PARADOKS KOSMOPOLIT
Tommy Awuy (Kurator)
Kosmopolit (cosmopolite) sebagai sebuah konsep sesungguhnya sudah memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Sebelum para pemikir (filsuf) Yunani Kuno menciptakan konsep kosmos, realitas kehidupan masih dianggap keos (chaos). Konsep kosmos dan chaos dipandang sebagai dua watak yang bertentangan. Chaos terjadi karena unsur-unsur realitas aktif di dalam dan bagi dirinya sendiri dan karenanya kehidupan menjadi tak menentu dan tak bertujuan.
Alkisah, ketika orangYunani Kuno pada sekitar abad ke-6 SM mulai tertarik untuk mempertanyakan inti dari segala sesuatu atau realitas maka menyeruaklah konsep kosmopolit tersebut, bahwa inti realitas adalah materi, air, udara, api, terbatas, tak terbatas, cinta, benci, dan sebagainya. Plato kemudian menghantar persoalan filosofis tentang realitas ini pada keyakinan adanya sebuah “perekat” atas semua unsur kehidupan yang memungkinkan tak menuju pada ketiadaan atau kehancuran. Bagaimana membayangkan bahwa sesungguhnya keos nyaris tak eksis apabila tanpa ada suatu “perekat” atas unsur-unsur kehidupan. Kenyataannya, semakin ke depan semakin pasti bahwa realitas memiliki orde, tatanan, dan perekat dari setiap unsur alam kehidupan yakni logos (kata). Jadi, kosmos tak lain adalah rekatan antar setiap unsur oleh logos. Kosmos bagi orang Yunani adalah sebuah harmoni, prinsip ketertiban, logos itu sendiri. Maka Plato dengan sangat yakin mendirikan sekolah pertama di dunia yang dinamakannya Akademia, dengan dasar logos. Guru Plato, Socrates, sebelumnya sudah memproklamirkan dirinya sebagai warga dunia, warga kosmos.
Kosmos dalam pengertian sekarang diartikan sebagai rekatan antar benua yang lebih akrab dengan sebutan global! Keberadaan pengertian ini terlebih lagi ditentukan oleh keterbukaan diri oleh setiap negara menjadi ”pergaulan dunia” terutama sejak didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sudah tentu hal ini tak terlepas dari kekuatiran bersama atas ancaman-ancaman yang sangat signifikan atas harmoni kosmos dengan terjadinya Perang Dunia I dan II setelah dibelah oleh ”penjajahan semantik” menjadi Dunia Barat (Occidental) dan Dunia Timur (Oriental). Tertib kosmos didasari pada konstruksi perdamaian dengan simbol masing-masing negara yaitu bendera yang kemudian menjadi tidak lagi begitu signifikan dengan munculnya teknologi informasi.
Kosmos, global, wolrd, universe, manca negara, merupakan sederetan istilah atau konsep yang paralel dan sebenarnya memiliki problematika yang cukup kompleks secara politis, kultural, terlebih bisnis. Pergaulan dunia pun tidak secara langsung menjamin harmonisasi secara utuh karena kita bisa memilah-milah sudut pandang dan membuat pengertian sendiri tentang apakah yang kita maksudkan dengan kosmos, cosmopolite?
Pameran kali ini dengan thema Cosmopolite di Philo Art Space oleh Kelompok EAST , tidak lain mengacu pada masalah kompleksitas di atas. Memilih thema ini memiliki alasan tertentu, pertama atas pertimbangan keberadaan dari kelompok EAST itu sendiri dengan personnya masing-masing: Eko (Anugrah Eko Triwayono) Ade Koesnowibowo (Ade Ebo), Sapto Aji, dan Totok Basuki. Pertemanan mereka dibina sejak tahun 1980-an ketika kuliah di ASRI-Yogya (sekarang ISI) dan sekalipun Totok Basuki tinggal di Australia tetap saja pertemanan mereka langgeng. Sudah tentu, hal ini karena teknologi informasi telah menjadikan luasnya kosmos seperti ”kampung gede” (global village) dan memungkinkan terjadinya kontak setiap saat. Lebih pasti lagi, semangat berkesenian merupakan dasar perekat bagi pertemanan mereka.
