SHOPASSION
A Sujarwo solo painting exhibition
NARASI SEBUAH HASRAT
Pameran Lukisan Sujarwo yang bertema SHOPASSION ini boleh dikatakan adalah lanjutan dari pameran tunggalnya yang pertama bertema SHOPPING MALL & FASHION, di galeri yang sama, setahun yang lalu. Kali ini Sujarwo lebih memfokuskan kegiatan berbelanja daripada suasana shopping mall itu sendiri. Mengeksplorasi obyek atau tema seperti ini tentu saja dilakukan dengan suatu kesadaran akan realitas kekinian di mana kegiatan berbelanja sudah merupakan bagian terpenting bagi life style kelas menengah urban. Produk bukan lagi dilihat sebagai benda untuk suatu kebutuhan sesuai dengan fungsi atau kegunaan benda yang bersangkutan namun sebagai citra atau besar kemungkinan hanyalah sekedar terpuaskannya hasrat untuk membeli dan memiliki.
Kegiatan atau perilaku berbelanja adalah suatu kondisi dari tergalinya bawah sadar ketika hasrat subjek pembeli pada suatu fase tertentu mengalami batasan-batasan signifikan secara alamiah. Berganti pada suatu fase kemudian ketika peluang serba memungkinkan untuk memiliki (membeli) maka enerji bawah sadar sebagai hasrat terkuat, akhirnya tersalur selayaknya sebuah upaya pelampiasan seksual (libido). Pasar dalam hal ini bisa kita pahami sebagai “institusi-hasrat” atau SHOPASSION sebuah frase dari kata “shopping” (berbelanja) dengan “passion” (hasrat). Sementara produsen terus saja dengan segala upayanya membangun strategi bagaimana meyakinkan pembeli bahwa produk yang dikonsumsi merupakan satu kesatuan antara kualitas dengan pencitraan (iklan).
Membaca karya-karya Sujarwo, kita dihantarkan pada bagaimana kondisi pasar disemaraki oleh sosok-sosok dengan segala gaya atau perilaku yang begitu siap siaga menyapu bersih produk-produk yang tersedia. Berbagai unsur berpadu menjadi sebuah fenomena perbelanjaan yang hampir tak bisa terbayangkan bagaimana seseorang bisa tanpa sadar membeli sampai jauh dari batas kesanggupannya dan memang berdasarkan hal seperti itulah yang menyebabkan munculnya budaya konsumerisme. Lihatlah karya berjudul Tak Ada Hasrat Tertahan yang menggambarkan sosok pembeli yang sedang kewalahan memasukkan produk-produk belanjaannya yang jelas jauh melebihi daripada kapasitas ruang kendaraan. Adegan ini seperti sebuah teater komedi satir yang sengaja mempertontonkan betapa tidak klopnya hubungan antara daya nalar dengan hasrat pemilikan namun apa pun ceritanya pada akhirnya yang terpenting di sini ialah produk-produk yang diinginkan tersebut bagaimanapun sudah dimiliki.
Salah satu unsur penting dalam shopassion adalah waktu. Sujarwo menunjuknya secara sangat gamblang dalam karya berjudul Berburu Waktu, Hari Belanja, Belanja Bulanan, All Day Shopping dan mungkin yang paling menggelitik adalah Never Ending Shopping. Konsep waktu dalam kaitannya dengan belanja sudah tentu waktu yang objektif, mekanistis, dan linear, waktu yang serba terukur, mulai dari detik, menit, jam, hari dan seterusnya. Waktu yang obyektif ini demikian mendeterminir ruang subjektif seseorang dan hampir pasti mengkonstruksi kondisi psikisnya untuk terus menunggu dengan sangat serius saat-saat mana produk-produk baru (new arrival) tiba. Tepatnya, waktu adalah belanja dan tiada waktu tanpa belanja. Apa pun yang dilakukan seseorang dalam hal ini tak terlepas dari motif berbelanja. Pemahaman tentang diri sendiri diperoleh lewat waktu yang merangkai sedemikian banyaknya pengalaman berbelanja: “aku berbelanja maka aku ada”. Lihatlah betapa bergairahnya beberapa sosok pada karya Hari Berbelanja. Dengan hadirnya mobil mewah yang jelas merupakan sebuah penanda dalam karya tersebut sudah bisa kita tebak produk macam apa dan seberapa banyak produk yang akan mereka miliki. Mereka mungkin termasuk sosok-sosok yang berhasil menangkap waktu setelah sekian lama memburunya dan sekarang gilirannya untuk memiliki.
