Seni Lukis I Ketut Teler
MEMAKNAI TERORISME & TOLERANSI
Oleh Arif Bagus Prasetyo
11 September 2001. Sepasang pesawat terbang komersial dibajak segerombolan teroris, lalu menerjang dan meluluhlantakkan gedung menara kembar World Trade Center (WTC) di jantung New York City, Amerika Serikat. Hampir tiga ribu manusia binasa. Paman Sam tersentak bangun dari singgasananya yang nyaman, terbelalak tak percaya teror mampu menembus tubuhnya yang imun. Dan sejak itu dunia berubah. Aksi kontra-teror dilancarkan di berbagai penjuru bumi. Di bawah komando Amerika, balatentara menyerbu negeri-negeri yang dianggap basis teroris. Afghanistan diacak-acak. Irak diserang dan dikangkangi. Dan ribuan bahkan jutaan rakyat tak berdosa jadi binasa atau menderita sebagai tumbal “perang melawan terorisme”. Mata dibayar mata. Teror dibalas dengan teror yang lebih ganas.
Setahun kemudian, 12 Oktober 2002, teror ganas beralih menyasar Indonesia. Bom teroris meledak di Legian-Bali. Dua blok bangunan musnah. Lebih dua ratus nyawa melayang. Sejak itu hampir tiap tahun Ibu Pertiwi dikoyak bom bunuh-diri para teroris. Termutakhir, Juli lalu, teroris mengebom sekaligus dua hotel di Jakarta.
11 September 2009, tepat sewindu sejak tragedi teror WTC, Ketut Teler memulai pameran lukisannya yang bertajuk Terrorance Tolerism. Judul pameran ini adalah plesetan (displacement) dari “terrorism tolerance”, menyarankan suatu komplikasi pemaknaan wacana terorisme dan toleransi. Sebagaimana tersurat dalam judul pameran dan tersirat dari pilihan tanggal pembukaan pameran, Teler menampilkan serial lukisan terbaru yang merefleksikan perenungannya tentang terorisme sebagai patologi global kontemporer, dan toleransi sebagai tawaran terapi terhadapnya.
Barangkali sejak serangan teroris ke menara WTC delapan tahun silam, terorisme seolah melekat pada agama, khususnya Islam. Asosiasi populer antara terorisme dan agama ini menjadi latar utama yang dipilih Teler untuk menggali berbagai tema di seputar terorisme dalam lukisan-lukisan terbarunya. Religi, lebih tepatnya religiusitas, memang merupakan wacana yang telah cukup lama dijelajahi Teler dalam kerja kreatifnya sebagai perupa. Banyak karya terdahulu Teler mengungkapkan pencarian akan suatu harmoni universal yang berbasis pada kesadaran religius. Budha dan biksu adalah subjek-subjek favorit Teler sejak lama. Karena itu bisa dipahami bahwa munculnya asosiasi antara terorisme dan agama menimbulkan keprihatinan pada diri Teler, dan keprihatinan ini bergema dalam karya-karya mutakhirnya.
Sebagian besar masyarakat Barat mengasosiasikan, bahkan sering mengidentikkan, terorisme kontemporer dengan agama Islam. Citra negatif tentang Islam sebagai “agama teror” diperkuat dan disebarkan oleh supremasi media Barat yang mendominasi dunia. Padahal sesungguhnya, Islam tidak mengajarkan teror, permusuhan, apalagi pembunuhan terhadap orang tak bersalah seperti yang dilakukan para teroris durjana. Justru sebaliknya, Islam berarti damai, sebuah agama yang mengidealkan perdamaian universal, rahmatan lil alamin. Stigma buruk terhadap Islam, agama perdamaian yang kerap disalahpahami sebagai biang terorisme, tampak disikapi secara kritis dan bijaksana oleh Teler. Mengusung tema terorisme, Teler sengaja tidak mengarak simbol-simbol keislaman dalam karyanya. Figur dalam lukisan-lukisannya tidak berjubah gamis dan bersorban ala Osama bin Laden, bintang teroris yang paling diburu di dunia, melainkan justru berjubah biksu mirip Dalai Lama.
Sebagian besar lukisan Teler mengetengahkan figur tunggal laki-laki berjubah biksu Budhis. Kenapa Budhis? Sedikitnya ada dua alasan. Pertama, secara personal, Budhisme memiliki makna istimewa dalam pengalaman kerohanian Teler, karena ia penganut agama Siwa-Budha. Alasan kedua lebih signifikan dalam hubungannya dengan tema terorisme. Pilihan kepada simbol Budhisme, sebuah agama yang tak pernah diasosiasikan dengan aksi terorisme (sebaliknya biksu Budhis justru sering menjadi korban terorisme negara, seperti terjadi di Tibet dan Myanmar), seolah menegaskan bahwa terorisme tidak ada hubungannya dengan agama tertentu. Penganut agama apapun bisa menjadi pelaku ataupun korban terorisme.
