HERI-DONOLOGY
Pengantar Kuratorial oleh Mikke Susanto
Sepanjang hampir 30 tahun Heri Dono telah berkiprah di dunia seni rupa. Ia mengaku memulai aktivitas seninya ketika ia masih berusia 17 tahun (ia dilahirkan 1960). Di usia 20 tahun ia belajar secara formal di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta. Di tahun 1982 sembari berkarya melukis–baik untuk tugas kuliah maupun bukan–ia menggelar seni eksperimental di Pantai Parangtritis. Inilah agenda pertamanya yang menjadi pintu bagi dirinya. Meski bukan program berskala besar, ia sendiri menyatakan dan selalu mencantumkan agenda di pantai pesisir selatan Jawa itu dalam setiap pernyataan biodatanya.
Setelahnya itu, hampir setiap tahun ia melakukan aktivitas seni yang melahirkan lompatan nilai, baik pada aspek artistik maupun ide. Hingga kini setidaknya ia telah melakukan hampir 25 kali lebih pameran tunggal, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain pameran tunggal ia juga ikut serta dalam pelbagai program penting dunia seperti biennal dan agenda-agenda pameran di museum serta galeri terkemuka dunia. Prestasi internasionalnya tak perlu diragukan lagi. Kerja internasional pertamanya dilakukan di tahun 1990-91 dengan melakukan International Artist Exchange Program di Basel, Swiss.
Berlanjut di tahun berikutnya program pameran berskala internasional diikutinya. Dalam curriculum vitae-nya tercatat telah mengikuti 50-an program penting internasional, diantaranya biennale tertua di dunia, Venice Biennale di Italia tahun 2003. Oleh sebab itu majalah Artlink (Australia) mencatatnya sebagai salah satu perupa yang paling sering diundang ke biennal internasional antara tahun 1993-2006. Tak salah seandainya kemudian Heri Dono ditasbihkan menjadi satu dari seratus perupa avant-garde dunia saat ini.
Terobosan Estetik
Sepanjang perjalanan berkarya, ia melakukan terobosan-terobosan nilai dan pemikiran yang menarik perhatian penonton dan pemerhati seni rupa. Karya-karyanya sendiri berbasis pada pemikiran tentang masalah-masalah lokal dunia ketiga dengan mengajukan wayang sebagai dasar pemikiran dan metafora utama. Untuk itu, selain ia belajar secara formal di kampus, ia juga belajar pada seorang empu pewayangan, Ki Sukasman dari Yogyakarta. Di dalam karyanya ia merespon fenomena-fenomena aktual dan banyak terdapat masalah politik, kultur maupun isu sosial masyarakat yang terjadi dewasa ini. Masalah-masalah ini diajukan dengan konsep parodi. Pada aspek teknik, selain melukis, ia juga mengerjakan sejumlah karya seni instalasi, performance art dan seni media baru.
Selama ini ia kerap menjadi perupa yang dianggap menelikung kebiasaan perupa Barat yang mengagungkan teknologi canggih dalam karya-karyanya. Ia menjadi penakluk isu-isu besar dalam wacana seni di Barat, dengan mengetengahkan pola visual ataupun opini yang bersifat karikatural, katarsis dan kadang terkesan naif. Dalam konteks wacana ia sering meniadakan peran Barat dalam setiap pemikiran-pemikirannya, sehingga ia dengan baik mampu menampilkan aroma yang berbeda dalam setiap pameran yang diikutinya. Melihat karya Heri Dono kita akan menyaksikan penolakan bentuk-bentuk dan pesona yang indah (baca: mendayu-dayu layaknya lukisan realis). Heri lebih senang mencari bentuk-bentuk penyajian baru untuk membangkitkan perasaan tentang ketidakmungkinan atas sebuah penyajian. Karena “ketidakmungkinan” adalah keindahan tersendiri baginya.
