Dzikir Putih

Solo exhibition by Kyai Fuad Riyadi

DZIKIR PUTIH
SUBLIMASI KESADARAN EKSISTENSI, SPIRITUALITAS
DAN IDEOLOGI ESTETIKA
Netok Sawiji_Rusnoto Susanto*Kurator

“Dari khayalan bawalah aku menuju kenyataan!
Dari kegelapan bawalah aku menuju cahaya!
Dari kematian bawalah aku menuju keabadian!”
(Brihad-aranyaka Upanishad)

“Visual content are taken up, utilized and sublimated to the level of thought”
(Maurice Merleau-Ponty )

Dzikir Putih diusung sebagai subject matter keseluruhan karya-karya Kyai Fuad Riyadi pada pameran yang dipresentasikan di Jogja National Museum pada 23 April 2010 sebagai upaya menuntaskan hasratnya pada pameran tunggal sebelumnya di Bentara Budaya pada 12 September 2009 silam, seolah hendak mempresentasikan kemasan dimensi spiritual religiusitas dengan melakukan transformasi ikhwal substansial dzikir. Bagaimana sesuatu yang awalnya intangible dan mungkin tak tersentuh lapis terdalamnya bagi kebanyakan awam kemudian dinarasikan dengan bahasa visual. Saya memahami bahwa ini bukan sesuatu yang berlebihan karena dzikir dalam atmosfer pesantren merupakan hal biasa apalagi bagi seorang Kyai Fuad Riyadi yang merintis sekaligus memimpin pondok pesantren Roudlotul Fatihah sudah secara langsung menyatu dalam laku spiritual kesehariannya.

Pada serangkaian aktivitas kreatifnya Kyai Fuad mentreatment dirinya sebagai upaya meterjemahkan dzikir-dzikir siang-malamnya sebagai mediasi menyatukan diri dengan Tuhan dan semesta. Berbagai hal hendak dipaparkan dalam karya-karya visualnya dihadapan kita semua mulai dari kegelisahan mendasar manusia mengenai pencarian/penguatan kembali nilai keTuhanan, nilai humanistik, kepasrahan dan kekuatan-kekuatan psikologis serta karomah dzikir yang ditebar pada lapis tertentu. Ini juga terbatas pada orang-orang tertentu yang mampu menerjemahkan gagasan sekaligus esensi spiritualitasnya.

Terasa lengkap jika dasar-dasar pemikirannya terpahami dan terhantar dengan baik pada situasi yang menggerakan segenap empaty kita pada satu titik kesadaran tertentu untuk sekedar membuka pintu masuk dengan sejumlah anak kunci yang kita siapkan dengan ground/reference tertentu. Untuk segera membantah berbagai tesis dogmatis bahwa sesuatu yang bersifat religiusitas tak terbantahkan. Karenanya pada karya-karya visual ini membuka berbagai peluang ke arah itu. Dan, saya berharap pada karya-karyanya dapat memberi pencerahan tertentu pada setiap penikmat ketika paling tidak merasakan vibrasi di tiap penggalan-penggalan aura dzikir sebagai penjembatan menemukan aspek-aspek religiusitas.

Dzikir Putih: Membaca Tanda dan Memaknai Kembali Artikulasi Spiritual
Satu pernyataan penting Kyai Fuad mengenai esensi dzikir bahwa dzikir merupakan sebuah mediasi untuk mengingat Sang Khaliq yang secara signifikan berelasi dengan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Tuhan maha berkehendak maka dengan dzikir sejatinya kita tengah berada pada kesadaran mengingat kehendak-kehendakNya. Mediasi semacam ini memungkinkan dimensi spiritualitas tercurah dalam tingkat sublimasi tertentu. Di sinilah muara segenap kesadaran eksistensi spiritualitas dan ideologi estetika tersublim.

