Soulscape

PAMERAN SENI ABSTRAK
SOULSCAPE – the Treasure of Spiritual Art

Pada saat penyelenggaraan Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak Indonesia di Jakarta, para pelukis abstrak yang berpameran dan beberapa pencinta karya seni telah memproklamasikan Manifesto Abstrak Jakarta, tepatnya pada tanggal 17 Juni 2005 sebagai sebuah kesepakatan dan semacam batu loncatan untuk menyatakan keberadaan seni abstrak di Indonesia yang disadari untuk ditumbuh kembangkan dalam khazanah seni rupa dunia.

Pameran ini kemudian dapat dilaksanakan berturut-turut berkesinambungan dengan mengajak partisipasi perupa abstrak di pelbagai kota. Sewaktu pelaksanaan Pameran Perjalanan Seni Lukis Astrak #8 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta pada tahun 2008, dalam suatu diskusi mengevaluasi pameran-pameran yang terdahulu (termasuk kesimpulan yang diperoleh dari pembicaraan di setiap pameran) disepakati untuk mengkerucutkan kegiatan pameran abstrak ini dalam 2(dua) tindakan; yang pertama, menyelenggarakan Pameran Soulscape – 7 (tujuh) perupa abstrak dan yang kedua, Pameran Gerakan Seni Abstrak Indonesia dengan mengajak lebih banyak para perupa abstrak yang muda untuk berpartisipasi. Pameran Soulscape menarik untuk diamati karena masing-masing perupa abstrak itu diwajibkan untuk menyertakan minimal satu karya sepanjang 10 meter!

Kenapa SOULSCAPE – the Treasure of Spiritual Art? Ide dasarnya adalah ‘pemandangan – jiwa’ yang tentunya akan sangat bertolak belakang dengan pemandangan alam (landscape) atau pemandangan laut (seascape) ataupun lainnya yang mengangkat sesuatu yang kasad mata, materi yang ada di alam, yang secara visual dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indera kita.
Soulscape lebih bermuara pada hati nurani, perasaan yang paling mendalam (inner feeling) atau gagasan pemikiran secara intelektual tentang kemurnian penciptaan yang memiliki kandungan keindahan pribadi sekaligus universal. Soulscape adalah upaya visualisasi kegelisahan transendental bagaimana mengungkapkan solusi permasalahan mendasar kemanusiaan tentang rasa kemanusiaan itu dalam meng-ada serta me-wujud sebagai sebuah karya seni. Soulscape menjadi tantangan sekaligus proses pengakraban, pencerahan dan penyerahan diri total dari ke-7(tujuh) perupa tersebut yang saling berinteraksi melakukan transmisi budaya serta penggalian kreativitas pribadi masing-masing.

