Packaging

DEMI GENGSI-KONSUMTIF
Curated by Tommy Awuy

Suatu kecenderungan yang demikian kuat pada budaya urban adalah ”bungkusan” (packaging). Hal ini dimulai dari hasrat untuk memberikan sebuah penampilan yang menarik secara estetik dan mengejutkan selain untuk memproteksi. Namun langkah demi langkah makna bungkusan yang dianggap sebagai atribut ini sekarang berubah menjadi substansial. Bungkusan bukan lagi merupakan suatu wujud tindakan lanjut melainkan langkah awal bagi perwujudan sesuatu, seperti pergerakan memutar balik dari efek menjadi sebab. Imajinasi kita dibangun bukan lagi berawal dari pertanyaan bagaimana menciptakan sesuatu tapi bagaimana sesuatu itu terlihat. Jadi, proses penciptaan bukan berawal dari “apa yang kita lihat” melainkan “apa yang terlebih dulu dilihat orang lain”.
Makna “bungkusan” pada dasarnya menambah rangsangan pengenalan kita akan ketidakpastian realitas, mana sebab dan mana akibat.

Pengertian ”bungkusan” tidak lagi sekedar menunjuk pada benda yang kita lihat secara kasat mata, seperti kertas bungkusan sebuah hadiah. Kiriman karangan bunga, parsel, promosi, tingkah laku, tutur kata, cara berpikir, fesyen, lukisan, film dan lain-lain, semua itu adalah bungkusan. Bungkusan ada di mana-mana dan tujuannya jelas adalah untuk memikat. Bungkusan pada dasarnya adalah sebuah muslihat yang ingin memperdaya satu atau semua potensi indrawi kita. Mendengar seseorang berbicara artinya kita bersiap diri untuk terpedaya oleh ucapannya. Bungkusan sesungguhnya adalah suatu kerja mimetik, mempengaruhi (meme) dan kembali pada paragraf awal, bungkusan adalah performasi estetik; mempertunjukkan sesuatu tidak lain adalah tindakan mempengaruhi.

Maka, “bungkusan” bisa dilihat dari dua pengertian; secara sempit dan luas. Membeli produk tertentu, kita merasa diberi nilai tambah apabila mendapatkan bungkusan yang bagus dan indah sehingga muncul perasaan agar tidak membuangnya bahkan dipajang atau dibawa ke mana-mana untuk kesan gengsi. Kita bisa dengan leluasa menyaksikan para konsumer di mall-mall berjalan lenggang-lenggok membawa atau menenteng bungkusan misalnya dari produk Louis Vuitton, Hermes, Versace, Armani, dan lain-lain, Arti sempit ini menunjuk langsung pada arti yang luas bahwa kata bungkusan itu sebenarnya tidak referensial atau mewakili bendanya, yakni gengsi yang dibangun oleh wacana-wacana atau teks-teks, khususnya iklan, yang sudah merasuki benak para konsumer itu. Wacana membentuk model berpikir dan perilaku seseorang. Wacana bukan sekedar alat yang bisa dilepas begitu saja apabila kita tidak lagi membutuhkannya. Diri manusia itu sendiri hanya mungkin dikenali sebagai salah satu yang berada secara kongkrit sejauh ketika dia berbicara, language turn.

Produk dan gengsi di atas hanyalah salah satu contoh dari kesadaran bagaimana realitas hidup pada dasarnya adalah sebuah bungkusan dalam pengertian luas. Tidak ada dalam kehidupan ini yang eksis tanpa bungkusan (bahasa) dan bahasa pada dirinya adalah sebuah paradoks, tak terdefinisikan terkecuali hanya mengenalnya lewat suatu pilihan, referensial atau konvensi, denotasi atau konotasi, sintagmatik atau paradikmatik, dan seterusnya. Dengan ini realitas tampil serba kemungkinan tanpa otonomi total dan universal.

Pameran Bersama di Philo Art Space berthema Packaging yang berlangsung tanggal 22 Maret – 5 April ini pengertian ‘bungkusan’ di atas baik secara luas maupun sempit, mengemuka.

Afdhal membidik realitas kehidupan berupa serba kemungkinan yang bisa kita baca dari 3 karyanya Memulai Kemungkinan, Di Antara Kemungkinan dan Mengakhiri Kemungkinan. Karya yang pertama dan ketiga menggambarkan sosok yang berada di dalam ruang yang dikelilingi tembok tinggi seperti penjara. Apabila kita membaca dua karya ini sebagai satu rangkaian, maka suasana yang bernuansa dramatis ini dapat dibaca sebagai perjalanan anak manusia yang terikat dalam ruang-waktu problematik. Ruang dan waktu ‘membungkus’ manusia sehingga menampakkan positivitas diri-kebertubuhannya. Di sini soal ruang dan waktu sesungguhnya hanya kata lain dari bahasa. Perjalanan diri-kebertubuhan manusia terbentuk dan diarahkan oleh bahasa. Lalu masih adakah kita bicara soal peluang bagi manusia untuk melepaskan diri dari bentukan dan arahan bahasa? Afdhal menunjukkan jalan kemungkinan ini dan sekaligus ironi, yakni pintu. Pintu menjadi tanda bagi ke luar-masuknya diri-kebertubuhan, seperti yang terlihat pada karya Di antara Kemungkinan, figur ada di luar ruangan, melepaskan diri dari ruang-waktu dramatis tadi, namun jangan lupa, ada unsur lain lagi yang kemudian masih membelunggunya yakni tali. Tembok-pintu-tali pada hematnya adalah metafor dari bahasa. Manusia mencipta bahasa tapi kemudian terperangkap oleh bahasa. Hanya bahasa unsur yang terkuat sebagai bukti bahwa manusia adalah mahluk yang tidak pernah bebas secara otonom karena ketika dia berbahasa saat itu juga dia terikat oleh komunikasi dengan orang lain.