Dalam wawancaranya dengan Hendro Wiyanto (2004) ia mengatakan, “…Diperlukan kengawuran yang artistik, diperlukan kekonyolan-kekonyolan. Kita tahu seni itu dapat dipelajari, tapi tak dapat diajarkan. Dia alternatif, dia lahir dari kengawuran. Dia lahir dari kekonyolan. Penciptaan seni harus lahir dari hal-hal di luar jalur disiplin estetika. Kengawuran adalah hal penting dalam seni, karena hanya dari itulah akan didapatkan anggapan-anggapan segar dan baru dari seni…”. Pantaslah, jika kemudian konsepsi semacam ini memberi jalan pada penciptaan karya-karya Heri.
Prinsip semacam ini juga paralel dengan konsep umum kreativitas. Pribadi-pribadi kreatif, seperti yang diungkapkan Csikzentmihalyi (1996), memerlukan kerja keras, keuletan, dan ketekunan untuk menyelesaikan suatu gagasan atau karya baru dengan mengatasi rintangan yang muncul. Disiplin dan bermain menjadi sikap kunci. Pribadi kreatif melahirkan selang-seling sikap: antara imajinasi dan fantasi, cerdas dan cerdik, tetapi pada saat yang sama juga naïf. Orang semacam ini biasanya juga suka menentang, dilain pihak bisa juga tetap memegang konservativisme.
Dengan melihat konsep berkarya Heri Dono, pameran ini ingin mencoba menguak sejumlah idiom, kebiasaan ataupun ‘kelakuan kreatif’–seperti tuturan di atas–yang sering dipakainya dalam setiap kali Heri berkarya maupun berpameran. Sedang pekerjaan saya sebagai kurator adalah meriset sejumlah ide yang kerap menjadi “alat” atau metode pendekatan proses kreatif yang dilakukan oleh Heri Dono. Di samping tentu saja melakukan penyeleksian dan mengupayakan presentasi gagasan dan karya yang akan ditampilkan dalam pameran ini. Ragam visual, cara ungkap, pendekatan berpikir, elaborasi gagasan dan kontekstualisasi ide akan menjadi bagian utama dalam kurasi ini untuk melihat karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini.
Dari “Album of Thing” menjadi “Album of Think”
Lebih dari persoalan eksistensi, mari kita melihat lebih dekat tentang materi ekspresi Heri Dono. Bahwa ‘thing’ atau ‘benda’ atau ‘benda-benda’–saya sebut ‘benda’ karena telah teronggok sebagai objek dan kadangkala kita menganggapnya remeh–semacam tengkorak primata dan manusia, karton, istana/kraton, tanah, motor, traktor bagi Heri Dono sebagai sesuatu yang amat berharga. Dalam pikiran Heri Dono, semua itu bukan sekadar sebentuk benda atau objek yang pasif, yang hanya ditonton dan dimaknai sebagai sesuatu ‘yang lain’, periferal. Ia juga secara khusus menawarkan objek dan benda-benda dengan beragam karakteristiknya tersebut sebagai bentuk materi dan ide serta medium ekspresi seni alternatif dunia. Ia memaknai setiap benda atau sesuatu sebagai materi yang labil makna. “Thing” ternyata mudah dipengaruhi sekaligus mempengaruhi pikiran Heri Dono.
Tentu saja harus dibarengi dengan tindakan “think”. Jika diucapkan hampir tak berbeda dengan “thing”. “Think”, seperti halnya di kamus bahasa Inggris adalah “pikiran”. Sebuah tesis yang mencoba mengumandangkan gerakan untuk memaknai, berpikir untuk memperluas konteks tentang sesuatu. Dengan ‘think’, maka seseorang bisa memperjelas posisi dan kegunaan sebuah benda atau objek. “Thing” akhirnya menjadi “think” karena peran seseorang yang kreatif.
