Malam Apresiasi ” Kemana Kan Kita Bawa Kesenian Kita?”

Host: TRITURA&Ars Longa

Date: Tuesday, June 30, 2009
Time: 7:30pm – 10:30pm
Location: Ars Longa [ruang seni]
Address: Jl Mantrigawn No:11
City/Town: Yogyakarta, Indonesia
Phone: 085729293617
Email: triturajogja@yahoo.com

PEMBICARA : ARAHMAIANI

ORASI SENI DI TENGAH KRISIS
(Sebuah catatan kuratorial)
Oleh:Arahmaiani

Berangkat dari keprihatinan bersama akan situasi dan kondisi sosial,
politik, ekonomi, budaya, maupun dunia seni rupa yang belakangan
dianggap problematik, beberapa seniman Yogyakarta pada pertengahan
tahun 2008 bergabung membentuk kelompok kerja. Mereka mencanangkan
dan menyelenggarakan pameran yang agak berbeda dari pameran yang
belakangan sering muncul. Pameran seni rupa dengan tajuk “Orasi”
merupakan pameran ke dua dari serangkaian pameran yang sudah dan
direncanakan akan digelar dan mengetengahkan perupa-perupa dengan
latar belakang berbeda-beda: Suwarman & Anggi (pematung). Iskandar,
Irwan, dan Sriyadi (pelukis), serta Hamzrut sebagai praktisi seni
penampilan (performance art). Setelah menemukan titik berangkat dari
fokus dan kesadaran mereka lalu sepakat untuk membentuk kelompok kerja
kreatif yang mengusung “ideologi seni” dan bersedia mengemban
“tugas”. Maka para seniman ini seia sekata untuk menekankan proses
kreatif sebagai bagian penting dari kerja mereka. Dimana sebelum karya
atau hasil jadi berupa objek lahir, diadakan “penggodokan” lewat
kegiatan rutin yang dirancang dalam bentuk pertemuan dan diskusi
tentang tema maupun gagasan yang lalu di olah lebih lanjut.

Alasan lain kenapa kelompok ini dibentuk adalah karena keprihatinan atas apa yang terjadi di dunia seni rupa belakangan ini. Sejak masih dilanda booming pasar para seniman Tritura sudah mulai mengamati dan mengambil ancang-ancang untuk merespon situasi yang dianggap kurang menguntungkan bagi dunia seni rupa umumnya. Booming pasar seni memang seperti telah membawa mendung dan cerah mentari. Selain membawa dampak positif dimana beberapa seniman mendapatkan keuntungan finansial – dan sebagian bahkan berhasil meraih jumlah fantastis. Booming juga ikut memperparah situasi “merosotnya nilai-nilai” selain menimbulkan gejala pemiskinan kreatifitas dimana medium seni rupa menjadi sangat didominasi seni lukis dan kekayaan gaya juga menyusut. Namun dari semua masalah yang muncul mungkin yang paling parah adalah kecenderungan untuk menilai kualitas karya dengan besarnya nilai nominal. Sedangkan nilai simbolik samasekali tak dipertimbangkan. Akibatnya terjadi produksi besar-besaran yang lebih mengutamakan sensasi visual dan kecanggihan teknis. Seakan seniman hanyalah seseorang yang cuma pandai menata komposisi, garis, dan warna serta menambahkan greget dengan sedikit keajaiban visual. Makna seni dan kegiatan berkesenian menjadi seperti tidak mampu “menyelam ke kedalaman”

Senimanpun dianggap kehilangan arah dan tujuan dalam kegiatan seni nya. Mereka seakan hanya berproduksi karena ada permintaan di pasar sehingga kegiatanya lebih seperti produksi barang di pabrik. Dan lebih tragis lagi barang-barang tersebut juga cenderung merupakan tiruan dari karya-karya yang pernah dibuat orang sebelumnya atau yang laku di pasar dan yang sedang dianggap nge-tren. Maka apa yang disebut sebagai “integritas” seorang seniman samasekali tidak dianggap penting dan hampir tidak pernah dibicarakan ataupun dipertanyakan. Agaknya alasan yang sering dikemukakan bahwa masyarakat Indonesia umumnya adalah masyarakat miskin – termasuk para seniman didalamnya – telah dijadikan alasan ampuh untuk membenarkan sikap oportunis maupun “pemujaan pada uang”. Menilik keadaan yang sudah menjadi sangat problematis dan butuh jalan keluar ini para seniman Tritura mengajukan beberapa pertanyaan mendasar seputar hal ini seperti: akan dibawa kemana seni rupa kita? Dan budaya apa yang akan dilahirkan dari keadaan yang serba berorientasi dan bertumpu pada pasar ini? Dan sebetulnya siapa yang seharusnya mempunyai peran aktif dalam menentukkan arah dan tujuan dari dunia senirupa yang semakin hari semakin jauh dari realita kehidupan apalagi dari apa yang disebut sebagai “ideologi”??

