A solo exhibition by Soni Irawan
Reviewed by Alia Swastika
JIKA seni adalah sebuah cara untuk mengada, saya kira, dengan cara tertentu, Soni Irawan, menghayati pandangan tersebut sepenuhnya. Di luar makin tidak populernya cara pandang yang romantik atas peran dan perilaku seniman (terutama berkaitan dengan tindak kesenimanan), saya melihat bahwa laku yang romantik dari Soni masih memberi energi yang positif pada proses kreatifnya. Dalam kasus Soni, kerja kreatif, juga pembacaan atasnya, sulit dilepaskan dari laku hidup sehari-harinya, terutama dalam peran sosialnya yang makin kompleks belakangan ini, baik sebagai seniman profesional, pemusik yang cukup dikenal, serta, dalam konteks yang personal, sebagai suami dan ayah seorang anak perempuan.
Pengalaman atas peran terakhir itu, seorang ayah, rupanya menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi Soni. Ini memang nyaris klise dalam dunia kesenimanan. Dunia seni, apalagi dalam sebuah medan yang baru bertumbuh seperti di Indonesia, memang nyaris serupa rimba yang menakutkan. Ia seperti tak menjanjikan apa-apa, bukan sebuah tanah harapan. Butuh keberanian besar untuk menjejakkan kaki masuk ke dalamnya. Menanggung diri sendiri saja acap terasa berat, apalagi, jika kemudian, ia harus menanggung hidup orang lain. Karena itulah, dalam lingkungan pergaulan seni, berkeluarga adalah satu keputusan besar yang membutuhkan konsekuensi tanggung jawab yang berat pula.
Di luar ketegangan awal yang ditanggung atas keputusan memasuki kehidupan “keluarga”, yang sering juga dirujuk sebagai langkah memasuki “kehidupan normal”, Soni mencatat bahwa inilah pengalaman penting baginya dalam posisinya sebagai manusia dewasa. Tentu saja, yang paling terasa adalah pergulatan yang berkait dengan emosi, karena relasi ayah dan anak pertama-tama adalah hubungan cinta kasih, yang menyangkut bentuk-bentuk resiprokal, saling memberi saling menerima, saling menghargai dan merawat, serta berderet saling lain dalam siklus hidup manusia yang panjang.
Akan tetapi, secara lebih luas, bisa dilihat pula bahwa pengalaman menjadi ayah pada akhirnya memberi dimensi sosial yang lain ketika seseorang berhadapan dengan peran sosialnya yang baru. Sensasi awal yang tampaknya hanya terbaca sebagai pengalaman yang melulu melibatkan perasaan, pada akhirnya menawarkan jelajah lain yang lebih kompleks. Misalnya, berkaitan dengan identitas, tidak hanya peran sosial seseorang yang berubah, tetapi, memasuki wilayah yang barangkali acap dikulik oleh para filsuf, pandangan atas konsep “diri” pun bergeser. “Diri” ini, seolah dipaksa untuk menciptakan “diri yang lain” terutama ketika proses mendidik, yang berarti melakukan transfer nilai-nilai dan pandangan dunia terhadap sang anak. Anak kemudian menjadi bentuk nyata dari “diri yang lain” tersebut.
Dalam pengalaman Soni, meskipun proses transfer nilai ini masih berlangsung dalam tahapan yang paling awal, tetapi rasanya ia sendiri bisa melihat bagaimana pandangan dunia dan konsepnya atas diri sendiri, meskipun pelahan, mulai bergeser. Saya kira, di luar interaksi-interaksi emosional dan fisikal dengan sang anak, Soni juga menikmati transformasi diri yang berlangsung dengan subtil ini. Kompleksitas ini menyangkut pula bentuk relasi yang langsung, dengan sensasi-sensasi perasaan yang barangkali sedemikian menggetarkan, dengan upaya yang seperti tak bisa berhenti untuk memberi makna pada setiap pengalaman itu. Soni menikmati pengalaman ketika membuat anaknya tertawa, membawanya bermain-main, dan, tentu saja, merujuk sesuatu yang menjadi gairah besar dalam hidupnya: mengenalkan sang anak pada musik.
Pada pameran tunggal kali ini, pengalaman serbapertama menjadi ayah itulah yang diolah Soni menjadi tema utama. Tema ini memang sesuatu yang sangat personal, yang terkesan sederhana namun ternyata tak semua orang punya kesempatan, juga punya media, untuk mencatat dan mengekspresikan pengalaman-pengalaman semacam ini. Meski tak langsung menautkan simbol-simbol dalam karyanya dengan apa yang dianggap lazim berkaitan dengan relasi ayah dan anak perempuan, sebagaimana yang acap kita temukan pada karya-karya lain yang bercerita tema yang sama, tetapi kita bisa membaca pengalaman ini dengan cara yang lain, yang rasanya lebih naïf dan menawarkan humor serta ironi di sana.