Dengan mengesankan Heri Dono pernah melakukan dialog dalam karyanya yang berjudul Lobi-lobi (2000). Dengan hanya berkata-kata ibarat seorang dalang ia memaknai “thing” menjadi “think”. Berikut petikannya:
A: Saya karton
B: Saya juga karton
A: Ah, kamu kan kardus
B: Saya juga kardus
A: Kamu tahu kan hukum rimba. Siapa kuat dia berkuasa
B: Oya, artinya yang kuat seharusnya tinggal di tengah rimba?
A: Wele wele wele, maksudnya itu hukum manusia, tidak berlaku dalam sistem mafia, benar atau salah terserah jaksa dan penguasanya
B: O, gitu toh, jadi kita cuma karton toh
A: Lha iya kita kan biasanya dipakai hanya sebagai pembungkus kotak-kotak barang dagangan saja
Dialog ini membuktikan betapa Heri Dono adalah seorang yang sangat piawai membawa sesuatu yang semula tak berharga dan tanpa bentuk (hanya seonggok karton atau kardus) menjadi pemikiran tentang situasi yang pelik, bahkan radikal (cermati ide perihal hukum dan masalah kekuasaan dalam dialog di atas). Ditambah jika Anda menyaksikan kemahiran Heri Dono dalam merangkai benda-benda dalam karya seni instalasinya, semakin menunjukkan bahwa ingatan tentang “thing” menjadi “think”, sangatlah kental mengiringi kreativitas berkaryanya selama ini.
Sebuah karya dan pameran, termasuk pameran kali ini, adalah “album of think” bagi Heri Dono.
Empat Arena
Kali ini ia tampil berkekuatan penuh. Dalam pameran ini ditampilkan sejumlah lukisan, karya seni instalasi, dan seni rupa pertunjukan. Secara khusus, digelarnya seni rupa pertunjukan (dengan memakai alat berat di Alun-alun Utara Kraton Jogja) dalam upacara pembukaan pameran tunggalnya di Jogja Gallery, Yogyakarta ini karena ia ingin kembali mengulang gegap gempita masa silam ketika Heri Dono menggelar karyanya bertajuk Kuda Binal. Pada saat itu, ia memakai alat musik dan pertunjukan tradisional sebagai medium untuk meluncurkan kembali isu kontra-tradisi/budaya dengan memakai kuda lumping yang diolah dengan pendekatan modern dan individual. Kuda Binal ditampilkan bersamaan maupun sebagai bagian dari “BINAL Experimental”, sebuah parodi peristiwa atas agenda Biennale Jogja 1992. Karya ini kemudian merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan seni rupa Heri Dono.
Maka dalam pameran ini sejumlah karya yang tampil antara lain mengarah pada arena tema mengenai: 1) kehidupan sekitar dirinya sebagai seniman, alias bertema seni dan seniman; 2) tentang situs arkeologis “baru”; 3) sekitar isu politik; 4) catatan perihal alam. Catatan tema dan ide yang ditampilkan ini kemudian akan menjadi point yang menyatukan presentasi keseluruhan karya dalam ruang pamer.
Arena keempat (perihal alam, terutama bencana alam, bukan pemadangan alam), dan ketiga (isu politik) adalah tema-tema yang sejak lama sudah sering digarap oleh Heri Dono. Sejak awal Heri mengusung isu-isu semacam ini sebagai sebuah tema yang menurutnya sangat tepat dan kontekstual. Isu alam dan politik menjadi tema-tema sentral dalam setiap pembicaraan di wilayah yang luas. Tidak saja di Indonesia namun juga di luar negeri. Dalam pameran ini karya-karya yang mengusung tema politik dan alam dapat dilihat pada karya SOS Supersemar (2009); Tiga Calon Presiden (2009); Tsunami (2005); Peace or War (2009); The Head Gamelan (instalasi 2008); dan The Wrong Pieneman’s Perspective (2009).
