Curated by I Wayan Seriyoga Parta
Kesadaran para seniman Bali akan ruang dan komposisi sangat lekat dari karya-karya tradisi atau pra modern hingga saat ini. Jika umumnya dalam karya tradisi kesadaran itu bersifat sub conscious (bawah sadar) terjewantahkan secara langsung dalam gerak aktivitas kesenian yang mereka laksanakan. Umumnya ruang dan komposisi bersifat simbolik dalam artian memiliki nilai, hal ini bersifat otomatis dan kerap tidak disadari.
Kedasaran ini terasa kuat dalam karya-karya seniman Bali yang melukis secara abstraksi, mereka tumbuh dari ranah akademis dimana mereka diperkenalkan dengan kaidah-kaidah formal dan estetika seni rupa modern. Seperti halnya dalam perkembangan seni modern Indonesia prinsip-prinsip modernisme tersebut tidak dianut sebagai ideologi, apalagi ideologi seni rupa yang berujung pada formalisme seperti di Barat. Spirit inilah yang mendasari perkembangan seni lukis yang melakukan abstraksi bentuk yang berkembang di Bali sejak tahun 1980-1990an yang menyerap spirit penggalian esensi seni modern. Akan tetapi tidak secara penuh menyerap prinsip avant garde, sehingga menjadikan karya-karya abtraksi ini justru sarat dengan muatan-muatan kultural dan spiritual. Presentasi karya-karya mereka menghadirkan nilai-nilai simbolik, dan juga metafora.
Dan ketika seni rupa kontemporer merayakan kecenderungan representasi realitas serta meninggalkan upaya dalam mencari yang esensi, karya-karya abstraksi masih dengan setia digeluti oleh beberapa seniman Bali khususnya. Pertanyaanya adalah, kenapa hal ini terjadi? Asumsi saya; sesungguhnya bawah sadar seniman Bali kesadaran akan ruang terus diwarisi bahkan dalam generasi seniman kontemporer sekalipun, ini yang memunculkan kekhasan karya-karya abstraksi dari seniman Bali. Dan sangat sulit mereka ejawantahkan ke dalam karya-karya representatif (realisme). Jadi singkatnya ada geneologi didalam perkembangan dan struktur ruang dalam karya-karya seniman Bali kontemporer yang menekuni abstraksi serta masih dapat ditelusuri jejaknya dari karya-karya sebelumnya. Melalui pameran ini konsep dan pemikiran pada seni lukis abstraksi Bali akan coba ditelusuri.
Artists: I Nyoman Erawan, I Wayan Darmika, I Made Wiradana, I Ketut Tenang, Gusti Alit Cakra, I Ketut Susena, I Made Sumadiyasa, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Sujana “Suklu”, I Nyoman Sujana “Kenyem”, I Made Supena, Putu Sudiana “Bonus”, I Made Wiguna Palasara, I Made Budi Adnyana, I Ketut Teja Astawa, I Made Galung Wiratmaja, I Made Dyanna, I Made Suarimbawa “Dalbo”, I Wayan Setem, I Made Uuk Paramita, I Kadek Susila Dwiyana, I Putu Suardana“Vijie”, Willy Himawan, Rio Saren
Start Time: Thursday, March 18, 2010 at 7:00pm
End Time: Friday, April 9, 2010 at 10:00pm
Venue:Tonyraka Art Gallery
Address: Jl. Raya Mas No. 86, Mas, Ubud, Bali
Diskusi kurator dan artists tallk, dengan tema:
Kesimbungan seni abstraksi Bali
Tanggal 21 Maret 2010, 15.00 WITA
Pembicara:
Kurator dan Para Seniman
Penanggap:
– Jean Coeteau
– Hardiman