Wanita-wanita Perkasa

pameran fotografi
WANITA-WANITA PERKASA
- Jurnalisme Pejalan Kaki

Kalau ada pendapat yang mengatakan sebuah foto itu dapat mengubah dunia, maka pendapat itu pastilah tidak salah, apalagi kekuatan fotografi pada masa kini telah sering dimanfaatkan untuk berbagai hal, baik untuk maksud membangun maupun menghancurkan. Anggapan sebuah foto punya power, kekuatan yang dapat mengubah perasaan, pemikiran, ataupun perilaku manusia juga adalah anggapan yang dibenarkan. Dan contoh paling mudah adalah foto porno yang dapat mengacaukan badan maupun pikiran, atau foto makanan yang dapat menjadikan seseorang berselera.

Sederhananya kalau kemudian saya berkeyakinan bahwa foto tentang wanita-wanita perkasa adalah sesuatu yang juga sangat mungkin mempengaruhi hati dan pikiran, untuk juga mampu mengubah pola pikir maupun tatanan hidup manusia, itu karena saya juga beranggapan bahwa foto memang mempunyai kekuatan untuk itu. Foto berjudul Bukan Halangan adalah contoh konkrit yang saya rasakan. Dimana akibat foto yang pernah dimuat Kompas Minggu di rubrik Foto Minggu Ini, telah mengubah keinginan saya dari atlet bulutangkis menjadi seorang wartawan foto. Semua karena kekuatan foto. Kekuatan yang telah membuat saya merasa bangga karena meski tidak kaya materi tetapi dapat membantu sesama karena rasa welas asih yang melihat. Dimana tak kurang dari Depsos dan PBB, melalui perwakilannya memberikan ungkapan simpati dan sumbangan buat Raminah (subyek Bukan Halangan)

Dengan kekuatan seperti itu pulalah saya memberanikan diri mengumpulkan serangkaian kejadian nyata, tentang wanita-wanita perkasa, yang saya abadikan menggunakan kamera saku digital, kemudian mengemasnya dalam wujud buku dan pameran forografi, agar kekuatannya mampu menggugah, membangkitkan rasa perikemanusiaan, menyentuh hati dan menumbuhkan rasa welas asih pada yang melihatnya.

Dan saya berpamrih agar seseorang yang gagah perkasa, garang, tidak perduli terhadap sesama, bisa berubah menjadi seorang yang pemurah, baik hati, menjadi sayang kepada sesama karena kekuatan fotografi – The Power of Photography.

Karena itu jika masih ingat foto karya Kevin Carter yang memenangi hadiah Pulitzer (hadiah karya foto terbaik tingkat dunia) tahun 1994 untuk kategori foto features, dimana foto tersebut menggambarkan seorang anak kecil yang terjatuh dalam perjalanan menuju posko pembuatan makanan, sementara di belakangnya sekor burung pemakan bangkai menunggu, seolah-olah yakin anak itu akan menjadi santapannya. Dunia pun menangis, sungguh menyentuh. Sedemikian menyentuhnya, sehingga pemotretnya pun akhirnya bunuh diri dengan meninggalkan surat wasiat yang intinya mengatakan ia mengalami penderitaan batin yang amat dalam dengan foto itu. Karena sebab ia telah mengutamakan pekerjaan memotret daripada usaha kemanusiaan – menolong.

Realitasnya, foto telah meninggalkan bekas teramat dalam.
Ada yang menyakitkan.
Ada yang menggembirakan.
Ada yang mengharukan.
Ada yang bikin marah dan geram.
Ada yang bikin terbangkit.
Ada yang bikin tersadarkan.
Ada yang bikin terbangunkan dari ketidakpedulian…

Harapan saya agar kekuatan fotografi bisa menghasilkan sesuatu yang memang berguna dan bermanfaat bagi sesama. Sesuatu yang juga kelak bisa membuat kita mau dan mampu memperbaiki perilaku hidup sehari-hari, sesuatu yang bisa memperbaiki kepedulian kita. Sehingga bahasa foto yang bisa diungkapkan dengan berbagai cara betul-betul bisa menemukan manfaatnya bagi sesama. (Atok Sugiarto)

Sekilas tentang Atok Sugiarto

Atok Sugiarto (kelahiran Magelang, 18 Juni 1962) dikenal sebagai fotografer yang mumpuni. Berawal sebagai wartawan foto di Kelompok Kompas Gramedia pada 1981, Atok serius memilih jalannya sebagai seorang fotografer.

Atok telah memenangkan sedikitnya 41 kejuaraan lomba fotografi. Ia juga menjadi wartawan foto terbaik PWI Jaya (1989), wartawan foto terbaik Gubernur DKI Jakarta (1989), fotografer terbaik Gubernur Jateng (1990), The Most of Outstanding Sport Best Jurnalism Asean, Singapura (1990), ACCU Prize, People at Work, Jepang (1994), Special Prize, Earth Vision, Jepang (2001).

Di sela-sela kesibukannya sebagai fotografer, Atok menulis sejumlah buku panduan fotografi. Bukunya yang terbaru, esai fotografi ‘Laskar Wanita Perkasa’, sedang dalam persiapan terbit.

Start Time: Wednesday, April 21, 2010 at 7pm
Venue: Tembi Rumah Budaya
Address: Jl. Parangtritis Km 8,4 Sewon Bantul Yogyakarta


Events, Exhibition