Jakarta Contemporary Ceramic Biennale #1 held in North Art Space (NAS), Pasar Seni Ancol, is an attempt to map the practice of contemporary art, not only in Indonesia but also in South-east Asia countries and worldwide. In its first event—the initiation—there are prominent figures in art world, teaming up as a curator team that would do the selection namely Asmujo J. Irianto and Rifky Effendy.
Adding public appreciation towards the art of ceramic, there will be sessions of lecture about the development of art and the practice of ceramic and workshop of Japanese Raku technique; also the one open for public is shaping ceramic on potter’s wheel. It is a high hope that this contemporary ceramic biennale, organized by NAS, bring the development of both national’ and international’s ceramic practice. Continue Reading →
Seminar
CERAMIC ART: In Between Contemporary Art and Ceramic Craft
Sunday/20-12- 09
10.00 : Opening Speech by Mr. Budi Karya (Director of Ancol)
Session I Continue Reading →
10.20 : Opening by Moderator : Nurdian Ichsan
10.20-11.20 : Contemporary Ceramics Art Development by Asmudjo Irianto
SAPOE LIDI O7 DISKOMVIS ISI JOGJA MEMPERSEMBAHKAN
Pameran Desain Komunikasi Visual
“SEE THE SOUND”
17-19 Desember 2009
ARS LONGA GALERY JL. MANTRIJERON NO.11 YOGYAKARTA
—————————————————
_CREATIVE SHARING
—————————————————
JUM’AT 18 DESEMBER 2009
VIDEO CLIP JENNY ” MATI MUDA ” 19.00 PM
—————————————————
_MUSIC PERFORMANCE
—————————————————
SABTU 19 DESEMBER 2009 18.30 PM
_KILLED ON JUAREZ
_CANGKANG SERIGALA
_BACKFOOL
_LITTLE DANY
_LAST KISS GOODNIGHT
_AND MORE…..
—————————————————
_BAZZAR 17, 18, 19 DESEMBER
—————————————————
IVAA@BIENNALE JOGJA X: JOGJA JAMMING
ARCHIVE EXHIBITION SERIES
#1 Retrospeksi 21 Tahun Biennale Jogja
#2 Kawan-Kawan Revolusi: Arsip Jogja circa 1940-60
IVAA (Indonesia Visual Art Archive) menjadi bagian dalam Biennale Jogja X 2009: Jogja Jamming. Kali ini IVAA mempersembahkan sebuah Seri Pameran Arsip, yaitu: (1). Retrospeksi 21 Tahun Biennale Jogja, dan (2). Kawan-Kawan Revolusi: Arsip Jogja circa 1940-60. Kedua pameran ini akan dibuka pada tanggal 12 Desember 2009, jam 18.30 WIB, di Gedung Bank Indonesia, dan akan terus digelar sepanjang satu bulan dari 11 Desember 2009 hingga 11 Januari 2010. Pada pembukaan pameran, salah satunya akan diisi dengan presentasi dari IVAA (Indonesia Visual Art Archive).
Retrospeksi 21 Tahun Biennale Jogja menghadirkan sajian dokumentasi Biennale Jogja sejak 1988. Dengan melihat dan membaca dokumen-dokumen ini secara langsung akan memperlihatkan salah satu kenyataan bahwa Biennale Jogja sudah membuktikan diri lebih konsisten dalam penyelenggaraannya ketimbang Biennale Jakarta, Surabaya, atau Bali.
Continue Reading →
Sound Scape jembatan Gondolayu
Berangkat dari kebiasaan orang jogja yang mempunyai hobi nongkrong dan selalu mengeksplorasi tempat, yang kemudian menjadikan spot-spot baru tercipta. Dalam proses menciptakan spot-spot nongkrong baru ini secara tidak langsung akan merubah kesan/image dari suatu tempat yang di tongkrongi tersebut, bahkan perubahan yang terjadi bisa saja sangat drastis dan ini yang terjadi di jembatan Gondolayu.
Berangkat dari spirit nakal dan usil, dalam soundscape ini airportradio akan mengilustrasikan image lama Gondolayu (image seram/horor) dalam sebuah rangkaian cut dan mix sound dari film horor 80-an dikombinasikan ambient khas airportradio dan menghadirkannya kembali dalam atmosfir jembatan Gondolayu masa sekarang.