Menimbang dan mengingat kondisi seperti terurai diatas maka kelompok Tritura mencoba untuk menemukan konsep dan sistem produksi alternatif. Pilihanpun dijatuhkan dan para seniman ingin berhadapan dengan kenyataan sosial disekelilingnya. Produk-produk seni yang lahir karena dorongan maupun rekayasa pasar selama ini memang dianggap jauh dari kepedulian terhadap masalah riil dalam kehidupan. Maka mereka mulai mengadakan pertemuan rutin setiap dua minggu sekali untuk berdiskusi dan membahas masalah yang muncul. Nara sumber dari berbagai bidang ilmu yang relevanpun diundang untuk menambah masukan dan wawasan. Konsep dan gagasan lalu diuji dan ditantang oleh rekan seniman anggota kelompok maupun kurator. Demikian kelompok yang menyebut diri dan sekaligus menawarkan konsep TRITURA (Tiga Tuntutan Rasa) sebagai landasan kerja kreatif lalu menegaskan sikap dalam bentuk sebuah kredo. Adapun tuntutan ideologis mereka jabarkan dalam 3 poin yaitu :
1. Tinggi Estetika
2. Tinggi Ideologi
3. Tinggi Propaganda
Demikian kelompok ini memutuskan untuk mengambil jalur dan arah berkesenian “bermuatan”. Orasi yang secara harafiah berarti menyampaikan sesuatu dengan berapi-api, keras, dan tegas yang dipilih manjadi tajuk jelas menunjukan sikap dan pilihan jalan kreatif yang berkehendak untuk “menyuarakan” pertanyaan atau persoalan seputar ranah dan aspek kehidupan yang lebih luas.

Adapun fokus dari karya dan diskusi untuk projek pameran ini berkonsentrasi pada 2 (dua) pokok masalah yang dianggap mendesak, yaitu :
1. Situasi ekonomi Internasional dan Nasional
2. Situasi Kebudayaan Nasional
Lewat pengamatan langsung dari kehidupan disekeliling para seniman beranggapan bahwa pada dasarnya sistem perekonomian Neo-liberal yang menjadi landasan perekonomian negeri ini lebih banyak mendatangkan kemudharatan daripada manfaat. Jelas-jelas tidak berpihak pada wong cilik yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Kapitalisme juga dianggap tidak bisa diandalkan karena rentan krisis dan kejahatan. Agaknya pengalaman Indonesia menghadapi krisis keuangan sebagai dampak domino atas krisis keuangan regional ataupun global yang membawa pada situasi keterpurukan ekonomi yang seakan tanpa henti memang harus membuat orang yang mau berpikir menjadi gelisah. Bagaimana tidak akan membuat resah jika daya beli semakin hari semakin merosot dan pengangguran meningkat tajam serta lingkungan hidup dan budaya makin tergerus dan terancam kehancuran?? Senimanpun tidak dikecualikan karena produksi dan distribusi seni sudah dikendalikan oleh industrialis budaya yang cenderung bersifat oligopolistik dimana industri dikuasai oleh segelintir orang dengan modal sangat besar.

Kapitalisme mutakhirpun semakin hari semakin mempercanggih cengkraman. Dengan menggunakan berbagai instrumen seperti IMF, WTO, World Bank, ataupun Asian Development Bank dan menerapkan berbagai program seperti deregulasi, liberalisasi, dan privatisasi (sebagai tujuan akhir) maka kebergantungan negara-negara miskin pada para pemilik modalpun makin sulit untuk diputus. Kondisi ini telah semakin memberi jalan dan peluang bagi perusahaan-perusahaan Multinasional untuk menjarah dan mengeksploitasi kekayaan alam negara-negara kurang mampu (yang sering diistilahkan sebagai Negara Berkembang atau Dunia Ketiga). Begitu pula dengan kekayaan sumber daya manusiapun tak luput dari eksploitasi habis-habisan. Sementara itu di sisi lain pemerintah yang dikendalikan oleh program Neo-liberal telah menggunakan tangan kekuasaan untuk melancarkan dan membela agenda-agenda pemodal. Maka kaum buruh, nelayan dan tanipun ditekuk dan ditaklukan oleh aturan-aturan pemerintah yang tak berpihak pada kepentingan mereka. Situasi keterpurukan hidup mereka yang tertindas tampaknya kini sudah menjelma menjadi jurang tragedi kemanusiaan teramat curam dan seakan tanpa akhir. Selain bagaimana praktik korupsi yang telah menjadi hal lumrah dilakukan baik dikalangan pegawai pemerintah, birokrat, teknokrat, pemuka adat, maupun pemimpin agama telah membuat kondisi seperti dijelaskan diatas menjadi semakin parah dan tak terkendali.

Demikian budaya tidak transparan memang tidak menolong keadaan. Sekalipun Indonesia sudah mencanangkan sistem politik demokratis yang ringkasnya bisa diartikan sebagai menjunjung budaya “keterbukaan” serta menghormati suara dan hak individu. Dalam kenyataan dan praktik di lapangan masih penuh tantangan dan kendala. Begitulah situasi kebudayaan secara umum memang masih belum kondusif. Feodalisme yang menempatkan manusia dalam sistem yang hierarkhis dan tidak bersifat egalitarian masih kuat mengakar. Dan sistem patriarkhi yang menempatkan perempuan dalam posisi tidak setara dengan lelaki masih merupakan sistem yang dominan. Kuota 30% kursi di DPR samasekali tidak menunjukan posisi perempuan lebih baik jika memang prinsip kesetaraan tidak diterapkan. Begitupula dengan hak-hak kaum minoritas belum sepenuhnya bisa dihormati dan diakomodasi. Masih banyak produk undang-undang yang harus direvisi dan memperimbangkan lebih jauh kepentingan dan posisi kaum minoritas. Selain itu budaya warisan kaum militer (militerisme) juga belum terkikis sekalipun militer sudah “dikembalikan ke barak”. Warisan budaya kekerasanya kini diadopsi dan dipraktikan masyarakat umum. Maka kekerasanpun marak, bahkan kalangan terpelajar turut melibatkan diri dan ikut-ikutan menggunakan kekerasan sebagai cara untuk memaksakan kehendak.

Agaknya dalam situasi serba tidak menentu ini orasi seni yang akan mendorong tumbuh kembangnya budaya kritik memang perlu dikemukakan sehingga realitas kehidupan bisa dideteksi dan dipahami.

Candi Dasa, 10 Juni 2008

Arahmaiani


Curatorial, Events