Alasan lainnya adalah perenungan mereka atas makna hidup tak pelak terpengaruh oleh isu-isu keseharian yang melintas di hampir semua benak manusia seperti; kekuasaan, kekerasan, harapan, arogansi, optimisme, ketakberdayaan, dan sebagainya. Berbagai persoalan hidup seperti ini memang sama-sama mengemuka dan seolah mengiang dan terus melayang-layang bebas di ruang kesadaran maupun ketaksadaran manusia masa kini, bahwa di balik kecanggihan pencapaian teknologi yang dihasilkannya ternyata seringkali ia masih terpedaya oleh naluri-naluri yang menutupi akal sehat. Situasi ataupun kondisi paradoksal kehidupan antara awal anjakan dan lompatan jauh kedepan tetap saja terus memunculkan banyak persoalan kosmopolit yang sangat menarik untuk dijadikan alasan kreativitas.
Kelompok EAST tidaklah bermaksud mengangkat semua persoalan kosmopolit dengan tampilannya sebagaimana kita bisa saksikan sehari-hari di media massa. Mereka tidak menangkap atau merekam kesemarakan dan kesemrawutan peristiwa sebagaimana adanya lalu terkesan verbal namun lebih melihat pada kesan-kesan kemanusiaan yang dimunculkannya. Ujung-ujungnya kosmopolit bagi mereka sesungguhnya merupakan masalah antropologis, pergulatan manusia itu sendiri dalam memaknai keseharian hidupnya, bergulat dengan ruang, warna, dan tingkah laku yang bukan hanya dipahami dan dipraktekkan oleh orang per orang tapi oleh antar-individu. Berharap hidup dalam ruang dan warna dan perilaku yang menyejukkan hati dan semangat untuk memaksimalisasikan potensi diri tentu saja bersemayam di setiap benak manusia dan itulah sebenarnya yang ingin dicapai oleh konsep kosmopolit itu.
Eko misalnya sangat mengedepankan dimensi kemanusiaan yang terkait langsung dengan ruang hidup keseharian dalam karya-karyanya. Ia merefleksikan realitas yang nampak tidak nyaman untuk dihuni karena ketimpangan perilaku manusia itu sendiri termasuk dirinya sendiri sebagai subyek di dalamnya. Nampaknya ketimpangan, penderitaan, kesengsaraan tidak beranjak jauh dari sejarah manusia dan khususnya sejarah bangsa-bangsa. Problem kosmolopit masih menyisakan proyek keadilan (justice) yang harus diselesaikan sekalipun jelasnya sisi antropologis manusia itu sendiri yang seringkali menghalang, misalnya pada usaha pengambilan keputusan. Karya berjudul Sama-Sama Kepala Batu adalah contoh satirik dari masalah relasi antar manusia yang menyebabkan hidupnya gampang terkotak dan masing-masing mengambil posisi yang tak mengenakkan.
Merenungkan fenomena kosmopolit bagi Eko harus dimulai dari kaki kita sendiri untuk mencoba berdiri tegak. Kelima karyanya merupakan sebuah narasi anak negeri yang pada dasarnya melangkah masih terseok-seok di antara kemegahan dan kemewahan yang membekukan. Kegemasan untuk eksis acapkali berakhir dengan ketidakberdayaan secara total sehingga diri tak lagi mampu bergerak, bahkan lebih jauh lagi matapun tak sanggup memandang dunia kehidupan sekitarnya sebagaimana pada karyanya No Action. Eko sengaja mencampuraduk sikap optimistik dan pesimistik untuk kemungkinan kita bisa belajar mengambil sikap terhadapnya dan jangan lupa, bagaimanapun tetap masih saja ada sesuatu yang kuat tetap tinggal, yakni rasa cinta betapapun negeri ini coreng-moreng adanya, My Lovely Country.
Ade Ebo di sisi lain tapi dengan asumsi yang hampir sama menampilkan geliat pencarian diri manusia. Teknik dan ekspresi estetiknya tak beranjak jauh dari pilihannya semula, dunia perwayangan namun terus berusaha menisik relevansinya dengan kondisi kekinian. Kita lihat saja dan selayaknya bertanya bagaimana relasi antara tampilan tokoh-tokoh perwayangan, laptop, fesyen kontemporer, minyak, rakyat kecil, red wine,dan sebagainya? Sekilas unsur-unsur tersebut hanya dimunculkan begitu saja dan nyaris tanpa makna. Namun tak terhindarkan justru gejala deformatif seperti itu merupakan gambaran yang tidak bisa dipaksakan untuk menerima suatu referensi lalu dari sana memampukan kita mendefinisikan realitas.