Pameran ini menjadi sangat bernilai ketika disertai dengan dua tema lain, yaitu isu yang kedua (situs arkeologis “baru”) dan pertama (seni dan seniman). Di arena pertama yang terkait dengan isu tentang seni dan seniman diwakili oleh karya bertajuk Agent of Change I (2009). Karya ini dibuat dalam dua dimensi yaitu berupa 4 panel lukisan yang menggambarkan tengkorak para perupa ternama seperti Joseph Beuys, Salvador Dali, Vincent van Gogh dan Andy Warhol. Dipilihnya 4 perupa ini seakan-akan menjelaskan bahwa di tangan merekalah teori dan ilmu pengetahuan tentang sesuatu seakan-akan menjadi jelas dan menampakkan hasilnya.
Karya-karya mereka memberi keyakinan penuh atas perubahan yang terjadi di masyarakat akan eksistensi keyakinan dan ilmu pengetahuan. Beuys ditengarai telah mengatasi isu-isu perdukunan. Dali mencoba meyakinkan publik bahwa mimpi dan fantasi bukanlah tipuan dan hal yang abstrak. Gogh seakan mewakili spiritualitas yang kolaps. Sedang Warhol mengatasi “hal-hal yang semula dianggap remeh menjadi begitu penting”.
Sedang karya Agent of Change II (2009) dibuat dengan medium patung berbahan fiberglass memiliki tinggi 30 sentimeter yang mengetengahkan 20 seniman sedang jongkok berwarna putih dan mengeluarkan kotoran. Perupa yang ditampilkan antara lain dari Indonesia (seperti Affandi, Soedjojono, Chairil Anwar dan lain-lain) sampai seniman dunia (seperti Michelangelo, Beuys, Frida Kahlo sampai Michael Jackson).
Karya ini dilatari oleh pemikiran tentang keberadaan perupa dalam ranah sosial. Diangkatnya tema ini oleh Heri Dono terkait dengan eksistensi seniman yang selama ini dipertanyakan. Profesi seniman berada diwilayah yang tidak stabil. Terutama, menurut Heri, perupa sering ditafsir berada pada posisi kebudayaan (sebagai anggota komunitas masyarakat) dan estetika (sebagai pribadi yang terus menggali kemampuan diri). Di satu sisi seniman memiliki keinginan untuk tetap menjaga kebudayaan yang telah ada, namun keinginan pribadi ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dan baru. Dualitas posisi inilah yang menyebabkan posisi seniman menjadi persoalan, mengalami benturan dan korelatif terhadap ketidakseimbangan budaya di masyarakatnya.
Pada arena kedua: “situs arkeologis baru”, kita akan menjumpai karya yang tetap berbasis visual tengkorak. Wacana di arena kedua secara khusus pernah disajikan dalam pameran tunggal Heri Dono di Gaya Fusion, Ubud Bali yang bertajuk “Post-Etnology Museum” (2008). Diangkatnya tema ini jelas mengandung esensi bahwa Heri Dono kali ini ingin “menyela”. Ia ingin memberi peluang baru, dengan membuka kran agar seseorang (baik Heri Dono sendiri maupun perupa lain) diharapkan menonton diri mereka sendiri. Bukan orang lain yang menonton kita.
Di arena ini, karya bertajuk Homo Donoensis Javanicus (2009) menjadi sajian utama. Karya ini ingin menandaskan temuan baru yang menjadi sarana introspeksi bagi dirinya sendiri. Lebih jauh dari itu, meskipun ia mengaku karya ini merupakan representasi dirinya, tetapi jelas ini merupakan wacana baru tentang keberadaan seniman secara umum. Heri mengajak para perupa lain untuk menatap dirinya sendiri yang selama ini kencang meneriakkan berbagai hal. Karya yang merupakan parodi atas eksistensi artefak tulang Homo Erectus Soloensis ini seakan-akan mengeliminir keberadaan dirinya sendiri. Heri sedang menatap “Heri”. Heri sedang memprovokasi “Heri”. Heri sedang menentukan mental dan psikologi baru.
