Pameran dan Presentasi Final Seniman Residensi
LANDING SOON #11
Wiyoga Muhardanto & Rosalie Monod de Froideville
Rosalie Monod de Froideville
Persinggungan Rosalie dengan seni berakar dari kegelisahan pribadinya tentang gagasan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh dan secara konstan mengalami perubahan. Setiap pertemuan—dengan orang lain, dengan waktu, benda, media, dsb—dimaknai Rosalie sebagai daya yang berpotensi membentuk manusia, secara fisik maupun psikologis. Karya-karyanya berkisar seputar gagasan tentang facade dan ‘diri’ di balik tabir itu: bagaimana manusia, atas kesadaran tentang kerapuhannya, menciptakan tameng-tameng, pencitraan yang semu, dan mengaplikasikan kontrol yang kuat, yang didorong dari dalam atau dari luar dirinya. Karya-karya Rosalie bergerak dari wacana kontrol diri kepada upaya-upaya membebaskan diri dari cengkaman yang menyesakkan itu, dan apa yang akan terjadi bila manusia bebas dari kontrol.
Tinggal di Yogyakarta, bagi Rosalie, adalah pengalaman kebudayaan yang nyata berbeda dengan yang dimilikinya sebelumnya. Pengalaman ini membuatnya menguji kembali dirinya sendiri dan caranya membuat karya. Juga membuatnya mempertimbangkan ulang dan mengembangkan tema-tema kerapuhan manusia, facade, ketanakaran, dan bagaimana orang mempengaruhi dan memapari orang lain lewat interaksi antar-personal. Pengembangan itu terujud dalam karya di mana dia berusaha berinteraksi dengan orang lain pada tataran personal dan intim. Rosalie memilih objek dan situasi sehari-hari sebagai bahasa ungkap pengalamannya di sini, seperti gula, kartu nama, dan kamar tidurnya sendiri.
Rosalie Monod de Froideville lahir di Breda, 1978. Menyelesaikan pendidikannya di jurusan Seni Murni, Willem de Kooning Academie of Arts, Rotterdam.
Wiyoga Muhardanto
Medium tiga dimensional menjadi pilihan Wiyoga semenjak masa kuliah. Pada karya-karya sebelumnya, Wiyoga kerap kali berangkat dari wacana konsumerisme dan isu fetish-isme produk pada masyarakat urban, khususnya kaum sosialita. Bagi Wiyoga, fenomena ini berdampak secara psikologis terhadap kalangan modern. Wiyoga banyak mengeksplorasi gagasan yang ia terjemahkan melalui parodi maupun ironi yang ia ciptakan dalam karyanya. Benda keseharian semacam kendaraan, benda elektronik, atau produk fesyen pernah ia ciptakan dan maknai ulang, sesuai gagasannya.
Menjalani program residensi di Rumah Seni Cemeti, bagi Wiyoga, sama dengan keluar dari zona nyamannya dalam berkarya. Membeludaknya aktivitas seni rupa di Yogyakarta seperti pameran, bermunculannya galeri dan ruang alternatif, bengkel produksi karya, dan artisan, adalah fenomena yang mengusik Wiyoga selama berada di Yogyakarta. Hiruk-pikuk dunia seni rupa oleh banyaknya seniman muda dan senior dalam memproduksi karya ditanggapinya dengan karya instalasi, mural, dan beberapa medium baru yang belum pernah ia coba sebelumnya. Ia mencoba mengeksplorasi gagasan ini sedemikian rupa melalui proses reduplikasi-modifikasi, yang kerap dilakukannya selama ini.
Wiyoga Muhardanto lahir di Jakarta, 1984. Menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, minat utama Seni Patung.
Pembukaan Pameran
Jumat, 24 Juli 2009, 19.30
Rumah Seni Cemeti
D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
Studio Terbuka
Rosalie Monod de Froideville
Jumat, 24 Juli 2009, 19.30
Sabtu, 25 Juli 2009, 10.00 – 17.00
Studio Residensi Cemeti
Tirtodipuran 24, Yogyakarta
Seniman Bicara & Diskusi
Rabu, 29 Juli 2009, 19.30
Rumah Seni Cemeti
D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
Putar Film & Pesta Piyama
‘1000 kisah dan 1 malam’
Kamis, 30 Juli 2009
17.00 | 19.00 | 21.00
Kamar Tidur Rosalie | Studio Residensi Cemeti
Tirtodipuran 24, Yogyakarta
program ini adalah kontribusi Kinoki dalam residensi mini Rosalie Monod
*bonus seru dari [Produk Kinoki] bagi yang datang dengan piyama dan perlengkapan tidur
Pameran ini diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti
Informasi lebih lanjut: http://www.cemetiarthouse.com | +62 274 371 015
Selama rentang waktu ‘residensi’ tiga bulan, seniman perupa Belanda dan Indonesia ‘mendarat’ dan bertemu di Yogyakarta. Dalam Landing Soon, lokalitas sebagaimana globalitas dipertanyakan dan diteliti ulang melalui berbagai tema, visi maupun kondisi. Para seniman diberi kesempatan untuk sepenuhnya konsentrasi bekerja, melakukan uji coba dan interaksi sesama seniman, profesional maupun komunitas tertentu.
LANDING SOON merupakan program kerjasama pertukaran yang diselenggarakan oleh Heden, Den Haag, Belanda dan Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, Indonesia. Didukung oleh Heden, Belanda, dan Program Pengembangan dan Kebudayaan Kedutaan Belanda di Jakarta.