BAYI DALAM KONSTRUKSI KEGAIRAHAN
Tommy F Awuy
Bilamana seseorang disebut bayi sebenarnya masih belum memiliki definisi umum dan setepat-tepatnya. Namun orang pada umumnya menyangka, bahwa sebutan bayi itu dikenakan pada seorang anak yang baru lahir hingga sekitar 5 tahun. Masa di mana seorang anak dirawat dengan ekstra hati-hati bagi segenap keberadaan dirinya. Dan dari perawatan pada sekitar usia tersebut bisa menandakan akan seperti apa jadinya sang anak kelak, baik dilihat secara psikologis dan dari cara tanggapnya secara motorik ataupun lewat pembentukan syaraf-syaraf otak.
Tentu saja ada berbagai macam cara manusia dalam hal merawat bayi dengan kekhasannya masing-masing. Namun bukanlah maksud di sini untuk mempersoalkannya. Pada kesempatan kali ini, Pameran Lukisan dengan tema Baby Talks di Philo Art Space membidik fenomena perawatan bayi masa kini, khususnya yang berlangsung dalam budaya urban atau di wilayah kota-kota besar.
Semarak munculnya khusus toko-toko bayi, berbagai macam minuman dan makanan bayi produk pabrik-pabrik kapitalisme global, mainan-mainan bayi yang serba unik dan semarak, sekolah-sekolah bayi, dan konsultan-konsultan perawatan bayi, bayi-bayi yang sudah menjadi rebutan produk-produk besar untuk dijadikan iklan, bermain film, bayi yang sudah dipersiapkan atau ditentukan harus berbahasa apa atau harus mampu berbicara beberapa macam bahasa asing di kemudian hari, terapi bayi dengan nada-nada musik yang menjaminnya menjadi pinter seperti Einsten, spa bayi, dan lain-lainnya. Kita bisa menyebut fenomena ini sebagai fenomena kontemporer merawat bayi.
Menjadi pertanyaan mendasar dan tentu saja penting di sini, ialah ”dunia kehidupan semacam apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang tua terhadap anak bayinya?” dan ”apakah dengan perawatan itu sudah merupakan jaminan terpercaya bagi sang bayi akan menjadi seperti apa yang diinginkan orang tua?” Peserta pameran: Deni Junaidi, Wayan Kun Adnyana, Pratomo Sugeng, Purwanto, Rosid, dan Suprobo, dengan ciri khas bahasa rupa mereka mencoba merekam dan mengkritisi fenomena di atas.
Deni Junaidi tampil secara satir dengan metafor dunia yang keras, bertinju (Anaknya saja Hebat). Katakanlah di sini, bayi yang tergolong balita mengkanvaskan seorang petinju berbadan besar dan kekar yang wajahnya mengingatkan kita pada wajah Mike Tyson. Sorotan wajah itu tak lagi sanggup menampilkan sebagaimana ekspresi seorang petinju yang biasanya terlihat ganas, hanya tersandar tak berdaya di tali ring, sementara sang balita masih menunjukkan gaya yang serius, dingin, waspada, dan siap siaga untuk menyerang lagi. Tak pelak dengan metafor ini sebenarnya kita sudah cukup paham bagaimana kerinduan akan heroisme dari orang tua (terlebih dalam masyarakat patriarkis) atas anaknya masih nampak cukup kuat, semacam pewarisan gen demi survive ala Darwinian. Menunjukkan bagaimana keperkasaan bayi laki-laki sebenarnya sekaligus hendak menyatakan diri siapa sebenarnya orang tuanya, teristimewa sang ayah. Dan pemikiran seperti ini tidak jauh berbeda dengan lukisan berjudul Sejak Kecil Aku Diasuh Buku itu. Seandainya seorang bayi laki-laki mengecap pendidikan seperti itu lalu tumbuh menjadi seorang play boy, bisa secara optimis pandangan masyarakat akan memaklumkannya. Tapi bagaimana dengan seorang perempuan? Konstruksi masyarakat terhadap seseorang sehubungan dengan perilaku seksualitas tentu saja menjadi faktor yang demikian penting.
Sementara Wayan Kun Adnyana melihat sisi penting pada kehidupan masa depan bayi dengan merepresentasikan benda yang kita kenal sebagai kursi (Kursi-Kursi untuk Esok). Kursi bisa kita baca sebagai simbol singgasana secara umum maupun khusus. Secara umum siapa pun atau setiap orang adalah makhluk politik di mana kekuasaan adalah inheren dengan eksistensi. Secara khusus kursi mewartakan penyempitan atas keluasan ruang publik lalu mengerucut pada tampuk dari mana tatanan hidup individu per individu diarahkan. Bagaimana kita mempersiapkan bayi-bayi menjadi penguasa yang mungkin kita sebagai orang tua teringat akan doktrin dari filsuf Jerman, Hegel, dan bagaimana cara Hitler mempersiapkan bayi-bayi Jerman untuk menjadi uber alles.