Ketika berdiskusi dan proses kurasi berlangsung, kami menemukan kesimpulan bahwa Heri Dono telah menjadi “situs arkeologis” yang harus dimaknai ulang. Pada karya inilah muncul sesuatu, yaitu sebuah konsesi tentang upaya untuk terus-menerus menggoyang kemapanan pemikiran sendiri. Sebuah upaya kreatif untuk meleburkan kembali kecerdasan dan kenaifan baru. Semestinya ia tidak cuma menelikung seni Barat, tetapi juga menelikung seni dirinya sendiri. Ia harus menata “album of think” yang ia buat sebelumnya dan melahirkan “album of think” yang baru. Di usia dan karir yang sangat matang, saya lihat ia tengah menepati janji: “kengawuran terus dibalas dengan kengawuran”. Inilah “Heri-Donology” yang saya maksud. +++
Jetak, Godean, Juni 2009.
—–
HERI-DONOLOGY
Curatorial Foreword by Mikke Susanto
For almost 30 years Heri Dono has been working in the art world. He admits that he began to enter the creative world when he was 17 years old (he was born in 1960). In the age of 20 years old he began to formally learn art in Faculty of Visual Art and Design, the Indonesian Institute of the Art Yogyakarta. In 1982 though he was occupied by working on his paintings – both of his school tasks and of other purposes – he did an experimental art exhibition at Parangtritis beach. It was his first step entering into his career as an artist. Although it was not a big exhibition, he always puts it on his biodata.
Then, almost every year he does art activities that always makes a significant leap for his quality both of artistic aspects and of ideas. Until today he has done at least 25 solo exhibitions both inside and outside of the country. Besides solo exhibitions he also has joined various important programs like biennale and exhibitions carried out in well-known museums and galleries in the world. His international achievements cannot be doubted. His first international work was done within 1990 – 91 in an International Artist Exchange Program in Basel, Switzerland.
In the following years he joined many exhibition of international scale. In his curriculum vitae, he states that he has joined many important international programs, including the oldest biennale, that is to say, Venice Biennale in 2003. Hence, Artlink magazine (Australia) records that he is one of artists who are most often invited to join international biennale between 1993 and 2006. It is not wrong if Heri Dono is listed as one of the 100 world avant-garde artists of today.
Aesthetic Breakthrough
As long as his career, he often makes breakthroughs in terms of value and idea that attract audience and visual observers. His works have basis on thinking about the problems of third world countries and he uses wayang (puppets) as objects of metaphor. Despite his formal education, he also has learnt from Ki Sukasman, a puppeteer. With his works he makes responses to any actual phenomenon, mostly contemporary politic, cultural and social issues. These issues are presented within concepts of parody. In terms of technical aspects, besides painting, he also often makes works of installation art, performance art and new media.
All this time he is well-known as an artist who often manipulates the habits of western artists who are too dependent on the modern technology in their works. He talks about big issues in the discourse of Western art by presenting patterns and ideas that are visualized in caricatural, cathartic and, at times, naïve way. He often eliminates the role of Western world from his thinking, so that he is able to present different character in every exhibition he joins. Seeing his works we can sense a kind of denial to beautiful shapes and charm (like realistic painting). He prefers experimenting with new ways to arouse a sense of impossibility regarding a presentation because impossibility is in itself magnetism.
In an interview with Hendro Wiyanto (2004), Heri said, “…artistic wildness is needed, ridiculous approaches are needed. We know that art can be learnt but not be taught. It is an alternative, it is born from wildness. It is born from nonsensicality. Artistic creation must be born from anything outside the track of aesthetic discipline. Wildness is an important thing in art because from it fresh and new interpretations about art will appear.” So, it makes sense if such concept then can give Heri new ways to create artworks.
This principle is also parallel with the general concept of creativity. Creative individuals, according to Csikzentmihalyi (1996), need to work hard, tough and attentively to complete an idea or new work by overcoming all obstacles. Concentration and experiment are the keys. Creative individuals produce double manners; they are imaginative and visionary, smart and witty, but at the same time they are naïve too. These persons usually like to challenge but they can keep their conservatism too.
