaran/ UNPAD, Bandung tahun 1969.

Continue Reading →

SORRY, NO CANVAS TODAY

SORRY, NO CANVAS TODAY“Painting is distressing.” – Hahan1)

“ …I consider music art because and when I say ‘that song is art’, I don’t mean in comparison to a painting because I feel the visual arts are not nearly as sacred as the transcribed or audio communications, but it is art and I feel this society somewhere has lost its sense of what art is. Art is expression, in expression you need 100% full freedom and our freedom to express our Art is seriously being fucked with. –Kurt Cobain 2)

The face of a mischievous Javanese young man appeared on the cover of the Surat Cemeti, a bulletin of the Cemeti Art Foundation, Yogyakarta, in its November 2005 – January 2006 edition. The oval face is tilted slightly to the right, sneering cynically; the crazy, curly hair swells, looking like a bird’s nest;

Continue Reading →

Midori Hirota Exchange Project “Memory of Asia”

Memory of AsiaMEMORI PERANG DAN PERTOBATAN ALA MIDORI
by Jean Couteau

Sudah bertahun-tahun sosok wanita ini menjadi bagian dari dunia seni rupa Indonesia. Di Bali dan Yogyakarta, sedikit seniman muda yang belum mengenal senyum terbukanya dan belum mendengar ketawanya yang segar itu. Memang, kita semua tahu bahwa dia membuat instalasi dan “patung” melalui mana filsafat kosmis Hindu-Bali dan Jepang bertemu dan saling resapi, tetapi

Continue Reading →

Punching The Devil – Curatorial

Punching The DevilNew works from Rodney Glick’s Everyone series. With these latest sculptures from his ongoing Everyone series, Rodney Glick presents us with a strange and intriguing cultural mix. The works are loosely based on Indian Hindu paintings from the 18th and 19th centuries. Glick has staged certain scenarios depicted in these paintings using Australian models, and these scenarios have then been photographed and digitally altered. The resulting manipulated images are exhibited as framed digital prints in their own right. These composite images also serve as source material for the Balinese woodcarvers and painters who have created these sculptures, with Glick providing direction and making the artistic decisions.

Continue Reading →

TERRORANCE TOLERISM

TERRORANCE TOLERISMSeni Lukis I Ketut Teler
MEMAKNAI TERORISME & TOLERANSI
Oleh Arif Bagus Prasetyo

11 September 2001. Sepasang pesawat terbang komersial dibajak segerombolan teroris, lalu menerjang dan meluluhlantakkan gedung menara kembar World Trade Center (WTC) di jantung New York City, Amerika Serikat. Hampir tiga ribu manusia binasa. Paman Sam tersentak bangun dari singgasananya yang nyaman, terbelalak tak percaya teror mampu menembus tubuhnya yang imun. Dan sejak itu

Continue Reading →

Allegorical Flatness Painting

Allegorical Flatness PaintingALLEGORICAL FLATNESS PAINTING
A Solo Exhibition by Ito Joyoatmojo

Talking about flatness in contemporary painting practice obviously feels awkward and absurd. The contemporary painting has shown its function as a representation media, has it not? The canvas surface of painting in the contemporary art era is loaded with many narration and problems from outside the art region. The contemporary art no longer has any interest in questioning itself. The defenders of

Continue Reading →

Pameran Tunggal Totok Buchori “MEGAPHONOLOGY”

"MEGAPHONOLOGY"Tamasya Surealistik Kaum Terpinggirkan
(Wawancara dgn Totok Buchori oleh Kuss Indarto)

MEMAHAMI proses kreatif adalah sesuatu hal yang penting dalam melihat segi paling holistic dari karya. Terlebih lagi pada sosok perupa. Bagaimanapun karya yang lahir tidak bisa dilepaskan dari keterkaitan proses kreatif yang bernilai sebagai sejarah tersendiri.

Totok Buchori boleh jadi adalah perupa yang dalam era booming kemarin tidak ikut muncul dalam posisi yang sangat diuntungkan. Namun bukan berarti ia stagnan, atau tak lagi mempunyai mesiu kreatif. Pameran tunggalnya ini membuktikan bahwa ia masih tetap konsisten mengeksplorasi titik pijak surealistik dalam karya-karyanya sebagaimana trade mark yang melekat pada dirinya semenjak tahun 1980-an. Itulah yang juga membuatnya cukup diperhitungkan dalam khazanah percaturan dunia seni rupa Indonesia.

Continue Reading →

NENG NONG NENG PUR

6 EKSPRESI DALAM HARMONI

Kemarin, Hari ini dan EsokEnam perupa dengan aneka latar-belakang kultural sepakat memilih ungkapan yang unik, “Neng Nong Neng Pur”, sebagai judul pameran mereka. “Neng Nong Neng Pur” adalah sebuah onomatopoeia yang menirukan bunyi orkestra tradisional gamelan Bali. Dalam sebuah orkestra, keindahan musikal dibangun oleh harmoni unsur-unsur bunyi yang berbeda antara satu sama lain. Beragam alat musik dengan kekhasan bunyinya masing-masing dimainkan secara kolektif dan harmonis, menghasilkan irama yang enak dinikmati.