Mendampingi pameran ini juga diterbitkan Buku SOULSCAPE – the Treasure of Spiritual Art. Buku ini merupakan salah satu upaya pengkerucutan pemikiran dari seri perjalanan Pameran Seni Lukis Abstrak yang telah digulirkan sejak tahun 2005 yang lalu dan terus terlaksana berkelanjutan sampai sekarang ini. Buku ini diterbitkan sebagai seri Buku Abstrak Indonesia yang kedua dan sekaligus dapat dijadikan acuan Pameran Seni Abstrak SOULSCAPE – the Treasure of Spiritual Art yang diikuti oleh 7(tujuh) Perupa Abstrak, yaitu AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M. Soekarman, Utoyo Hadi dan Yusron Mudhakir yang diselenggarakan pada tahun 2010 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 23 Maret-5 April yang lalu,dan Tony Raka Art Gallery Bali pada tanggal 3 Juni-3 Juli,. Direncanakan akan dipamerkan juga di kota Surabaya dan Jakarta. Seri Buku Abstrak Indonesia yang pertama berjudul: Seni Abstrak Indonesia – renungan, perjalanan dan manifestasi spiritual diterbitkan bersamaan dengan diselenggarakan Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak Indonesia # 8 bertempat di Ruang Pameran Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta pada tanggal 20 Agustus – 5 September 2008.
Buku SOULSCAPE – the Treasure of Spiritual Art ini disusun dalam suatu rangkuman holistik bagaimana pemahaman dan keyakinan ke-7(tujuh) perupa itu tentang karya seni abstrak mereka (terutama dari karya yang sengaja diciptakan untuk pameran dengan ukuran sepanjang 10 m). Karena itu disepakati untuk meminta kesediaan empat orang penulis, dua orang dari ‘dalam’ yaitu Sulebar M. Soekarman dan Netok Sawiji_Rusnoto Susanto yang menguraikan tentang keyakinan, semangat, perjalanan spiritual, pemikiran estetika serta impian dan kerja keras ke-7(tujuh) perupa abstrak itu; dan dua orang dari ‘luar’ yaitu AA Nurjaman dan Anton Larenz yang menceriterakan tentang latar belakang kesejarahan seni abstrak Indonesia serta tinjauan seni. Keduanya juga mengulas karya seni dan pemikiran dibalik penciptaan ke 7(tujuh)-perupa abstrak itu. Dalam bab V Buku tersebut, dirangkumkan manifestasi dari perjalanan spiritual mereka sebagai hasil bedah karya yang dilakukan beberapa kali ditambah dengan kumpulan tulisan pemikiran dari ke-7(tujuh) perupa abstrak itu, dilengkapi dengan dokumentasi foto-foto lukisan, sketsa ataupun proses kerja terutama untuk penciptaan karya 10 m masing-masing yang disepakati sebagai salah satu persyaratan mengikuti pameran Soulscape. Revisi buku seri abstarak yang kedfau ini akan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai buku seri Abstrak yang ketiga.Sudah saatnya lah para seniman diberikan kesempatan untuk memiliki dan mengatakan suatu seni dari mereka sendiri. Selain tulisan yang dibuat sendiri, kepada ke-7(tujuh) perupa abstrak ini juga diberikan pertanyaan-pertanyaan untuk membantu ‘membongkar’ pemikiran dan mengingatkan kembali proses penciptaan mereka. Jawaban tertulis yang dikumpulkan, ditambah tanya-jawab dalam bedah karya, menjadi menarik karena kemudian berkembang, memperkaya masing-masing walaupun mungkin menjadi telanjang, lugas dan menimbulkan permasalahan yang baru. Siapakah diri kita? Apa yang kita harapkan sebagai diri kita? Adakah pembedaan yang nyata antara apa yang kita pikirkan tentang diri kita dari hari ke hari dan diri kita secara esensial? Adakah pembedaan antara yang esensial dan yang kebetulan di dalam kehidupan kita, yang tidak hanya diperoleh di dalam buku-buku filosofi ataupun agama? Apakah kita memiliki suatu seni yang membicarakan tentang yang esensial dan terbangun dari hal itu? Apakah gagasan yang dalam tentang “kita” adalah sesuatu kecongkakan semata-mata? Apakah kita ini sebagai suatu koleksi dari individu-individu yang terisolasi, atau sudah cukupkah kita mempunyai hal yang cukup bersama-sama untuk mampu menjawab bersama-sama pada beberapa permasalahan? Suatu seni dari kita sendiri harus menjadi salah satu kepunyaan dari diri sendiri yang nyata, diri sendiri yang telah dicari dan direnungkan, dipilih dan diyakini, didewasakan dan dipelihara. Seni seperti itu akan membantu kita untuk memelihara diri kita. Seni seperti itu akan menyempurnakan harkat kemanusiaan kita.

Satu hal yang menjadi benang emas dan ‘titik temu’ ke-7(tujuh) perupa abstrak itu adalah: kesemuanya dalam mencapai tingkatan soulscape ini ternyata melalui sebuah pengalaman panjang dan keras, yang mereka sebut sebagai perjalanan spiritual. Menjelaskan tentang pengalaman spiritual tidak lain kita diingatkan akan penemuan Sigmund Freud yang terbesar yaitu, tentang ketidaksadaran. Tak seorang pun pernah meragukan bahwa dalam tubuh manusia berlangsung beraneka ragam proses biologis dan fisiologis, biarpun sering kali tidak disadari. Bukan itulah tahap tak sadar yang dimaksudkan Freud. Penemuan Freud yang khas ialah adanya suatu ketidaksadaran psikis yang bersifat dinamis, artinya yang mengerjakan sesuatu dalam hidup psikis manusia. Bagi Freud, kehidupan psikis manusia dapat dibandingkan dengan sebuah gunung es yang untuk sebagian terbesar tinggal di bawah permukaan laut dan tidak dapat ditangkap dengan indera. Tapi tahap tak sadar itu tetap aktif dan dengan cara bagaimanapun terintegrasi dalam hidup psikis manusia konkrit. Biarpun namanya berbentuk negatif (tahap tak sadar), realitasnya betul-betul positif. Dengan menemukan ketidaksadaran ia membuka suatu dimensi baru dalam pengertian kita tentang manusia, tapi penemuan itu diolahnya menurut pola-pola pemikiran yang lazim pada waktu itu. la memandang ilmu alam sebagai model bagi setiap ilmu lain. Tanpa ragu-ragu ia percaya bahwa alam semesta dikuasai oleh hukum-hukum yang sama sekali universal sifatnya. Manusia tentu juga tunduk pada hukum-hukum itu. Tidak ada sesuatu pun yang spontan atau kebetulan.

RIWAYAT SINGKAT KE-7(TUJUH) PERUPA ABSTRAK

AT SITOMPUL
Perupa kelahiran Pematangsiantar tahun 1977 ini adalah alumnus ISI Yogyakarta, Jurusan Seni Grafis (2007). Pameran Tunggal 2 kali (2004 dan 2008) dan sejak 2000 sampai sekarang aktif mengikuti pameran bersama di pelbagai kota di Indonesia. Memperoleh penghargaan untuk Lomba Logo Perumnas (2003); beasiswa DepDikNas (2003); Penghargaan Pemenang I Karya terbaik Seni Grafis Dies Natalis III ISI Yogyakarta.