Kemunculan sublimasi lahir dari serangkaian aktivitas kognisi dan kesadaran yang mendasarinya. Sebagian dapat didekati dengan sepotong pemikiran Ponty bahwa isi visual dihimpun, dipergunakan dan dihaluskan, dipilah-pilah dan disusun secara sistematis hingga pada tingkat pemikiran dan temuan kesimpulan tertentu sebagai tesis. Sublimasi dalam konteks Dzikir Putih ialah upaya kristalisasi yang mampu menambahkan nilai dan makna sekaligus umumnya diurai dalam fokus psikoanalisis dan ilmu kimia. Pada pendekatan psikoanalisis, sublimasi merupakan bentuk menemukan kembali atau mengarahkan kembali dorongan-dorongan instingtif dan menyusun kembali pada konstruksi substansi humanistik. Dalam perspektif religiusitas dapat dipahami mengenai seseorang menemukan kembali nilai-nilai spiritualitas keIllahian untuk pencapaian lived situation, menyuling kembali kognisi (cognitive redistill), memperhalus segenap dasar pemikiran serta tindakan relasi sosial –esensial- berhadapan dengan kondisi keterbukaan-keterbukaan (openness upon the world) yang bersifat eksistensial.

Eksistensi manusia kemudian tergantikan oleh sesuatu pemahaman tertentu yang dimunculkan oleh kekuatan pikirannya atau merancangnya kembali mengenai kehidupan yang lebih luas maknanya, yaitu sesuatu yang tak hanya tangible (visible) bahkan berbagai hal yang memiliki kekuatan unsur intangible (invisible) seperti aspek semangat (spirit) keIllahian. Kemudian sublimasi membalikan kekuatan tersembunyi manusia di dalam eksistensinya dan memberikan ketegasan arikulasi khusus, segar sekaligus keluasan jangkauannya. Artikulasi khusus yang dimaksud langsung bertalian dengan bahasa ungkap seorang Kyai ketika terlibat dalam ruang aktivitas kreatif tentu memiliki warna dan kekhasan personal. Idiom formal yang muncul kemudian berjarak dengan kecenderungan idiom formal lainnya yang senantiasa mengacu pada aspek estetika umum. Bahkan begitu ketat melibatkan berbagai kekuatan eksplorasi teknik dalam upaya pencapaian pencitraan estetika (mengacu kaidah-kaidah akademik) yang umum pula. Karena yang terpenting baginya ialah sebuah pelepasan emosi dalam pemahaman tertentu untuk menebarkan hikmah dan karomah dzikir dalam konteks-konteks khusus yang diritualkan. Pelepasan semacam ini bagi saya adalah upaya banyak orang ketika ia berada pada lautan tanda dan kesadarannya untuk melesapkan sebagian kecil tanda yang tak terpahami bahkan tak terjemahkan secara visual. Memang ada sebuah keniscayaan meski dihadapkan pada dimensi absurditas sekalipun untuk menerjemahkannya dalam bahasa visual sebagai cara ungkapnya namun seringkali faktanya dapat mereduksi substansi.

Merelasikan karya-karya abstrak Kyai Fuad dengan term eksistensialis tentu menarik karena keduanya saling bersenyawa pada karya-karya tersebut hendak bertutur perihal invisible seputar kesadaran spiritualitas manusia terhadap gugus keyakinan yang berbanding lurus ketika didekatkan dengan kesadaran eksistensi humanistik yang ditebarkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Relasi humanistik dan relasi keIllahian sekaligus. Merleau-Ponty (1968: 145) dalam buku The Visible and The Invisibel : ‘Tesis ini menunjukkan bahwa terdapat ‘sesuatu yang ada’ yang bersifat pembawaan dan esensial. Persoalan kita adalah menunjukkan bahwa pikiran, dalam arti sempit (penglihatan murni, pikiran tentang perasaan dan penglihatan) hanya bisa dipahami sebagai kecakapan dengan kata lain yaitu kehendak akan ‘sesuatu yang ada’, karena itu sublimasi atas ‘sesuatu yang ada’ tersebut dan mewujudnya sesuatu yang tak bisa dilihat sebetulnya kebalikan dari sesuatu yang bisa dilihat yaitu kekuatan dari yang bisa dilihat’.