Memang, berkait dengan tema, apa yang dikerjakan Soni Irawan menjadi sesuatu yang lazim, terutama karena petualangan penuh mendebarkan yang ditawarkan oleh atribut baru sebagai ayah tersebut. Ini seperti pengalaman membuka rimba tak bertuan. Tetapi, apa yang klise macam itu, karena dikerjakan dengan kejujuran atas pandangan personal, menjadi selalu memberi makna yang berbeda.
Acapkali, membaca berita-berita yang melintasi televisi dan surat kabar sehari-hari, tentang relasi-relasi antarkeluarga yang pada akhirnya menyeret salah satu anggota dalam tindak kriminal (misalnya kisah orang tua yang menyiksa anaknya, bahkan sampai membunuh, juga cerita tentang perkosaan dalam keluarga) saya melihat bahwa mungkin ada yang harus dilihat ulang dalam relasi antaranggota keluarga pada masa sekarang. Kecenderungan masyarakat kita yang kurang ekspresif dan kurang terbuka membuat banyak hal lebih sering disimpan, dan, coba untuk dilupakan, meskipun hal-hal menyangkut perasaan semacam itu sesungguhnya tak pernah bisa dilupakan. Saya melihat, dengan cara tertentu, upaya seseorang untuk mencatat dan mendokumentasikan perasaan, dengan berbagai medium, adalah sebuah usaha untuk mencari praktik baru dalam ungkapan perasaan. “Pengalaman menjadi ayah” sebagaimana yang sedang dikisahkan Soni adalah perjalanan awal untuk membuka selubung perasaan, agar ia tidak dilupakan dan hanya menguap di udara. Meski kecil dan sederhana, Soni membicarakan sesuatu yang nyata ada.
***
KARYA Soni Irawan terutama mulai mendapat perhatian luas dari khayalak seni rupa ketika ia memenangi penghargaan Phillip Morris yang bergengsi melalui karyanya “Bangun dari Mimpi Buruk yang Indah” pada 2001. Belajar secara formal pada jurusan seni grafis di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Soni Irawan pada akhirnya mengeksplorasi berbagai media, termasuk lukisan maupun instalasi. Hampir semua bisa dilihat kaitannya dengan musik, terutama karena Soni memang masih sangat aktif manggung bersama bandnya, Seek Six Sick, terutama di peristiwa-peristiwa musik indie di Yogyakarta. Tidak mengherankan jika secara bentuk dan gagasan estetik, karya-karya Soni menggemakan sesuatu tentang musik itu sendiri, jika tidak bisa dilihat lebih luas, tentang suara (sound).
Dua karyanya dalam pameran ini, “Sleeping Teddy Bear” dan “You and Me and Everyone We Know” dengan jelas menunjukkan bagaimana aktivitas bermusik merupakan ruang bermain yang tak terpisahkan dengan praktik penciptaan visualnya. “Sleeping Teddy Bear” mereka ulang peralatan gitar dan amplifiernya dan menutupnya dengan bulu-bulu seperti yang ditemukan pada boneka beruang yang populer itu. di luar menghasilkan teror visual yang kuat, karya ini juga mengandung dimensi fantasi yang tidak biasa, menggabungkan dunia imajinatif dengan dunia nyata.
Sementara, “You and Me and Everyone We Know” merupakan karya video pertama Soni yang terinspirasi dari lagu yang diciptakan bersama bandnya, dengan judul yang sama. Mudah ditebak, lagu ini merujuk pada sebuah film karya Miranda July, seorang visual artists serbabisa. Berkolaborasi dengan Jimmy Mahardika dan Surya Haninditya, video ini menunjukkan imaji visual yang menarik berkait dengan tautan yang mulai sulit terurai antara musik, lukisan, graffiti, huruf dan budaya populer. Merambah bentuk media baru seperti ini, saya melihat kembali gairah Soni pada masa lalu untuk bermain-main dan kembali liar.
Saya kira, menjadi ayah dan merasakan hidup yang normal, tak selalu harus berarti kehilangan imajinasi liar. Setidak-tidaknya, Soni menunjukkan bahwa ia berjuang memelihara ruang-ruang yang tak lazim. Dan dengan begitu, seni memang membuatnya mengada.
Officiated by Jason Tedjasukmana (Indonesia Correspondent, TIME Magazine)
Start Time: Saturday, March 27, 2010 at 7 PM
End Time: April 6, 2010
Venue: Semarang Contemporary Art Gallery
Address: Grand Indonesia Shopping Town
Jakarta Art District, LG, East Mall
Jl. MH Thamrin No 1 Jakarta – Indonesia
Email: galerisemarangjad@yahoo.com