DEDY SUFRIADI
Lahir di Palembang tahun 1976. Alumnus ISI Yogyakarta Jurusan Seni Lukis. Aktif mengikuti pameran sejak tahun 1993 sampai sekarang ini. Penghargaan atas Karya Sketsa Terbaik ISI Yogyakarta; Karya Seni Lukis Cat Air Terbaik ISI Yogyakarta; Karya Seni Lukis Akrilik Terbaik ISI Yogyakarta (1996); Karya Lukis Terbaik Feksiminas IV Yogyakarta; Finalis Winsor and Newton Art Competition (1997); Finalis Nokia Award (1998); Finalis Philip Morris Indonesia Art Award (1999); Juara III Lomba Graffity AMPTA Yogyakarta (2000); Juara III Lomba Graffity di Yogyakarta (2004); Juara I Graffity Kareda Yogyakarta (2006)

NETOK SAWIJI_RUSNOTO SUSANTO
Lahir di Tegal tahun 1972, alumnus UNJ (Universitas Negeri Jakarta), 1997 dan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta (2009), perupa abstrak ini telah melakukan pameran tunggal pada tahun 1996, 2002, 2006 dan 2009. Sejak tahun 1993 sampai sekarang aktif mengikuti pameran bersama di dalam dan di luar negeri. Aktif mengajar sebagai dosen luar biasa pada Jurusan seni Rupa UNJ dan sejak beberapa tahun terakhir ini juga sebagai pengamat, penulis seni dan kurator independen untuk pameran seni rupa.

NUNUNG WS
Pelukis abstrak kelahiran Lawang tahun 1948 ini pernah studi di AKSERA Surabaya dan mendapat gemblengan dari pelukis Nashar. Pameran Tunggal dilakukan pada tahun 1989, 1991, 1992, 1994, 1997 dan 2002. Sejak tahun 1971 sampai sekarang aktif mengikuti pameran bersama di dalam dan di luar negeri. Memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (1978), dari Ford Foundation (1991); sebagai dosen tamu di Academie Minerva, Groningen, Netherland (1993) dan Karya terbaik “Krida Wanodya” dari Meneteri Negara Urusan Wanita RI (1994).

SULEBAR M. SOEKARMAN
Pelukis abstrak kelahiran Bandung tahun 1943 ini menempuh pendidikan senirupanya di LPKJ-IKJ Jakarta (1970 – 1978) dan studi banding di Akademi Seni Rupa Rotterdam dan Studio Lantaren, Netherland (1972 – 1974). Pameran Tunggal pada tahun 1979, 1981, 1989, 1996, dan 2007. Sejak tahun 1971 sampai sekarang aktif mengikuti pameran bersama di dalam dan di luar negeri. Penghargaan: memperoleh beasiswa dari Pemerintah Belanda (1972); peserta the International Visitor Programme dari Pemerintah USA (1991). Aktif melakukan penelitian dan sebagai pengamat budaya.

UTOYO HADI
Perupa abstrak kelahiran Kudus tahun 1944 ini sejak kecil ditempa untuk mandiri dan mulai berkesenian aktif sejak tinggal di Yogyakarta tahun 1963. Pengalaman berorganisasi kesenian mulai dirintis dengan mendirikan sanggar Matahari di Jepara. Sejak tahun 1967 melakukan pengembaraan spiritual ke pelbagai daerah di Nusantara (Bali, Lombok, Sumbawa, Toraja, Ambon, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera). Sejak tahun 1971 sampai sekarang aktif mengikuti pameran bersama baik di dalam maupun di luar negeri.

YUSRON MUDHAKIR
Pelukis abstrak kelahiran Klaten tahun 1977 ini mengikuti secara aktif aktivitas pameran sejak tahun 2000 sampai sekarang ini, selain di Yogyakarta juga di Malang, Bali, Jakarta dan Singapore.

Pameran ini terselenggara berkat kerjasama dengan TONYRAKA Art Gallery.
Contact person:
1. Novi Asmara (Hp 081226144767)

Seniman : Tujuh perupa abstrak
AT SITOMPUL – DEDY SUFRIADI – NETOK SAWIJI_RUSNOTO – SUSANTO – NUNUNG WS – SULEBAR M.SOEKARMAN – UTOYO HADI – YUSRON MUDHAKIR

Officiated by Made Wianta

Opening: Thursday, June 3, 2010 at 6:30pm
Closing: Saturday, July 3, 2010 at 5:00pm
Venue: Tonyraka Art Gallery
Address: Jl. Raya Mas no. 86, Ubud, Indonesia


Events, Exhibition