Tesis tersebut seolah menunjukkan kepada kita adanya interelasi aspek-aspek yang saya sebutkan di atas. Dimensi spiritual yang dicuatkan sekaligus dihadapkan kepada kita itu semacam paparan imajinatif ketika kita semua mengingat sesuatu (ruang virtual) yang mampu mensugesti pikiran dan kesadaran terjauh kita mengenai ihwal hakikat kemanusiaan, fenomena alam dan gejala-gejala tertentu semua kehendakNya. Nuansa puji-pijian dalam karya visualnya memberikan vibrasi spiritual dengan permainan emotif pada barik-barik (tekstur) dan lipatan-lipatan warna saling tindih. Misteri keIllahian dapat diresapi dalam tiap lelehan brushstroke yang digelandang mengikuti kodrat kebendaan yang dinyawakan pada bagian tertentu. Intensi spiritualitas tersebut memberikan efek psikis baginya terutama dan orang lain untuk membangun relasi dan sebagai sebuah bentuk kedekataNya. Memang tak dapat langsung menjelaskan soal-soal tersebut namun muatan itu berada dalam nadi setiap karyanya.

Kyai Fuad seakan bertutur tentang proses intensi mental via self-knowledge, meminjam yang diyakini Husserl. Pokok pangkal kesadaran (consciousness) tak bisa digambarkan dengan kata-kata, namun dapat dirasakan vibrasinya. Impulse tertentu muncul dan ditangkap –diungkap- sebagai gejala visual yang paling tidak merepresentasikan persepsi personal mengenai ikhwal spiritualitas. Gejala serupa acapkali terabaikan sebagian orang dengan memprioritaskan ikhwal lainnya yang biasanya lebih bersifat materialistik, yang terekam cepat tak bertele-tele merasakan sentuhan-sentuhan liris yang bergerak di penghujung malam maupun pada penghujung kesadaran kita. Yakni, gerak laju persepsi dipikirannya dengan kekuatan kognitif sekaligus intuitif serta obyek-obyek yang disimbolkan disekitarnya sebagai realitas subyektif yang dipahami, bersetubuh dalam satu ketunggalan dengan jiwanya.

Kesadaran Menebar Esensi Dzikir, Religiusitas dan Konteks Ideologi Estetika
Meminjam konsep eksistensial (Prarefleksi/Ketaksadaran) Maurice Merleau-Ponty ketika tengah mempersoalkan konsep spontanitas, tindakan refleks, dan pikiran autentik. Konsep-konsep tersebut setidaknya memiliki makna genetis dan makna material. Makna genetis dipahami sebagai makna yang mencuat dimana pada masing-masing konsep melekat dasar eksistensi dunia mendahului kesadaran (prereflektive existence), sedangkan makna material ialah makna dimana konsep-konsep tersebut akan menjadi berarti bergantung sekaligus mengacu kepada tingkah laku simbolis (symbolic behavior). Artinya bahwa konsep-konsep tersebut tidak sekedar mengacu kepada benda-benda konkret saja namun dapat pula mengacu pada daya fantasi dan imajinasi seseorang. Bukan semata-mata melihat dalam arti pandangan ke depan atau vision seperti ulama membayangkan surga dengan lebih menggambarkannya dalam dunia imajiner (visual) yang dibangun atas dasar pengetahuan kognitif dengan sejumlah pengalaman empiris spiritual religiusitasnya sedangkan seorang seniman menempa artikulasi estetika yang dibangun dengan serangkaian kepekaan -kemampuan teknis artistik dan pengembaraan estetiknya- sebagai manifestasi keluasan, keluwesan dan keliaran intuitifnya.

Secara evolusioner, humanisme dalam konteks eksistensialis merupakan tahap dimulainya paradigma manusia sebagai sentral beranjak dari tahapan evolusi kosmosentris, ketika tahap kosmosentris berakhir manusia kemudian merubah paradigma pemikirannya dengan memusatkan diri pada teosentris (ke-Illahi-an). Kemudian terjadi revolusi dramatis ketika posmodern membentuk eksistensi sekumpulan identitas yang terbatas dan geliatnya terfragmentasi menjadi deretan identitas saling bersaing yang cenderung tidak stabil. Secara historiografi modern menjadikan manusia menyadari bahwa masa lalunya ternyata dapat dimanipulasi sekaligus masa depannya dapat dirancang oleh manusia itu sendiri. Ketika kesadaran intelektual manusia semakin cerah dan dapat menyadari posisi sentralnya kemudian ia mampu mereduksi pengalaman empirik dan kreativitasnya untuk menemukan ilmu pengetahuan secara induktif. Karakter humanistiknya menjadi arus yang menempatkan manusia sebagai pelaku utama sejarah dan pusat rajutan sekaligus sumber makna segala aspek. Pada akhirnya mereka malah menghadapi pekerjaan lebih banyak dibandingkan sekedar memikirkan, yaitu untuk menjadi sesuatu yang baru, untuk menegaskan sesuatu yang baru, untuk merepresentasikan nilai-nilai baru. (Friedrick Nietzsche, 2002:189)