Siapakah lelaki berjubah biksu dalam lukisan Teler? Tak lain adalah sosok sang pelukis sendiri. Teler jelas bukan biksu. Ia sekedar berbusana mirip biksu. Hal ini menyarankan bahwa agama hanya sebatas “jubah”, institusi formal, yang tidak menjamin baik-buruknya perilaku manusia di balik jubah itu. Tak heran jika figur lelaki berjubah biksu dalam lukisan-lukisan Teler cenderung berperilaku labil, menyiratkan kompleksitas jiwa manusia yang mengandung unsur positif dan negatif, segenap kebaikan dan keburukan. Di balik jubah agama itu berdiam sosok yang ironis: pribadi yang kadang defensif kadang agresif, sesosok manusia yang bisa khusyuk, pasrah, cemas, takut, kalut, nekat, murka bahkan edan.
Sebagai institusi formal, agama dengan mudah dapat disalahgunakan sebagai dalih pembenar aksi terorisme maupun kontra-terorisme. Teroris bisa membinasakan orang banyak dengan mengatasnamakan agama, tak peduli bila korbannya termasuk saudara seagama sendiri. Sebaliknya, aksi “perang melawan terorisme” juga bisa mencelakai umat beragama tertentu yang seiman dengan kaum teroris. Dengan demikian, dalam setiap aksi teror, agama bukanlah terdakwa. Pihak yang sepenuhnya bertanggung-jawab adalah manusia pelaku teror itu, apapun agamanya. Pandangan inilah yang menggiring Teler untuk memusatkan diagnosisnya tentang terorisme pada hakikat manusia sebagai makhluk paradoksal.
Dalam diri manusia terkandung potensi untuk menjadi semulia dewa atau sehina hewan. Sebagaimana diperagakan dalam sejumlah lukisan Teler, nilai manusia tidak terletak pada jubahnya, seperangkat atribut formal yang dikenakannya (agama, kebangsaan, status sosial dsb), melainkan pada perjuangan spiritualnya dalam menaklukkan diri sendiri, dalam perang besar melawan sang teroris sejati dalam jiwa. Nafsu kebinatangan adalah manifestasi sang teroris dalam jiwa manusia: binatang syahwat, binatang ekonomi, binatang politik. “Binatang-binatang” dalam jiwa manusia itu harus ditaklukkan, dikendalikan, agar tercapai pencerahan batin. Sebab hanya melalui pencerahan batin, maka kedamaian hidup yang sejati dimungkinkan. Dan ini berarti mengakhiri terorisme sampai ke akar-akarnya.
Kata filsuf Jean-Francois Lyotard: Teror tidak lagi dijalankan atas nama kebebasan, melainkan atas nama kepuasan “kami”, atas nama kepuasan suatu “kami” yang dibatasi dengan tegas oleh singularitas. Artinya, “kami” dan “mereka” mutlak berbeda dan tiada terdamaikan. Inilah ujung-pangkal terorisme. Dengan dalih agama atau ideologi atau apapun, terorisme pada masa kini telah menjadi instrumen lingkaran-setan dendam dan kekerasan. Terorisme kontemporer hanya menegaskan satu fakta: bahwa tak ada lagi “kita”. Yang tersisa tinggal “kami” versus “mereka”, tanpa jembatan apapun yang menghubungkan, kecuali permusuhan sengit antara algojo dan korbannya.
Teler tidak sepesimis Lyotard. Bagi Teler, toleransi dapat menjadi jembatan yang mengatasi jurang antara “kami” dan “mereka”, sarana untuk menemukan kembali “kita”. Tetapi tanpa pencerahan batin, toleransi hanya mengilap di permukaan, dan menghasilkan jembatan semu yang rapuh. Pencerahan batin adalah prasyarat yang diajukan Teler bagi tumbuhnya toleransi sejati. Inilah toleransi yang berorientasi pada kesadaran spiritual universal. Sebuah toleransi yang melampaui formalisme religi dan menembus langit religiusitas, sehingga mampu mengatasi perbedaan atribut identitas ragawi-duniawi, seperti diisyaratkan oleh lukisan “Tolerance” dan “Rarisang Ngr’anjing’”.
Start Time: Friday, September 11, 2009 at 6:30pm
End Time: Wednesday, September 30, 2009 at 12:30pm
Location: Hanna Artspace
Address: Jl. Raya Pengosekan – Ubud, Gianyar, Indonesia
Phone: 03619783216
Email: hannaartspace@yahoo.co.id