Continue Reading →
Continue Reading →
Biennale Jogja X mengangkat isu Jamming dan Gerakan Arsip Seni Rupa. Mengapa tim kurator memilih isu ini? Mengutip proposal Biennale Jogja X, kali ini akan ditampilkan karya-karya mutakhir dari para perupa kontemporer yang memiliki reputasi bagus dalam wacana dan pasar senirupa kontemporer Indonesia. Bagaimanakah memilih para perupa yang dikategorisasi memiliki reputasi bagus tersebut? Bagaimanakah proses penterjemahan isu menjadi proses kuratorial Biennale Jogja X? Apakah fungsi dan peran kurator dalam Biennale Jogja X? Pada karya yang mengisi areal kota, bagaimanakah proses pemilihan seniman dan bentuk-bentuk konsultasi, transaksi, komunikasi dengan para seniman? Bagaimanakah proses penentuan titik lokasi yang dipilih? Bagaimana hubungannya terhadap pemerintah kota?
Biennale Jogja X – 2009 mengundang teman-teman untuk hadir dalam acara Public Lecture: Praktek Pengoleksian Karya Seni Rupa.
Sesuai dengan arti sebenarnya, kolektor adalah orang yang mengoleksi. Makna kolektor bagi pasar seni rupa Indonesia saat ini kerap disamakan dengan investor dan art dealer yang melakukan pembelian karya seni untuk segera dijual kembali. Apakah istilah kolekdol masih relevan dengan situasi seni rupa Indonesia? Apa yang dilakukan kolektor terhadap karya seninya? Atas dasar apa seseorang tergoda untuk mengoleksi sebuah karya seni?
Continue Reading →
Pameran Lukisan Retrospeksi
“Padamu Negeri”
GUNAWAN RAHARDJO
Ini adalah pameran tunggal ke dua saya sejak tahun 1994. Walaupun setiap tahun untuk menunjukkan eksistensi saya sebagai pelukis selalu menggelar pameran secara berkelompok dan hampir setiap hari saya selalu berkarya baik lukisan, karikatur dan ilustrasi.
Pameran saya pada akhir tahun ini tergugah atas dorongan dari para alumni SMK N 3 Kasihan atau yang lebih beken disebut SMSR Jogja jurusan Grafis Komunikasi. Merekalah yang pro aktif mencarikan sponsor dan tempat pameran tunggal lagi. Setelah saya mupus karena asa saya untuk pameran lukisan dalam rangka penggalangan dana untuk peduli bencana alam Sumbar, yang telah terjalin kerjasama di Griya KR dibatalkan. Continue Reading →
Start Time: Thursday, December 10, 2009 at 7:30pm
End Time: Sunday, December 20, 2009 at 7:30pm
Location: Galeri Nasional Indonesia
Address: Jl. Medan Merdeka Timur no. 14 Jakarta
Continue Reading →
Puluhan ribu orang mati akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya indonesia,peformance art ini dibuat untuk menghormati orang-orang yang mati itu. Sebagian mungkin orang yang kita kenal, sebagian lagi tidak. Datang dan berpartisipasilah, dengan berpura-pura mati selama satu menit, dititik nol depan kantor pos dan monumen serangan satu maret, bersama dengan 500 orang lainnya. Semenit senyap untuk orang-orang yang mati di jalan raya.
:Kami Melukis Karena Itulah HeRe Ada
HeRe adalah sebuah proyek kolaborasi antara Restu dan Hendra. Dalam sebuah proyek kolaborasi yang terpenting adalah bagaimana masing-masing pihak mau mengambil peran secara aktif, sekaligus menjadi pasif jika memang dibutuhkan. Posisi tarik ulur inilah yang membuat proyek kolaborasi ini jarang dilakukan oleh para perupa yang punya ego sebesar gunung.
HeRe adalah dunia main-main dari pasangan seniman ini. Di sini mereka terbebas dari cap dagang Hendra Harsono dan Restu Ratnaningtyas yang sering kali membungkus mereka dengan berbagai atribut; seniman muda, low brow artist, street art ism, dan lain sebagainya.
Continue Reading →
Curated by Chandra Johan, Diana Nazir, Irawan Karseno, Seno Joko Suyono
Artist & Designer: Continue Reading →
Anabelle Clarissa (Interior Designer)
Ariani Kuntari Kunaryo (Interior Designer)
Awan Simatupang (sculpture artist)
Ayang Kalake (photographer)
Chandra Johan (painters)
Diana Nazir (Interior Designer)
Hanafi (painters)
Hardiman Radjab (sculpture & installation artist)
Harry Purwanto (Graphic Designer)