Nah, pada posisi inilah Kyai Fuad sesungguhnya tengah memanifestasikan kesadaran-kesadaran kosmosentris sekaligus teosentris dalam narasi visual yang sungguh tak pelak dari sanggahan. Mengingat pemilihan atau kecenderungan bahasa visualnya bukan narasi yang begitu saja mudah dikonfirmasi pada aspek-aspek perwujudan ideal umumnya namun ada sesuatu yang diusung yakni menebarkan kekuatan dzkir visual dengan representasi individualnya. Paling tidak ia menegaskan kembali sikap kesenian dan ideologi estetikanya dengan temuan-temuan teknik artistik sekapasitasnya yang mampu mentransfer spirit dzikir dalam berbagai konteks tentunya.

Menyoal ideologi estetika maka bertalian langsung dengan berbagai hal tentang bagaimana seorang seniman mengartikulasikan pemikiran dan perenungannya secara jujur dan personal. Ini semacam kristalisasi gagasan yang diyakini dan dihayati layaknya garis hidup yang tak dapat ditolak apalagi tak ada kekuatan melepaskannya. Ideologi bukan sekedar personifikasi personal atas berbagai hal yang dipahaminya sebagai sebuah nilai kepasrahan dalam menemukan keIllahian. Pernyataan Kyai Fuad bahwa; ‘konsep lukisan saya berangkat dari satu perasaan ke perasaan lainnya. Prasaan-perasaan itu ada kalanya hingga menjarah ke hal-hal kuno. Misalnya tentang Dzikir Tao. Bagaimana seorang filosof Cina bernama Tao mencari Tuhannya. Ini sama dan sebangun dengan Nabi Ibrahim AS ketika mencari Tuhan. Ia melihat bintang di langit, “Oh itu Tuhan”. Beliau melihat bulan, “Oh itu Tuhan”. Beliau melihat Matahari, “Oh itu Tuhan”. Itu semua cerita tentang syari’at, yang sebetulnya dari peristiwa itu kita mesti merasakan hakekatnya.

Filsafat Cina menekankan sifat komplementer antara pengetahuan intuitif dan rasional serta mempresentasikannya dalam pasangan pola dasar (arketipe) yin dan yang dalam membangun dasar pemikiran Cina. Sejalan dengan itu, dua tradisi filosofis yang komplementer –Taoisme dan Confusianisme- dikembangkan di Cina Kuno untuk bekerja pada kedua pengetahuan tersebut. Titik tolak pengetahuan rasional diperoleh dari pengalaman empiris dengan berbagai objek dan peristiwa dalam lingkungan sehari-sehari. Pengetahuan tersebut bersifat penalaran yang berfungsi membedakan, distingsi, komparasi, mengukur dan identifikasi suatu peristiwa. Dengan begitu tercipta sebuah dunia distingsi nalar; dari berbagai hal berkebalikan yang eksis dalam relasinya dengan hal lainnya menjadi alasan bagi seorang Buddhis menyebut jenis pengetahuan ini sebagai sesuatu yang ‘relatif’. Pada perspektif inilah gejala pemikiran Tao memberi inspirasi bagi banyak kalangan termasuk seorang Kyai Fuad Riyadi yang konsern pada kedalaman spiritualitas religi Islam, kemudian menatapnya dari berbagai perspektif, termasuk perspektif Taoisme. Memang Tao disini bukanlah fokus yang diwacanakan dalam pemikiran dan karya-karyanya.