Di sisi yang berbeda, kita melihat dunia bayi yang direkonstruksi oleh media televisi yang benar-benar sebagai alat kekuasaan yang paling efektif dalam masa-masa kontemporer ini sebagaimana yang ditampilkan oleh Pratomo Sugeng. Bayi-bayi bertumbuh dengan injeksi mem (meme=virus pikiran) dari dunia yang semarak oleh benda-benda, fakta-peristiwa, dan imajinasi-fiktif, yang nyaris membuat kita percaya begitu saja bahwa dunia ini begitu kecil namun tak seorang manusia pun yang pernah sanggup mendefinisikannya. Televisi bagaimanapun suka atau tak suka adalah sebuah kekuasaan yang membangkitkan akan gairah paradoksnya kehidupan, tak ada batasan substansial akan realitas, hitam-putih, siang-malam, lelaki-perempuan, baik-jahat, sedih-bahagia, dan sebagainya. Maka bayi-bayi kita pun ikutlah larut dalam dunia paradoksal ini. Mereka bagaimanapun membutuhkan rangsangan audio-visual yang dalam hal ini tak terelakkan lagi televisi akan sanggup memberikannya sepuas mungkin.
Tak kalah menariknya, Suprobo memperlihatkan pada kita bagaimana bayi dikonstruksi oleh kegairahan cinta orang tua. Lipstrik-bibir memang melambangkan gairah dan cinta namun kemudian kita bisa menduga dengan pikiran sehari-hari, bahwa cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang mudah dipahami karena cinta pun tak luput dari persoalan paradoksal. Dengan cinta sang ibu melahirkan anak sekalipun menyatu dengan kesakitan dan bahkan bayangan akan maut yang sewaktu-waktu bisa mengancam secanggih apa pun teknologi persalinan sudah tersedia. Bayi-bayi sebenarnya sudah sejak awal dikonstruksi menjadi ”siapa” oleh orang tua dan bahkan mungkin oleh masyarakat dengan tak segan-segan beratasnamakan cinta, disayang, dimanja, dibelikan apa saja untuk kesenangan bayi, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Rosid.
Siapa pun orang tua yang terbilang punya perasaan normal-manusiawi sudah jelas memiliki kedalaman cinta yang tak terperikan atas bayinya. Sudah pula sewajarnya apabila ia menginginkan bayinya bertumbuh seperti apa yang diharapkannya. Dan tak mengherankan pula apabila kemudian seorang bayi tumbuh jauh sekali di luar harapan orang tua. Hal ini serba mungkin terjadi karena alasan yang sanhgat mendasar di atas bahwa ternyata cinta atau sayang tidak selalu semudah yang dibayangkan. Dengan cinta orang mengenal kedamaian dan loyalitas namun dengan cinta pula orang melakukan peperangan dan kebencian.
Benih paradoksal manusia kelihatannya sudah sejak bayi bertumbuh. Purwanto dengan jelas memperlihatkan hal itu pada kita dengan tubuh dan wajah bahkan kelamin bayi yang berganda. Ketunggalan diri manusia di sini dianggap mistifikatif atau sekedar impian manusia dewasa (orang tua). Dengan benda-benda lipstik Purwanto hendak menyampaikan sebagaimana sudah disinggung di atas, manusia adalah sebuah konstruksi masyarakat sejak awal bahkan dari wacana sebelum sperma dan ovum bertemu. Kepribadian ganda ataukah skizofrenik adalah kenyataan yang kesehari-harian dilakoni oleh kita namun lebih sering kita menolak dan tidak mempercayainya. Kita senantiasa menciptakan mitos akan diri kita yang serba tunggal, atau baik atau jahat.
Pameran dengan tema Baby Talks ini bermaksud mengajak kita melihat fenomena kontemporer bagaimana manusia urban dikonstruksi oleh logika late-capitalism. Sebuah pencapaian hidup manusia yang maunya menggiring daya hidup manusia itu sendiri pada kegairahan-kegairahan yang tak terbatas dan tentunya tanpa satu pijakan dan pegangan tapi ternyata punya satu persyaratan yang tersisa, yakni kegairahan itu sendiri.
Artists: Deni Junaedi, Pratomo Sugeng, Purwanto, Rosid, Suprobo, Wayan Kun Adnyana
Start Time: Monday, February 22, 2010 at 8:00pm
End Time: Monday, March 8, 2010 at 6:00pm
Venue: PHILO ART SPACE
Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12510 INDONESIA