Demikian pula spirit pameran ini. Pameran “Neng Nong Neng Pur” mengetengahkan karya-karya yang membawakan estetika dan kecenderungan artistik personal masing-masing perupa. Lukisan setiap perupa berlainan dalam hal konsep, tema maupun gaya. Namun mereka dipersatukan oleh semangat kebersamaan yang mengatasi perbedaan. Pameran “Neng Nong Neng Pur” mempromosikan perbedaan sebagai kekuatan yang produktif dan inspiratif. Analog dengan orkestra gamelan Bali, pameran ini ingin mengajak publik untuk mengapresiasi keragaman.

Continue Reading →

SAFARI A SOLO EXHIBITION BY AGAN HARAHAP

SAFARI A SOLO EXHIBITION BY AGAN HARAHAPSAFARI YANG MEMANIPULASI IMAJINASI
Oleh Brigitta Isabella

Apa yang akan anda lakukan jika tiba-tiba, saat sedang sembunyi-sembuyi membuka situs facebook di kantor, ada seekor komodo yang sedang mencari mangsa, tepat di belakang punggung anda? Atau bagaimana reaksi anda jika saat sedang asik menyantap Big Mac di McDonald, anda melihat seekor dinosaurus yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar? Apa pula yang akan anda katakan, saat sehabis berbelanja seharian di mal dan menuju parkiran, ada seekor beruang yang tengah mendekati mobil anda?

Saya rasa, jika anda tidak berprofesi sebagai penjinak binatang, anda akan mengucek-ngucek mata dengan heran, berteriak atau malah lari terbirit-birit. Bisa juga, anda malah mengira sedang dikerjain di sebuah acara televisi.

Continue Reading →

Jogja Art Fair #2 (curatorial)

Jogja Art Fair #2

Spacing Contemporary

Jogja Art Fair # 2

Dalam tempo tiga tahun, setidaknya terjadi pertumbuhan luar biasa cepat di ruang sosial seni rupa kontemporer Indonesia. Galeri-galeri baru bermunculan; seniman-seniman muda mengemuka melalui pameran-pameran dengan produktifitas karya yang cukup besar. Di saat bersamaan muncul pluralitas pada tema, teknik dan pemanfaatan material. Kini kita memang menyaksikan penciptaan gubahan-gubahan artistik baru – di antaranya bahkan mengusung karya alternatif.

Yang menarik dari fenomena itu adalah terjadinya penciptaan karya-karya yang mencairkan pelbagai konvensi seni sebelumnya, melebarkan minat-minat baru, meleburkan batas-batas – hirarki, baik dari perspektif kesejarahan maupun generasi. Cepat atau lambat, kita akan menerima situasi ini apa adanya, sebab memunculkan banyak hal yang positif. Apalagi, situasi demikian semakin kondusif seiring dengan transparansi pada wilayah pasar di mana transaksi-transaksi karya seni muncul sebagai berita utama dan publik secara leluasa mengetahui harga jual karya seorang seniman.

Di dalam intrik internalnya, percepatan ini tentu saja melahirkan kritik yang layak dicermati: bahwa kita seakan telah meninggalkan masa-masa yang penuh keteraturan (order) menuju percepatan, sedemikian rupa sehingga

Continue Reading →

HERI-DONOLOGY (curatorial)

HERI-DONOLOGY
Pengantar Kuratorial oleh Mikke Susanto

Sepanjang hampir 30 tahun Heri Dono telah berkiprah di dunia seni rupa. Ia mengaku memulai aktivitas seninya ketika ia masih berusia 17 tahun (ia dilahirkan 1960). Di usia 20 tahun ia belajar secara formal di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta. Di tahun 1982 sembari berkarya melukis–baik untuk tugas kuliah maupun bukan–ia menggelar seni eksperimental di Pantai Parangtritis. Inilah agenda pertamanya yang menjadi pintu bagi dirinya. Meski bukan program berskala besar, ia sendiri menyatakan dan selalu mencantumkan agenda di pantai pesisir selatan Jawa itu dalam setiap pernyataan biodatanya.

Setelahnya itu, hampir setiap tahun ia melakukan aktivitas seni yang melahirkan lompatan nilai, baik pada aspek artistik maupun ide. Hingga kini setidaknya ia telah melakukan hampir 25 kali lebih pameran tunggal, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain pameran tunggal ia juga ikut serta dalam pelbagai program penting dunia seperti biennal dan agenda-agenda pameran di museum serta galeri terkemuka dunia. Prestasi internasionalnya tak perlu diragukan lagi. Kerja internasional pertamanya dilakukan di tahun 1990-91 dengan melakukan International Artist Exchange Program di Basel, Swiss.

Berlanjut di tahun berikutnya program pameran berskala internasional diikutinya. Dalam curriculum vitae-nya tercatat telah mengikuti 50-an program penting internasional, diantaranya biennale tertua di dunia, Venice

Continue Reading →

The Frames In Between

Artis : Kirsty Ludbrook

“\THE SECRET GARDEN\”

“But to go deeper, beneath what people said (and these judgements, how superficial, how fragmentary they are!) in her own mind now, what did it mean to her, this thing she called life? Oh, it was very queer. Here was So-and-so in South Kensington; some one up in Bayswater; and somebody else, say, in Mayfair. And she felt quite continuously a sense of their existence and she felt what a waste; and she felt what a pity; and she felt if only they could be brought together; so she did it. And it was an offering; to combine, to create…”

- Mrs. Dall oway, Virginia Wolf, 1925

Continue Reading →