Zein Buddhis berpesan bahwa jari diperlukan untuk menunjuk bulan, tapi jangan sampai kita menyusahkan diri sendiri dengan jari itu segera setelah bulan bisa kita kenali. Saya tertarik dengan tutur bijak orang Tao, Chuang Tzu (1971: 26) bahwa; jaring dipakai menangkap ikan, ikan didapat, lupakan jaringnya; jerat dipakai menangkap kelinci, kelinci tertangkap, lupakan jeratnya; kata-kata dipakai membawa makna, makna terpahami, lupakan kata-katanya”. Saya segera teringat seorang pakar semantik Alfred Korzybski menyatakan hal yang persis dengan ungkapan tegasnya “Peta bukanlah wilayah”.

Sedikit sikap tegasnya yang mendasari pemikiran dan proses kreatifnya bahwa “dalam melukis, saya tidak sedang berbicara syari’at. Saya bicara hakekat dan esensi. Saya menyapa manusia dari awal sebelum adanya kata-kata, dan berakhir di titik awal pula ketika semua kata-kata kreasi manusia itu melebur menjadi makna. Saya bergaul tidak hanya dengan orang Islam (Muslimin-muslimat). Saya bergaul dengan berbagai kalangan. Tidak mungkin saya menyapa orang Hindu dengan kata-kata Qur’an, karena mereka punya keyakinan dan saya punya keyakinan. Mereka punya massa begitupun saya. Saya menyapa mereka dengan tidak memakai tulisan, bentuk, simbol atau yang lainnya. Saya menyapa mereka dengan perasaan saya. Dalam konsepsi seperti ini yang cocok adalah lukisan jenis abstrak”.

Lagi-lagi saya harus merujuk referensi yang memiliki pandangan sangat dekat dengan pemikiran-pemikirannya. Seperti yang menjadi fokus khusus para mistikus Timur adalah pengalaman langsung atas realitas bukan sekedar melampaui dasar pemikiran nalar tetapi juga persepsi inderawi. Cermati saja pernyataan-pernyataan Upanishad dalam Fritjof (2000: 19) bahwa;

“Tak bersuara, tak tersentuh, tak berbentuk, tak termusnahkan;
tak terasa, tak bergeming, tak tercium;
tanpa awal, tanpa akhir, lebih agung dari yang agung, tak berubah;
dengan mengenali-Nya, orang terbebas dari mulut kematian”.

Dalam sejarah panjang kehidupan di India, Cina dan Jepang berbagai macam teknik, ritual dan kesenian telah dikembangkan untuk mencapai tujuan tertentu yang biasa disebut proses meditasi. Begitupun pada wilayah proses kreatif, seseorang dapat melakukan ritual tertentu seperti pada konteks kesenilukisan Kyai Fuad Riyadi yang menjadikan dzikir sebagai mediasi membuka kemungkinan pencapaian-pencapaian nilai spiritual yang diaktualisasikan dalam bidang kanvas. Sebut saja pada karya; Wolo-Wolo Kuwato, Rimba Barokah, dan Rajah Raja Rajah Kyai Fuad begitu intensi memasukan dzikir ratusan bahkan puluhan ribu kali ketika sebelum berlangsung, dalam proses kreatif maupun setelah proses kreatif dilangsungkan. Dengan harapan karya-karya tersebut dapat memediasi segenap kekuatan dari nilai spiritual yang dikandungnya atau yang dapat ditebarkan melalui pesan visual melalui gelombang elektro magnetik pada serangkaian proses kuantum. Bahkan beberapa karya setelah dirampungkan kemudian dipajang pada ruang pendopo dimana biasa dipergunakan sebagai tempat shalat, dzikir dan melukisnya, dengan demikian semua lukisan memperoleh vibrasi -yang sengaja dimasukan- dzikir secara berjamaah 100-150 orang terlibat sebagai jamaahnya selama 40 hari lamanya. Menurut banyak santri dan Kyai Fuad Riyadi sendiri efek dzikirnya begitu terasa dalam tiap karyanya hingga beberapa karya dipergunakan sebagai media penyembuhan dan peruntungan.

Paradigma semacam ini bukan sekadar interpretasi lain atas realitas, lebih jauh lagi paradigma semacam ini dikonstruksi secara kultural dan memberi ruang renung bagi paradigma baru dengan pandangan dunia spiritual secara holistik. Fritjof Capra, (2000: xxvii) dalam The Tao of Physics, Armahedi Mahzar menyampaikan pengantarnya, bahwa Filsafat Idealisme mengambil fakta ini dan bergerak ke arah spiritual: segala sesuatu adalah hasil proses pemikiran mendalam. Filsafat Post-structuralisme mengambil gagasan serupa, tetapi sedikit lebih liar dan jauh dari nuansa spiritual: realitas yang sampai pada kita bukanlah persepsi tetapi interpretasi. Meski mental imagery dari suatu objek sebagian memang merupakan spiritual dipandu secara signifikan oleh aspek-aspek intrinsik dari pengetahuan inderawi.

