IWAN WIDJONO: THE FARMER SERIES

IWAN WIDJONO: THE FARMER SERIESIWAN WIDJONO: THE FARMER SERIES
“An artist can express something which is so personal or social yet still his function is the megaphone of the human conscience”

“PUBLIC! I think public is dead! The public is dependant on the market that is controlled by multinational corporations, IMF, World Bank, and includes United Nations, Stock Exchange, TVs, political issues/rumors, etc! Public have no power anymore, all controlled by market and weapon, in other way- controlled by fear and consumerism!” Iwan Widjono

“Seorang seniman bisa mengungkapkan hal yang sangat personal atau yang bersifat sosial namun tetap fungsinya adalah sebagai corong hati nurani manusia”.

Karya-karya “bermuatan” yang mengusung gagasan menyangkut kehidupan sosial politik dalam kancah seni rupa Indonesia memang bukanlah hal yang baru. Semenjak masa perjuangan revolusi untuk kemerdekaan dimulai para seniman sudah mengangkat perkara “perjuangan” kedalam karyanya. Masa demi masa pun telah melahirkan berbagai angkatan dan generasi seniman yang menjadikan karyanya sebagai “alat” untuk mengangkat nilai-nilai kemanusiaan selain wahana penjelajahan estetika. Seniman ingin mendekatkan seni dan kehidupan, menjadikanya sebagai bagian yang tak terpisahkan. Strategi dasarnya bukan seni untuk seni tetapi seni untuk kehidupan.

Iwan Widjono ingin memberi makna dan menjadikan seninya berhubungan dengan kenyataan. Ia percaya ide-ide dan proses kreatif berkembang seiring interaksi dengan lingkungan dan manusia di sekeliling. Sebagai seniman ia “memungut” dan kemudian “menata kembali” gagasan, strategi, dan tehnik ungkap yang diperoleh dari lingkunganya.

Karya-karya ini merupakan output dan bagian dari proyek yang dirancang secara berkesinambungan dengan para petani di Desa Rendeng, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Ia memang bukan seorang petani namun ia menaruh simpati atas kehidupan mereka – maka iapun bergaul dan berbincang dengan mereka. Ia mencoba memahami situasi sulit yang harus mereka hadapi, mencatat, merekam, dan sekaligus berusaha membantu “menyuarakan jeritan hati” kaum terpinggirkan ini. Mendedikasikan dirinya untuk mendukung perjuangan hidup mereka yang ditindas dan dianiaya.

Bantul, 2009
Arahmaiani

Start Time: Tuesday, September 1, 2009 at 8:00pm
End Time: Sunday, September 27, 2009 at 8:00pm
Location: TEMBI CONTEMPORARY
Address: Jl. Parangtritis km 8,5, Tembi, Sewon, Bantul, Jogjakarta, Indonesia
Phone: 622746881919
Email: riestembi@gmail.com


Events, Exhibition