Understanding Heri Dono’s concepts in producing artworks, this exhibition wants to disclose a number of idioms, habits and ‘creative attitude’ – as mentioned above – that Heri often uses in his works and exhibitions. And, as the curator of this exhibition, my task is to make a research on ideas that are frequently used as “tools” or methods of creative process approach done by Heri Done. Yet, I also do selection and present the ideas and artworks to be exhibited in this exhibition. Diverse visual images, ways of disclosing, ways of approach, elaborations of ideas and contextualization of ideas will become the main parts of this curation to assist audience in understanding the exhibited artworks.
From “Album of Thing” to “Album of Think”
Beyond a matter of existence, let us take a closer look at the material of Heri Dono’s expression. People may consider that objects like skulls of primate or human, cardboard, soil, motorbike, and tractor are just ordinary things. But for Heri Dono they are so valuable. In his mind everything is not just shape or passive object that is seen and regarded as peripheral object. He in special way also turns the objects of these diverse characteristics into materials, ideas and media of alternative artistic expressions. He interprets every object as material that is indecisive in terms of its meaning. Heri Dono indeed cannot deny any influence from every common thing around him.
Of course, he must go with action of ‘thinking’. When it is spoken, ‘think’ sounds like ‘thing’. To think is to interpret and broaden the context of something. One should think to clarify the position and benefit of something. Therefore, “thing” eventually becomes “think” because of a creative action.
Impressively Heri Dono has done a dialog within his work titled Lobi-Lobi (2000). Only with words as spoken by a puppeteer, he interprets ‘thing’ as ‘think’. Below is bit of the dialog:
A: I’m cardboard
B: I’m cardboard too
A: Ah, you are carton
B: I’m carton too
A: You know Jungle Law, don’t you? The stronger gets the power
B: Yes, it means the strongest should stay inside the jungle, isn’t it?
A: What I mean is human law. Not applicable in the mafia’s system. Right or wrong is determined by the prosecutor and authority.
B: O, I see. So we are just cardboards.
A: Yes indeed. Aren’t we just cardboard-made boxes usually used to wrap goods?
The dialog proves how skillful Heri Dono is in bringing up something that is at the beginning insignificant and shapeless (just a piece of cardboard) into a thought of complicated and radical situation (observe thoroughly the idea of legal and authority issues in the dialog). In addition, if you can see Heri Dono’s skill in setting some objects to create his installation art, it is obvious that the transformation of ‘thing’ into ‘think’ keeps so closely accompanying his creative works all this time.
All his works and exhibitions, including this exhibition, belong to his “Album of Think”.
Four Arenas
For this time he appears in full power. He exhibits paintings, installation art and performance art. Particularly, in the opening of his solo exhibition in Jogja Gallery, a performance art is done in Alun-alun of Yogyakarta Palace, involving heavy machinery, because he wants to repeat the past excitement of his solo exhibition titled Kuda Binal (Bitchy Horse). At that time, he used musical instruments and traditional performance as media to re-launch the issue of anti-tradition. He presented kuda lumping performed with modern, personal approach. Kuda Binal was performed as part of “Binal Experimental”, a parody of the Biennale Jogja 1992. This work has become one of his important milestones in the course of his career.
Thus, in this exhibition, he exhibits a number of works that promote themes of 1) his life in the world of art (art and artists), 2) “new” archeological sites, 3) political issues and 4) nature. These themes are integrated in the presentation of the whole works in the exhibition chamber.
The fourth arena (about the Nature, especially about natural disasters not about natural scenery), and the third (political issue) are themes that Heri Dono often explores in his works. Since his early works he has raised such issues because they are properly contextual. These have been major subjects of conversations in many regions, not only in Indonesia but also in abroad. In this exhibition themes of political and natural issues can be seen in the works like SOS Supersemar (2009), Tiga Calon Presiden (Three President Candidates; 2009), Tsunami (2005), Peace or War (2009), The Head Gamelan (installation; 2008) and The Wrong Pieneman’s Perspective (2009).
