New Ripple

RIAK OMBAK BARU DI PANTAI TAK TEPERMANAI

Seseorang pernah mengibaratkan seni rupa laksana pantai tak tepermanai dengan riak ombak yang meresik nyaring sampai jauh. Pantai itu medan kreativitas—dalam hal ini adalah Yogyakarta—yang sulit, ganjil, dan misterius. Riak ombak itu perupa muda—dengan segala tingkah-laku, sikap dan peran serta—yang belum sudah menceburkan diri sedalam-dalamnya ke pantai itu.

Ini kali Prayoga Satria, Janu Satmoko, Prihatmoko Catur, Riono Tanggul, dan Toto Nugroho, yang berasal dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan semangat—pinjam frase Chairil Anwar—semua dapat tempat, semua perlu dicatat, melakoni kesunyian masing-masing di pantai tak tepermanai itu sembari mendengarkan RadioHead atau Punkasila; menikmati Robert Crumb atau Basiyo; dan melahap Juxtapoz Magazine atau Komik Rada Lucu.

Pada hemat saya, mereka telah melakukan pencapaian artistik sesuai dengan kecenderungan estetik—yang terbilang menjanjikan dan meyakinkan dalam keserbajenisan bentuk atau genre seni rupa—yang mereka geluti dengan penuh seluruh di usia yang belum melewati tiga puluh. Bagaimana tidak, keberadaan mereka telah memungkinkan kita masuk menemu sebuah “dunia lain” nun jauh di sana, yang riuh-rendah dengan percakapan-percakapan selezat apel merah ranum; lantunan nada lirih yang membikin murung semurung burung hantu saat pagi menjelang; dan humor ala Moliere yang menebus gelak-tawa.

Prayoga Satria mengusung karya yang berkehendak menggurat-tambal atawa meretro stiker lawas bergambar pose dan potret perempuan-perempuan cantik yang mengeksploitasi dengan sadar kecantikan mereka secara vulgar untuk menunjukkan kekuatan minoritas dalam konteks relasi seksual antara perempuan dan laki-laki.
Janu Satmoko mengusung karya berisi ilustrasi atas kehidupan sehari-harinya sebagai perupa muda yang biasa nongkrong di jalanan. Riono Tanggul mengolah pokok perupaan lukisan-lukisannya kali ini yang berisi gambaran tentang fenomena anak muda di sekitar kehidupannya. Saya ingin menyebutnya sebagai kekasaran yang komikal terhadap etika manasuka dan moral yang difiktifkan anak-anak muda di sekelilingnya.

Toto Nugroho “berkhianat” mengeksploitasi pakem-pakem dalam khazanah seni grafis sebagai strategi kreatifnya untuk tawar-menawar posisi di pantai tak tepermanai ini. Maka menjadi bisa dimengerti jika ia penuh percaya diri memproklamasikan karya-karyanya dalam pameran ini sebagai “eksploitasi print-making” di kanvas.
Seperti halnya Toto, Prihatmoko Catur tak jarang memanfaatkan pengaruh bahasa visual komik dalam karya-karyanya. Tapi kali ini ia lebih memilih pengaruh bahasa musik sebagai salah satu tema dari gaya hidup untuk dieksplorasi dalam karya-karya terbarunya ini.

Walhasil, semua pengetahuan itu memberikan saya cukup banyak alasan untuk menegaskan bahwa perupa-perupa muda itu merupakan representasi yang sah dari perkembangan kreatif seni rupa Yogyakarta sepanjang enam dasawarsa terakhir.

Surabaya, 20 Desember 2009
WAHYUDIN
Kurator Pameran

Start Time: Sunday, December 20, 2009 at 7:30pm
End Time: Sunday, January 3, 2010 at 7:00pm
Location: Emmitan CA Gallery, Surabaya


Exhibition