Midori Hirota Exchange Project “Memory of Asia”

Memory of AsiaMEMORI PERANG DAN PERTOBATAN ALA MIDORI
by Jean Couteau

Sudah bertahun-tahun sosok wanita ini menjadi bagian dari dunia seni rupa Indonesia. Di Bali dan Yogyakarta, sedikit seniman muda yang belum mengenal senyum terbukanya dan belum mendengar ketawanya yang segar itu. Memang, kita semua tahu bahwa dia membuat instalasi dan “patung” melalui mana filsafat kosmis Hindu-Bali dan Jepang bertemu dan saling resapi, tetapi hingga baru-baru ini ia sesungguhnya lebih tampil di mata kita semua sebagai sosok “pengiring” khas dunia seni rupa daripada sebagai seorang seorang seniwati. Kita cenderung lebih banyak memperhatikan sepatu boot yang terus dia pakai dan warna rambutnya yang terus berubah daripada karya-karya seninya – yang terlalu “spiritual” untuk ngetrend. Untuk menutup deskripsinya, sosok wanita ini tidak pernah berbicara tentang dirinya, apa lagi tentang karyanya. Yang dikagumi dan didukung keseniannya selalu orang lain. Selalu orang lain yang dia bantu, sukai dan bahkan cintai. Pendek kata, dia hadir karena besarnya “hatinya”.

Adapun kita cenderung melupakan bahwa “hati” pula, bila “menguasai” kehidupan seorang seniman/seniwati, dapat pula menjadi sumber inspirasi. Seni, segala jenis seni, termasuk di dalamnya seni kontemporer, tidak perlu provokatif atau bahkan inovatif untuk berbekas. Bukankah kesungguhan tekad, disertai “ hati” itu, cukuplah untuk memberikan makna langgeng pada pesan kesenian apapun.

Kini saya yakin beberapa di antara anda sekalian, para seniman, sudah menduga siapa yang tengah saya bicarakan ini: dialah Midori Hirota, seniwati berperawakan kecil itu, kan?

Apa yang dilakukan Midori dengan “hati” yang “besar” yang saya sanjung ini. Oh, sesuatu yang nampak sepele: dia mengunjungi orang, memberikan kepada mereka sebuah patung kecil, dan meminta kepada mereka untuk memberikannya apapun sebagai imbalan, apakah sekotak rokok, suatu lilin atau benda apapun lainnya. Sederhana, kan? Bak proses tukar menukar biasa!

“Lalu apa yang menarik di situ?” anda pasti bertanya.

Ada sesuatu yang belum saya katakan kepada anda. Midori adalah orang Jepang, dan mereka yang dikunjunginya untuk tukar-menukar itu bukanlah orang biasa. Mereka semua adalah korban perang di tangan tentara Jepang! Mereka adalah korban yang luput maut apakah sewaktu “Death March” tawanan perang di Batan di Filippina, sewaktu pemerontakan Blitar di Jawa atau peristiwa perang yang mengerikan lainnya. Oleh karena itu, tukar-menuka Midori yang nampak banal itu sejatinya mengambil makna yang luar biasa.

Kini bayangkan si Midori, berlutut khidmat, bersenyum penuh rendah hati, ketika dia mengaturkan sebuat patung yang berlutut pula kepada seorang wanita tua yang siapa tahu diperkosa enam puluh lima tahun yang lalu oleh serdadu Jepang, atau kepada seorang kakek renta yang menyaksikan eksekusi teman-temannya seusai pemberontakan yang gagal. Ketahuilah bahwa tindakan ini telah dilakukan Midori ratusan kali, di hadapan ratusan korban serdadu sebangsa Midori itu sendiri. Telah dilakukannya bahkan terhadap mereka yang masih menyimpan sisa dendam benci di hatinya ketika Midori mendatangi mereka.

Tetapi nyatanya, semua korban itu pada akhirnya telah berbalas dengan senyum pada Midori. Bakhan ada pula yang telah merangkulnya. Dan semua memberikannya imbalan yang diharapkannya, pada umumnya berupa benda lingkungan hidup sekelilingnya. Alhasil, dengan rendah hati, dengan diketahui sedikit orang saja, Midori telah melalukan semacam “ziarah pertobatan” bagi perbuatan lalu orang lain yang sebangsa dengannya. Dan dengan ini dia telah serta merta memulihkan hubungan kemanusiaan antara Jepang, yang bagaimanapun diwakilinya, dan korban kekejian perang tentara Jepang.