Unsur lain yang tak kalah pentingnya ialah struk belanjaan sebagaimana terlihat dalam karya Belanja Bulanan dan Branding Forever. Lembar panjang struk belanjaan yang nyaris melilit sepanjang tubuh nampak terkesan hyper namun tidaklah demikian jika kita memahami logika konsumerisme itu. Struk belanjaan seharusnya menjadi sebuah penanda bagi hadirnya ambang-batas antara perhitungan kalkulatif dengan hasrat membeli namun pada prakteknya hal itu selalu disadari muncul belakangan setelah hasrat membeli dipenuhi oleh “benda ajaib” pengganti simbol alat tukar berupa kartu kredit, visa, ATM, dan lain-lain, sebagai simbol atas simbol, perwakilan dari enerji psikis yang sebenarnya tak stabil tapi mengatasi keterbatasan ruang-waktu kesehari-harian kita dalam hal memperlakukan uang. Perhitungan kalkulatif lebih merupakan efek daripada sebab sebagaimana struk belanja kemudian hanya sekedar data-bukti yang ditumpuk dan lewat begitu saja dari kesadaran. Hal ini disinggung secara sangat transparan oleh Sujarwo dalam karya No Problem with the Price.
Harga tentu saja salah satu unsur yang sangat menentukan kondisi berbelanja dan Sujarwo memperlihatkan gejala yang sangat khas bahwa di satu pihak sosok pembeli tidak memperhitungkan harga di hadapan hasrat membeli namun di lain pihak discount menjadi target yang demikian menggiurkan. Pada karya Discount 50% para pembeli nampak menjadi penyerbu yang histeria berdesak-desakan di escalator seperti menggantungkan harapan hidup sepenuhnya di sana. Erat kaitan ceritanya dengan karya Check Harga yang mengesankan adanya perilaku sangat ambigu antara hasrat dengan strategi membeli. Menyoal harga seperti cek terlebih dulu rupanya merupakan kegiatan tersendiri di samping ketika kita langsung berhadapan dengan produk yang benar-benar kita sukai tanpa melihat dulu berapa harganya. Laptop, majalah, koran atau apa pun media yang menampilkan berbagai macam produk lengkap dengan harga adalah sarana yang membangkitkan hasrat dan sangat mungkin mendorong sedikit imajinasi untuk kemudian ”melahap” produk-produk tersebut.
Sudah sangatlah mahfum di sini bahwa iklan telah menjadi realitas awal sebelum kita berhadapan langsung dengan produk dan dengan demikian tindakan membeli sekedar ekstensi dari pengaruh pencitraan. Tindakan membeli dengan terlebih dulu mengitar-ngitari setiap sudut shopping mall juga merupakan perilaku tersendiri yang sudah sangat popular dengan sebutan ”mejeng”, fashion show tanpa catwalk. Sujarwo melukiskannya sebagai Shopping Style.
Budaya konsumerisme tak pelak menyediakan sebuah ruang kehidupan serba gemerlap sekalipun sosok-sosok di dalamnya larut dengan kondisi irasionalitas yang mungkin sangat patetik tapi itulah tahapan yang memang hendak dicapai. Uang adalah ekstensi paling signifikan dari enerji bawah sadar manusia untuk memiliki sesuatu dan itu menjadi simbol yang tidak memiliki rasa akan hak dan tanggung jawab atas relasi sosial. Sujarwo di sini hendak bercerita bahwa ketika perhatian kita tersita pada kondisi gemerlap ini bagaimanapun ada ruang yang lalu bisa terabaikan begitu saja yakni ketimpangan sosial dari kesadaran kita orang per orang. Keseluruhan karya dalam pameran SHOPASSION ini bagaimanapun adalah serangkaian cerita yang sangat terbuka secara interpretatif apakah memang gerak sejarah sosial dan budaya menuju pada ruang homogen konsumerisme ataukah itu hanya kebetulan sebagai riak gelombang yang kuat tapi kemudian melemah dan hilang dalam diseminasi.
Tommy F Awuy
Kurator
Start Time: Thursday, November 19, 2009 at 8:00pm
End Time: Friday, December 4, 2009 at 6:00pm
Location: PHILO ART SPACE
Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12730 Indonesia