Ade dengan penuh rasa optimisme menganggap bahwa apa yang kita pahami sebagai kondisi kosmopolit adalah sebuah kelit-kelindan berbagai unsur yang dari sana justru bisa membebaskan imajinasi kita untuk memaknai hidup. Kenyataan demikian mencolok mata bahwa pemisahan secara dikotomistik antara realitas yang masuk akal dan tidak masuk akal justru dengan sendirinya mempertanyakan akal itu sendiri. Lagi-lagi paradoks tidak bisa dihindari betapapun di satu sisi keinginan kuat membangun rasionalitas itu ada. Watak manusia modern terutama urban senantiasa menuju pada hasrat pemenuhan kebutuhan hidup tak peduli masih terasa kuat kendala-kendala ekonomi dan pengetahuan yang harus diatasi. Media massa seakan tak pernah istirahat sedetikpun membombardir kegemerlapan hidup lewat iklan-iklan yang terasa wajib untuk memilikinya meski bukan sebagai kebutuhan dasar dan sebenarnya tak cukup punya modal untuk itu. Dan media massa pun di balik itu menawarkan janji-janji dengan berbagai referensi termasuk menghidupkan kembali primbon sebagai petunjuk mencapai kesuksesan. Ade sangat jelas menyampaikannya lewat karya berjudul Ketig Reg….Karakter kosmopolit atau globalisme di sini adalah primbonisme.
Sedangkan Sapto Aji memandang kosmopolit adalah sebuah paradoks antara kekerasan dan kelembutan sebagaimana dengan mencolok ditampilkannya dalam karya Raflesia dan Doa dari Biara. Konsep kosmopolit di sini mencuat sebagai bentukan yang bernapaskan kekuasaan sebagaimana pada karya Kosmos Milikku, The Best Actor dan Drakula Tanah Leluhur, dan kenyataannya hal itu tak bisa lepas dari simbol maskulinitas dan feminitas; bunga, doa, dan peluru.
Kekuasaan pada intinya selalu menampilkan dua wajah arogansi dan rayuan. Sapto mengambil contoh yang demikian dekat untuk sekarang ini sebagaimana terlihat pada karya Kosmos Milikku. Wajah dalam karya ini memiliki referensi kuat sebagai wajah Presiden Amerika, yang bagi Sapto dilihat dari sudut kekuasaan maka selayaknyalah seorang presiden dari negara adikuasa untuk bersikap arogan jika ingin disegani oleh kawan maupun musuh-musuhnya. Hanya orang yang memiliki jiwa arogan yang mampu membuat janji-janji, lalu apakah itu akan ditepati atau tidak, urusannya belakangan saja dan ketika janji-janji itu disampaikan akan dengan sendirinya dibangun oleh senyuman semanis mungkin.
Sementara Totok Basuki menampilkan pemahamannya tentang kosmopolit lebih sebagai wilayah bentuk dan dengan demikian dia membacanya sebagai simbol khususnya pada karya-karyanya yang bergaya abstrak. Hal ini mengingatkan kita pada awalnya konsep kosmos itu muncul. Kosmos sebagai sebuah konsep memang adalah dunia abstrak menurut Plato, logos, dan hanya bisa kita pahami lewat penalaran (rasio).
Ruang-ruang dinamis dan warna-warna ceria bagi Totok menyimbolkan optimisme dan harapan. Namun pada karya figuratif berjudul Hero kita mungkin saja terkejut dan digoda untuk bertanya, optimisme dan harapan seperti apa kalau wajah sebenarnya dari simbol ternyata adalah sebuah tengkorak? Belum sempat kita bersoal-jawab secara tuntas, kita sudah disodorkan lagi dengan pertanyaan, apakah maksudnya dengan figur badak sebagai Penjaga Alam? Atau dilihat sebaliknya pun, dari Penjaga Alam ke Hero misalnya, tetap saja simbol-simbol ini menyimpan misteri atau lebih tepatnya paradoks. Lagi-lagi kosmopolit tak lain adalah sebuah realitas paradoksal, dan akan di sana kita bermain-main, di satu sisi ruang kita seperti tercengkram oleh struktur yang tak kenal kompromi tapi di satu sisi dalam ruang yang sama itu kita pun bisa dengan seliar mungkin berimajinasi.
Start Time: Wednesday, April 14, 2010 at 8:00pm
End Time: Wednesday, April 28, 2010 at 6:00pm
Venue: PHILO ART SPACE
Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12540 INDONESIA