This exhibition is very valuable as it also presents two other themes, that is to say, the second arena, “new” archeological sites, and the first, art and artists. The first arena is represented by the work titled Agent of Change I (2009). It is a two-dimensional work; four panels of painting describing the skulls of famous artists, namely Joseph Beuys, Salvador Dali, Vincent van Gogh and Andy Warhol. These four artists are chosen because it seems that they have explained that in their hands theories and science about things become clearer and show the results.
The works have fully clarified the changes occurring in the society pertaining to the existence of beliefs and science. It is said that Beuys has overcome the issues concerning shamanism. Dali has convinced the public that dream and fantasy are not abstract things and deception. Gogh seems to represent collapsing spiritualism. And, Warhol turns things that formally are considered trivial into those of great significance.
The Agent of Change II (2009) is a sculpture made of fiberglass with height of 30 cm, describing 20 artists squatting and defecating. The artists are from Indonesia among others Affandi, Soedjojono, Chairil Anwar, etc and from abroad Michaelangelo, Beuys, Frida Kahlo and Michael Jackson.
This work takes as its background a view about the questioned existence of artists in the society. Artist is considered an unstable profession. Especially according to Heri Dono, the existence of artist is situated in two dimensions; first, in the socio-cultural dimension in which an artist is part of the society, and in the aesthetical one in which an artist is an individual who keeps exploring his/her capacity. On one side an artist wants to preserve the existing old culture but on the other side he/she wants to make something new and different. This duality causes the position of artist troublesome because it may experience collision that can influence the balance of culture in the society.
In the second arena, “new archeological sites”, we can find works that remain using skulls as their visual basis. The theme of this second arena had been presented specially in his solo exhibition titled “Post-Ethnology Museum” in Gaya Fusion, Ubud Bali, in 2008. This theme conveys an essence that Heri Dono wants to “interrupt”. He wants to make new opportunity, by opening the door for himself and others. Therefore, it is hoped that everybody can see themselves.
In this arena, a work titled Homo Donoensis Javanicus (2009) becomes the main presentation. With this work he wants to highlight his new finding to be a medium for self-introspection. In addition, although he admits that this work is a portrayal of him, it is obvious that in general it is a new discourse about the existence of artists. He invites other artists to look into themselves. This parody of the Homo Erectus Soloensis seems to eliminate Heri’s own existence. Heri is looking at Heri. Heri is provoking Heri. Heri is determining new mentality and emotion.
When we had discussing during the process of curation, we came into a conclusion that Heri Dono has become an “archeological site” that must be reinterpreted. It makes appear a concession about an attempt to keep shaking the established state of personal thinking. It constitutes a creative attempt to make a new fusion of the brainpower and naivety. He is not supposed only to manipulate western art but also to manipulate his own artistry. He has to recompose his “album of think” that he has made before and produce a new “album of think”. In his mature age and career, I can see that he keeps his promises: “wildness is settled up with wildness”. This is what I mean with “Heri-Donology”. +++
Jetak, Godean, June 2009.
List of Heri’s Works
Arena I:
1. Agent of Change I
2. Agent of Change II
3. Tengkorak putih (white Skull)
4. First step on the Moon
5. Go-kart
6. Moonracer
Arena II:
7. Klinik Primata (Primate Clinic)
8. Homo Donoensis Javanicus
9. Dinosaur going to the city
10. Opening performance: Taktor Bedoyo?
Arena III:
11. S.O.S Supersemar
12. Otak /Indoktrinasi (Brain/indoctrination)
13. Tiga Calon Presiden (Three President Candidates)
14. Banteng berburu Koboi (Bulls hunt cowboy)
15. Peace or War
16. The Head Gamelan
17. The Wrong of Pieneman’s Perspective
Arena IV:
18. Tsunami
19. Skeleton Angel
20. Ngadem (To Get Chill)