Namun, jika kita amati secara seksama karya-karya tersebut yang kemudian mencuat paling representatif justru dari karya-karya seni abstrak ’non-representative object’ yang mengemuka. Permainan aspek visual yang muncul dari kedalaman pemahaman kognisi dan afeksinya yang melampaui aspek fisik yang nyaris tak terdedah oleh banyak peneliti. Meski kadang tak sedikit pelukis abstrak yang bersikap kenes, dengan menambahi diom formal tertentu untuk memberi citra kontemporer.

Kecenderungan ekspresi sebagai bagian terpenting olah spiritualitas yang dikelolanya dengan persepsi intersubjektif dengan kekuatan getar ekspresi atau malah kecenderungan representasi karya sebaliknya yang emotif dan ada semacam pola pengabaian nilai atas seni itu sendiri. Aspek-aspek teks visualnya acap kali melampaui kendali konsepsi, artinya kepekaan estetik semakin menajam di tiap proses penciptaan meskipum lazimnya teks visual selaras atau linier dengan pokok pikiran.

Penutup
Wassily Kandinsky (1914: 47) dalam Concerning the Spiritual in Art dengan pemahaman kebenaran fundamental, sebuah inner feeling menciptakan mata rantai yang kokoh dalam mengusung dan melakukan pergulatan dan pendalaman spiritual sebagai proses penciptaan seninya. Proses pendalaman spiritualnya lebih mengedepankan proses presentasi –bukan sekadar deskripsi ‘simbolisme’ logis, tetapi representasi simbolik tidak mengemukakan sebuah konsep langsung. Simbolisme lokal –personal- dari pemikiran memberikan pada apa yang kurang dalam jiwa (penampakan alamiah dan fenomenal) jiwa dan makna. Ketika kesadaran estetik bertentangan dengan berbagai hal religi-mistik- simbolisme bebas, maka kualitas tertentu dari perlawanan konsep simbol muncul secara organis dan rasional.

Ide kesadaran estetik fundamental memberi paradigma baru terhadap kesadaran estetik terdapat unsur dogmatik. Perbedaan antara kesadaran mistis dan kesadaran estetik itu tidak mutlak, bukan sekadar konsep seni itu sendiri melainkan sebuah produk kesadaran estetik. Jelas, kita tidak lagi bermaksud hanya menciptakan relasi antara estetik dengan ‘estetika transendental’ ruang dan waktu kemudian tersublim oleh sebuah seni ‘kritisisme terhadap pertimbangan estetik. Tampaknya telah terjadi transformasi ide transendental tentang cita rasa ke dalam tuntutan ruang spiritual. Tetapi jika perbedaan antara realitas dan pencitraan –inter subjektif- menentukan konsepsi yang memecahkan kerangka kerja alam inklusif. Seni pada persfektifnya menegaskan klaim otonominya sendiri. Dan, sebagai kesadaran estetik menegaskan sebuah representasi secara total hubungan karya seni dan dunianya tidak lagi bermakna, sebaliknya kesadaran estetik adalah sentra pengalaman. Idealisme kini memiliki praktik spiritual mendalam, terpadu dan teruji, tergenerasi tidak sekadar menjadi spekulasi abstrak tanpa konfirmasi apapun. Kita semua berharap pada momen penting ini Kyai Fuad Riyadi sebagai ulama dan umaroh menegaskan berbagai kecenderungan-kecenderungan di atas dari perspektif spiritualnya agar memperoleh sekaligus memberi pencerahan secara spiritual.

