Bingkai Biennale Indonesia Art Award 2010 adalah pewacanaan contemporaneity dalam perspektif Indonesia melalui pameran karya-karya yang mendapat award dan karya-karya yang masuk nominasi. Contemporaneity adalah istilah dalam wacana seni rupa kontemporer yang sekarang ini menunjukkan pengertian serba kontradiktif karena tegangan gobalilty dengan multeity. Kontradiksi ini berpangkal pada pertanyaan sederhana yaitu, apakah global contemporary art memunculkan “keseragaman” atau di sebaliknya justru “keragaman”.
Keyakinan yang percaya pada kesergaman menekankan the present dan melihatnya berdasarkan faktor spatial yang membuat pengertian contemporary art mempunyai makna tetap dan pasti. Pengertiannya tidak dipengaruhi faktor temporal yang selalu membuat makna menjadi tidak tetap dan cenderung terus berubah.
Penekanan faktor spatial membuat keyakinan itu cenderung memutuskan the present dari sejarah contemporary art (catatan: selain dipengaruhi faktor spatial dan temporal semua makna dipengaruhi sejarah pengertiannya). Gejala ini tercemin pada upaya meninggalkan predikat “contemporary” dan menggantinya dengan predikat “now”. Muncul kemudian istilah “art now” yang sekarang semakin lama semakin banyak digunakan (khususnya di art market). Penggunaan “art now” ini seperti kembali pada identifikasi “the cutting edge” pada avantgardisme modernis
Pada keyakinan itu, pengertian contemporaneity yaitu “the quality of belonging the same period of time,” dan “the quality of being current or of the present ” sama sekali tidak bermasalah. Pada keyakinan ini semua seniman di seluruh dunia (khususnya generasi sekarang) adalah contemporaries, bersama-sama berada pada masa kini. Bersama-sama mempraktekkan “the” contemporary art yang membawa tanda-tanda globality (life style, metropolintanisme, kehidupan urban dan coolness).
Keyakinan yang sebaliknya justru percaya bahwa gobal contemporary art memunculkan/menegaskan keragaman karena lingkupnya dalam kenyataan mengalami peluasan. Keyakinan ini melihat pentingnya faktor temporal pada pengetian contemporary art setelah berkembang 40 tahun. Karena itu perlu dicari perubahan makna contemporary art yang biasanya ditemukan pada perubahan tanda-tanda bahasa. Pencarian perubahan makna ini tidak bisa mengabaikan penelusuran sejarah pengertian contemporary art.
Di sini contemporaneity adalah istilah di mana perubahan tanda-tanda bahasa itu bisa ditemukan. Premis pencarian ini adalah kesadaran bahwa contemporaneity bukan istilah “tidak bermasalah” seperti pada pengertian art now. Contemporaneity di sebaliknya adalah “istilah yang bermasalah”. Berdasarkan keyakinan keyakinan pada keragaman global contemporary art membuka pembahasan contemporaneity dan menempatkannya pada tingkat mediasi. Inilah discoursing contemporaneity.
Pencarian itu bisa dilakukan dengan mengkaji “art sensibility ” yaitu notion of art at large melalui kaca-mata pluralis. Dalam arti, mengaktifkan kembali kesadaran yang sekarang ini sudah mulai memudar, yaitu mengakui art sensibility sebagai gejala universal namun menyangkal art phenomenon sebagai realitas satu substansi yang punya esensi absolut dan universal.
Pameran Biennale Indonesia Art Award 2010 ini bisa menunjukkan art in Indonesian sense yang mendasari perkembangan seni rupa sejak awal Abad ke 20 sampai sekarang dan menyebabkan seluruh garis perkembangannya—pada era modern mau pun contemporary—menjadi berbeda dengan perkembangan seni rupa di Eropa, Amerika Serikat yang sekarang ini memunculkan “art now”. Perkembangan seni rupa di Indonesia ini sebuah tanda multeity pada global contemporary art.
Pemberian Hadiah dan Pembukaan Pameran
Biennalle Indonesia Art Award 2010
CONTEMPORANEITY
Akan dibuka oleh Bapak Ir. Ing. Fauzi Bowo (Gubenur Provinsi DKI Jakarta)
Opening: Thursday, June 17, 2010 at 7:00pm
Closing: Sunday, June 27, 2010 at 7:00am
Venue: Galeri Nasional Indonesia
Address: Jalan Medan Merdeka Timur 14 Jakarta, Indonesia