Tanda-tanda hubungan kemanusiaan yang pulih itu – yaitu benda dan foto yang dikumpulkan Midori selama “ziarah”nya—yang dipamerkannya di Tony Raka Gallery antara 3- 26 September 2009, pameran serupa pernah diselenggarakan sebelumnya di Selasar Sunaryo Art Space di Bandung.

Ketika merenungkan pesan yang diupayakan disampaikan oleh Midori, dengan sendirinya munculnya pertanyaan tentang ruang lingkup budaya yang memungkinkannya. Unsur keJepangan budaya Nampak dengan jelas. Setahu penulis, tiada seorang seniman Jerman pun yang telah melakukan hal-hal serupa perihal kejahatan perang Jerman, yang tak terbantahkan lebih besar lagi daripada kejahatan perang Jepang. Di Jerman pasca-perang, “rasa bersalah” –guilt- diakui secara resmi oleh pemerintah dan bangsa Jerman, bahkan hingga menjadi bagian dari “konstruk” kebangsaan Jerman yang baru. Terdapat proses pengadilan, penghukuman, permintaan maaf yang kesemuannya ini disusul rekonstruksi memori kultural Jerman menjauh dari nasionalisme yang pathologis yang telah mewarnai bangsa Jerman sepanjang paroh pertama abad ke-20. Tetapi bukankah reaksi Jerman itu justru khas “Kristen” dan Barat: dosa, alias “kesalahan” harus diakui secara terbuka agar dimaafkan. Dan bukankah di negeri-negeri Timur pada umumnya, dan khususnya di Jepang, cara menangani “kesalahan”, dan mengatasinya, berbeda: bukanlah “pengakuan” terbuka atas kesalahan yang menjadi fokus –karena tidak membersihkannya—melainkan cara perbuatan kita diubah dan selanjutnya berubah. Disitu tidak terdapat “penyucian dosa” – konsep Kristen, yang mustahil dicapai—tetapi perubahan pada dinamika karma diri dan karma kelompok asal. “Kesalahan” dihadapi melalui proses pertobatan panjang, melalui transformasi penuh rendah hati dari sikap.

Midori jelas: “Saya tidak “minta maaf”, katanya, “saya pribadi tidak berbuat apa-apa yang salah. Boleh jadi apa yang saya lakukan terkati dengan kenangan-kenangan saya waktu kecil, ketika saya kerap dibangun teriakan-teriakan kakek saya, bekas serdadu itu, di tengah malam. Kekejian tentara Jepang saya hanya sadari beberapa tahun yang lalu, ketika mengunjungi Batan di Filippina – tempat dimana ribuan tawanan perang menjadi korban Batan’s Death March yang terkenal itu. Yang salah lakukan bukan “minta maaf” – itu urusan pemerintah. Saya hanya melakukan apa yang saya rasakan “wajib” melakukan, yaitu “member dan menerima”.

Kini Midori harap dapat ke Korea dan bahkan ke Nanking di Cina – dua tempat yang menderita dari kekerasan tentara Jepang. Disitu dia ingin membawa senyum khasnya, kerendahan hatinya, dan tentu saja patung-patung yang berlutut khidmat itu. Dia ketahui bahwa 64 tahun setelah perang dasyat itu telah berakhir, masih banyak tempat dimana hubungan antar-manusia perlu dipulihkan.

Bravo Midori! Bila apa yang anda lakukan bukan senin kontemporer dalam artisan tertinggi, apa namanya itu? Mudah-mudahan “seni” ini membawakan sukses bukan hanya kepada anda saja, tetapi juga kepada kemanusiaan yang anda angkat dari dalam hati kita semua.

Start Time: Thursday, 3 September 2009 at 6.30PM
End Time
: Saturday, Sep 26, 2009
Location: Tonyraka Art Gallery
Address: Jl. Raya Mas No. 86 Mas, Ubud, Gianyar, Bali


Curatorial, Events, Exhibition