*Kurator Independen, Perupa dan Dosen Luar Biasa Seni Rupa UNJ

Referensi
Capra, Frtjof. (2000), The Tao of Physics, Jalasutra, Yogyakarta
Chuang Tzu, (1971) terj. James Legge, disusun oleh Oae Waltham, Ace Book, New York
Kandinsky, Wassilly. (1914), Concerning The Spiritual in Art atau Pendalaman Spiritual Dalam Seni, terjemah Sulebar M. Soekarman (2007), Yayasan Seni Visual Indonesia, Jakarta.
Maurice Merleau-Ponty, Claude Lefort (Editor), The Visible and The Invisible, Evanston: Northwestern University Press, 1968.
Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, New York: Routledge & Kegan Paul, 1962.
Nietzsche, Friedrick. (1998), Beyond Good and Evil, (Prelude Menuju Filsafat Masa Depan), terjemah Basuki Heri Winarno (2002), Ikon, Yogyakarta.

WHITE DHIKR[1]
Transcendental Existential Awareness, Spirituality,
and Aesthetic Ideology
Netok Sawiji_Rusnoto Susanto*Curator

“From fantasy take me to reality!
From darkness take me into the light!
From mortality take me into eternity! “
(Brihad-aranyaka Upanishad)

“Visual content are taken up, utilized and sublimated to the level of thought”
(Maurice Merleau-Ponty )

Kyai Fuad Riyadi choose White Dhikr as the subject matter of his solo exhibition in Jogja National Museum, April 23rd 2010 as an effort to complete his mission from his previous solo exhibition back in September 12th 2009 in Bentara Budaya Yogjakarta. White Dhikr is chosen as part of his passion to represent spiritual dimension of his religiosity by transforming the essence of dhikr. It is interesting to observe how something intangible and almost unobservable by most people narrated with visual media. Of course, I understand that dhikr is not something unusual for Kyai Fuad Riyadi considering his career as the founder and leader of Raudhatul Fatikhah Islamic Boarding School.

Kyai Fuad considers his creative process as a media to communicate with God and the universe by transforming his endless dhikr every day and night into art work. He tries to explore various themes of human’s search for the divine value, humanistic value, compliance, psychological strength, and the blessing of dhikr in his paintings. However, it is also necessary to realize that these themes are “only visible” to those with the ability to translate the idea behind the art work as well as to capture the spiritual essence of the work.

The work of Kyai Fuad will be able to be completely understood if we employ our entire empathy towards a certain spiritual awareness based on our previous reference and knowledge. This way, we can feel that his works actually tries to argue the common understanding that religious teaching is dogmatic. I hope that his works will bring a certain level of illumination within the heart of its spectators as they browse through pieces of dhikr which help them find their way into their religious sides.

White Dhikr: Reading Sign and Reinterpret Spiritual Articulation
One important statement from Kyai Fuad about the essence of dhikr is that it is a medium to remember The Creator which significantly correlated with past, present, and future. God is The All Powerful, He who is Able to do what He wills as He wills (Providence). Thus through dhikr we situate ourselves to be conscious of God and His wills. This kind of mediation is the kind that enables the achievement of certain level of transcendental experience which marks the beginning of awareness of spiritual existence and transcendental aesthetic ideology.

This sublimation is born from series of cognitive activities and its underlying consciousness. A part of this occurrence can be explained with Ponty’s thought cited above. Other than that, sublimation in white dhikr can also be seen as an effort of crystallization of ideas and aspiration which can be further explained through the point of view of psychoanalysis and chemistry. Using psychoanalytical approach it can be observed that the sublimation in Fuad Riyadi’s work is a form of redefinition and reorientation of intuition to construct the essence of humanity. While in religious perspective, sublimation can be understood as a situation in which a person rediscover his potential divinity to achieve lived situation and to cognitively redistill his entire social relation in the face of existential openness upon the world.

The existentialist nature of human is then possible to be replaced with a certain understanding brought about by the strength of his mind to help him redefine life in broader sense, the life encompassing his spiritual and material aspects of humanity all at once. This sublimation then reverse the hidden strength of human being within its existence to generate a new articulation which is firm, fresh, and of wide range. This specific articulation related to the language of expression of Kyai Fuad which has personal particularity and color distinctiveness.

This distinctiveness can be seen through the employment of formal idioms within his works which is far from conventional. He tried to accomplish a certain level of artistic achievement with technical exploration which cannot be considered common even in academic tradition. He did so, because what is more important for him than traditional aesthetic achievements is an emotional release of a certain extent in order to express what he belief as the blessing or dhikr in various contexts of ritual. This kind of release, in my opinion is the effort of artist or someone within their consciousness to articulate even his almost untranslatable aspiration and expression into the language of visual even though they understand that sometimes the language of visual can reduce the substance of the meaning expressed.