Harlen dengan karya Alienated Youth of Mind dan Lapen tak jauh-jauh berangkat dari persoalan diri-kebertubuhan yang galau mencari pembebasan. Diri teralienasi oleh apa? Banyak unsur yang bisa kita lihat dalam kedua karya ini di mana setiap unsur saling berhubungan membentuk sebuah sistem, lingkungan kehidupan. Sesosok manusia yang nampak kecil teralienasi oleh gantungan tali seperti hanya bisa bergerak apabila digerakkan oleh lingkungan kehidupannya secara luas yang jelas-jelas bukan dirinya (the other dan itulah yang disebut kesadaran-mind). Menurut para pemikir strukturalis, kenyataan ini tidak lain merupakan kerja bahasa karena lingkungan kehidupan adalah bahasa. Jadi manusia teralineasi oleh bahasa dan bagaimanapun dia ingin mencari kemungkinan-kemungkinan untuk terbebaskan. Harlen menunjuk kemungkinan itu pada karya Lapen, suatu aktivitas pembebasan imajinatif bahwa ’Lapen’ adalah sejenis minuman berkadar alkohol, murah, merakyat tentunya, bisa di temukan di sekitar daerah Malioboro, Yogya, dan berdaya kerja cukup efektif.

Karya-karya Adelano mengambil suasana awal-awal kehidupan yang diwakili oleh figur bayi, telur, produk susu, dan kembang. Unsur-unsur ini nampak kuat mewakili pemahaman kita tentang bungkusan bahasa dalam memulai kehidupannya seorang bayi sudah terbungkus oleh lingkungan kehidupannya, lewat pembahasaan orang-orang yang terdekat dengannya. Tak heran dalam kasus-kasus tertentu, bayi diprogram terlebih dulu orang keinginan orang tua seperti pemberian nama. Nama adalah bungkusan awal dan akhir (alfa-omega) pada diri seseorang yang kadang membuat seseorang hidup melawan kontradiksi antara makna sebuah nama dengan pemikiran dan tingkahlakunya. Di samping itu bagaimana produk tertentu mensyaratkan bahwa jika bayi ingin bertumbuh sehat dan kuat maka minumlah susu ini atau susu itu. Bayi dibentuk oleh sistem kompetisi satu produk dengan produk lainnya dan sampai dewasa pun dia tak lepas dari sistem kompetisi itu pada tingkat mengkonsumsi produk bergengsi.

Sementara Heryanto Maidil bergiat langsung dengan sistem tanda (semeon). Karyanya berobyek figur perempuan yang diri-kebertubuhannya dibalut oleh sejenis tali (sarang laba-laba). Figur perempuan sengaja dikedepankan karena masih cenderung dianggap sebagai sosok tak berdaya dalam sistem patriarki. Lingkungan seringkali dengan begitu gampangnya mengartikan atau tepatnya mendifinisikan bahkan perempuan adalah makhluk begitu dan begini tanpa menyadari bahwa lingkungan tersebut pun sebenarnya nyaris tak berbeda. Relasi sosok perempuan dan sistem sama-sama merupakan bentukan bahasa yang diperdaya oleh kuasa. Lia Mareza misalnya dengan karya berjudul Displacement memberikan tekanan dengan bermain-main dalam sistem tanda, bahwa karena relasi seksualitas laki-laki dan perempuan sama-sama merupakan bentukan bahasa maka sangat mungkin, betapa pun rumit dan perkasanya laki-laki bak tembok benteng China, perempuan bisa mengendalikan dan membuatnya bertekuk lutut.

Tak kalah menantangnya, Evi Muheriyawan mengeksplorasi sosok perempuan dalam lingkungan kehidupan urban yang tak terlepas dari perkembangan dunia mode sebagaimana hal ini hadir di semua kota-kota dunia-kosmopolit. Fesyen menandakan glamoritas pergaulan kontemporer yang kelihatannya bergerak demikian dinamis dan bebas. Namun demikian, kehidupan seperti ini pun sebenarnya tak luput dari ironi bahwa figur-figur tersebut dibungkus oleh teks-teks yang mencipta angka-angka, artinya diri-kebertubuhannya dibungkus oleh berapa ukuran berat dan tinggi badannya bahkan sampai pada organ-organ paling vital sekalipun. Fesyen menunjukkan identitas, paling tidak, ukuran gengsi tertentu, sekaligus menegaskan sebuah lingkungan kehidupan yang serba tak pasti dan cepat berlalu, sangatlah khas bagi sebuah gengsi konsumtif.

Made Bakti mempertegas bagaimana hubungan fesyen, gengsi dan konsumeristik ini menjadi ”budaya bungkusan”. Dua karyanya berjudul High Pristige dan Shopping Maniac, jelas di satu pihak memperlihatkan suasana dinamik yang dikelilingi oleh produk-produk dan bungkusan masa kini yang diburu oleh kaum urban dengan agresif. Membeli produk sama halnya membeli jati diri dan syarat utamanya adalah ”gaul” dan terlebih dulu menarik perhatian media massa demi publisitas, tentu saja. Mereka mungkin tidak peduli, sadar atau tidak, bahwa dunia yang mereka perani adalah serba bungkusan, yang penting bagaimana hal itu menjadi identitas bergengsi betapapun hal itu hanya memberikan mereka sekali saja bisa tidur dengan mimpi yang enak dan indah.

Start Time: Monday, March 22, 2010 at 8:00pm
End Time: Monday, April 5, 2010 at 6:00pm
Venue: PHILO ART SPACE
Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12510 INDONESIA


Curatorial, Events, Exhibition