Tiga Menguak Asa

3 Menguak Asa!“Tiga Menguak Asa”
Karya-karya Ahmad Syahbandi, Masriel dan Zirwen tak menunjukkan kesamaan gaya, kendati ketiga seniman tersebut sama-sama memanfaatkan teknik realis. Kita melihat subject matter sepatu dan pesawat TV kertas pada karya Masril tampak seperti gambar kartun. Pada lukisan Ahmad Syahbandi terlihat tubuh wanita yang sensual dengan pentil ban pada bagian perutnya, agak seperti bahasa poster. Sedangkan pada lukisan-lukisan Zirwen yang realis tampak seorang anak laki-laki sedang membersihkan telinganya, semacam gestur yang simbolik. Kendati dengan cara yang berbeda, ketiganya jelas bicara mengenai persoalan manusia dalam konteks budaya masa kini. Kendati menggunakan teknik realis, namun karya-karya mereka tak bisa segera digolongkan sebagai karya realis. Karya-karya mereka tak secara langsung dan gamblang menampilkan realita persoalan, namun membungkus persoalan dengan citraan yang mereka ambil dari bahasa budaya pop—khususnya pada karya Masriel dan Syahbandi.
Karya-karya Syahbandi dan Masriel sepintas tampak seperti karya pop surrealism atau kerap disebut low-brow art. Kendati lukisan-lukisan Masriel menampilkan TV dan sepatu, namun yang kita hadapi bukanlah TV dan sepatu sesungguhnya, namun TV dan sepatu yang terbuat dari kertas. Ya, TV Masriel adalah TV main-main yang terbuat dari kertas, demikian pula dengan dua orang wanita pembawa acara yang tampil TV digambarkan dengan gaya kartun atau komik, dengan menampilkan balon ucapan. Karenanya, subject matter pada lukisan Masriel tak hanya tampak seadanya, tapi juga tampak tak berharga. Karya-karya Syahbandi juga tak langsung menunjukkan realita sesungguhnya. Tubuh wanita dengan pentil ban pada bagian perut tentu saja bukan tubuh wanita sebenarnya. Demikian pula beha terbuat dari boneka tiup plastik doraemon yang digepengkan bukanlah beha sesungguhnya. Tampilan figur-figur liliput dalam kanvasnya yang bergaya komikal menguatkan kesan pemanfaatan bahasa low-brow. Karya-karya Masrial dan Syahbandi memang berkesan tak serius, ringan dan lucu sebagaimana umumnya kecenderungan pop surrealism.

(dikutip dari tulisan essay katalog oleh Asmudjo J. Irianto)

Start Time: Friday, August 14, 2009 at 7:00pm
End Time: Sunday, August 30, 2009 at 5:00pm
Location: Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space
Address: Jl. Bukit Pakar Timur No.100 Bandung, Indonesia
Phone: 0222507939
Email: selasar@bdg.centrin.net.id

Dibuka oleh Ibu Christiana Gouw.
dimeriahkan oleh  Semut Pandawa

Diskusi: Minggu, 16 Agustus 2009 pkl. 15.00


Exhibition