It is interesting to relate the abstract art works of Kyai Fuad with the term existentialist because both intersect in the expression of the artist about the invisibility of spiritual consciousness in comparison with the visibility of daily humanistic existence. In other words, the works of Kyai Fuad express humanistic relation and spiritual relation all at once. Merleau-Ponty (1968: 145) in his book The Visible and The Invisible said, “This thesis shows that there is ‘an existence’ that is innate and essential. Our problem is to show that the mind, in the narrow sense (pure vision, thoughts of feelings and visions) can only be understood as proficiency or in other words the will of ‘existence.’ Thus, sublimation of this existence and the manifestation of visibility are actually the opposite of the visible which means the energy of the visible.”

This thesis shows that there is an interrelation between the aspects that I mentioned above. This spiritual dimension expressed by Kyai Fuad appears before us as an imaginative description of when we remember something (our virtual space) which can penetrate our deepest mind and conscious about the essence of humanity and the natural phenomenon as the manifestation of the will of God.

The atmosphere of praises to God in Fuad visual works give spiritual vibration through his emotive play on texture and layers of colors. The divine mystery can also be experienced thorough his brushstroke which seems to give spirit to the material expression. This spiritual intention within his works gives certain psychological effect for him as the artist and for us as the appreciator which further help both to articulate their spirituality and their closeness to God. His works of course cannot directly be seen as manifestation of meanings discussed above. However, we can feel his spiritual intention through the every beat of his works.

Fuad expresses this mental intention through what Husserl stated as self knowledge. The essence of consciousness cannot be manifested through words or visual expression but its vibration can be felt. We can capture and feel certain impulses of his works as Fuad’s personal perception on spirituality. These kinds of signs are often neglected by those who are reluctant to interact with their inner self and who prefer to capture the instance materialistic language of expression.

Awareness to Spread the Essence of Dhikr, Religiosity, and Aesthetic Ideology
Maurice Merleau-Ponty uses the concept of pre-reflection or unconsciousness when he discusses the concept of spontaneity, reflex, and authentic mind. These concepts have at least two meanings, genetic meaning and material meaning. Genetic meaning is the emerging meaning in which each concept is attached to the concept of world existence which appears prior to pre-reflective existence while material meaning is meaning in which each concept articulate their meaning through symbolic behavior. It means that each concept can be referred to not only the physical articulation but most importantly to imagination of a person. In the context of religiosity for instance, a preacher speak about heaven through his imagination of the visual world of heaven based on his religious knowledge while artist speak about for instance heaven in its spiritual essence by employing aesthetic articulation build through the sensitivity and the wilderness of his intuition combined with his artistic mastery and exploration.

Evolutionary, humanism in the existentialist context is moving from cosmocentrism to teocentrism to the fragmented competitive and unstable identity in the post modern era. Modern historiography brings human to the realization that their past can be manipulated and they can also design their future. It happens when enlightenment brought human to realize their position as the center of the universe and their ability to intuitively find the truth. It is the time when knowledge rises. The humanistic character of enlightenment places human as the central if their history and the sources of every aspects of their life. In the end, human is facing an even bigger task than to think and make sense of the world, which is to create something new and to present new values. (Friedrich Nietzsche, 2002:189)

Fuad chooses to manifest his cosmocentrical and teocentrical consciousness through visual narration although this form of articulation is still open for debate since his choice of visual representation is not as easy to be directly related to the common visual representation of this consciousness. However, we can see that through his work Fuad is reflecting the power of visual dhikr with a very personal and individual representation. At least he reaffirms his aesthetics ideology through the discovery of artistic techniques and his ability to transfer the spirit of dhikr in various contexts.

Officiated by :Mr. Idham Samawi

Host: Jogja National Museum and Sang Kyai Management
Start Time: Friday, April 23, 2010 at 7 PM
Venue: JOGJA NATIONAL MUSEUM
Address: Jl. Amri Yahya Gampingan Yogyakarta


Curatorial, Events, Exhibition