<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ArtTitudes &#187; afrizal malna</title>
	<atom:link href="http://www.arttitudes.org/tag/afrizal-malna/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arttitudes.org</link>
	<description>Indonesia Contemporary Art</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Aug 2011 16:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Oasis To Be</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/oasis-to-be.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/oasis-to-be.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 06:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[affandi]]></category>
		<category><![CDATA[afrizal malna]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[jompet kuswidananto]]></category>
		<category><![CDATA[mahaart gallery]]></category>
		<category><![CDATA[mella jaarsma]]></category>
		<category><![CDATA[nyoman erawan]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[s. teddy dermawan]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[titarubi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1529</guid>
		<description><![CDATA[[ March 25, 2010; 7:00 pm; ] Curated by Afrizal Malna Pameran-pameran senirupa kini, sudah menjadi kian umum membawa sebuah tajuk berdasarkan tema-tema tertentu, dan membuat pameran tersebut menjadi “pameran pernyataan”. Ini terjadi untuk pameran tunggal maupun pameran bersama. Tetapi sering juga terjadi, antara tajuk pameran dengan karya yang dipamerkan, ternyata tidak cukup terjadi kaitan signifikan antara keduanya. Ini hanya semacam prolog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1530" href="http://arttitudes.org/exhibition/oasis-to-be.html/attachment/oasis-to-be"><img class="alignleft size-full wp-image-1530" title="Oasis to Be" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/03/Oasis-to-Be.jpg" alt="" width="200" height="93" /></a>Curated by Afrizal Malna</p>
<p>Pameran-pameran senirupa kini, sudah menjadi kian umum<br /> membawa sebuah tajuk berdasarkan tema-tema tertentu, dan membuat pameran tersebut menjadi “pameran pernyataan”. Ini terjadi untuk pameran tunggal maupun pameran bersama. Tetapi sering juga terjadi, antara tajuk pameran dengan karya yang dipamerkan, ternyata tidak cukup terjadi kaitan signifikan antara keduanya. Ini hanya semacam prolog ringan untuk mengantar pintu masuk pameran Oasis To Be ini. Kenapa Oasis To Be? Ada tiga hal yang ingin dipertemukan di sini, untuk membangun narasi pameran ini:<span id="more-1529"></span></p>
<p>1. Jalinan To Be<br /> Pameran ini tidak terlalu jauh dari pembentukan opini di sekitar global warming dan pelanggaran hal asasi manusia (HAM) dalam pergaulan internasional masa kini. Topik ini sudah menjadi bagian dari agenda seni rupa untuk advokasi lahirnya bentuk-bentuk kemanusiaan baru yang memberikan hak, penghargaan maupun penghormatan kepada seluruh wujud kehidupan sebagai kehidupan dan keberadaan bersama. Opini ini untuk menjalin norma dari kosmologi bahwa kerusakan sekecil apapun yang kita lakukan, membawa efek yang signifikan ke seluruh jaringan kehidupan.</p>
<p>Seluruh jaringan kehidupan kita adalah jalinan yang sedang menjadi (to be). Seniman yang terus membaca wilayah kreativitas antara dirinya dan dunia di luarnya, antara batas seni dengan yang bukan seni, antara tubuhnya dan media di luarnya, serta antara karya-karyanya dan wacana-wacana kritis yang berkembang di sekitarnya, diandaikan memiliki apresiasi yang mendalam terhadap proses-proses menjadi ini.</p>
<p>Namun istilah menjadi di sini, dengan menggunakan latar global warming dan mencairnya ketegangan-ketegangan ideologis pascaperang dingin, otomatis tidak lagi dimaksudkan mengacu kepada wacana-wacana eksitensialisme. Senirupa tidak lagi dibaca sebagai sejarah stylistic. Melainkan sejarah gagasan-gagasan, tema maupun teknik. Teknik bukan dibaca sebagai bagaimana seniman mempertahankan gaya lukisan-lukisannya, melainkan bagaimana ia menggunakan teknik untuk menopang gagasan-gagasannya dalam berkarya. Karena itu jalinan menjadi ini dibaca sebagai post-identitas.</p>
<p>2. Oasis To Be<br /> Bali memberikan konteks sosial-historis yang menarik untuk berbagai proses menjadi yang berlangsung di wilayah ini. Terutama lewat kebudayaan. Halaman belakang dan halaman depan dari seluruh proses-proses kualitatif maupun kuantitatif kebudayaan berlangsung bersamaan di Bali. Tradisi dan kontemporer tetap kita saksikan ada di sini dan kini. Arus globalisasi, realitasnya juga paling konkrit kita hadapi di kawasan ini: bahasa asing, uang asing, beredar bersamaan dengan berbagai entitas domestik. Perbedaan dilihat sebagai keberadaan dan kenyataan bersama.</p>
<p>Dalam konteks Bali sendiri, proses menjadi itu mungkin untuk dibaca sebagai siklus dari kelahiran menuju ke kelahiran baru (reinkarnasi-pencerahan) dengan menjalani karma sebagai pembersihan untuk sampai kepada kesempurnaan. Proses menjadi dalam siklus kelahiran kembali ini, dengan sendirinya tidak mengandaikan premis perubahan lewat revolusi. Setiap perubahan radikal menjadi berlawanan dengan siklus itu. Pada sisi lain kita bisa membaca siklus ini sebagai pengaman untuk liberalisasi global yang merembes ke Bali.</p>
<p>Kedua hal di atas membuat Bali memberikan konteks yang khas untuk senirupa, yang membedakannya dengan kawasan lain di Indonesia. Konteks itu adalah “oase untuk menjadi”. Dalam pameran ini oase ini dijadikan sebagai tajuk pameran. Selanjutnya menjadi: Oasis To Be.</p>
<p>3. Affandi Sharing<br /> Pameran ini juga melibatkan karya Affandi. Menghadirkan Affandi dalam pameran ini merupakan bagian dari usaha mendapatkan efek pembacaan terhadap Oasis To Be itu. Affandi merupakan tonggak penting dalam sejarah senirupa kontemporer Indonesia. Seniman yang paling keras menjalani proses menjadinya di tengah kancah perang dunia dan perang kemerdekaan.</p>
<p>Dalam konteks perjalanan senirupanya, Affandi mengalami beberapa hal yang penting sebagai bahan pembacaan. Pertama, Affandi menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tubuh-pertama dalam melukis. Tubuh menjadi sentral untuk berbagai gejolak maupun strategi visual saat melukis. Affandi boleh dikatakan hampir tidak pernah melukis dalam studio: tubuhnya, alam terbuka, reaksi orang-orang di sekitar saat melukis, objek dan kanvas, serentak seluruhnya berada dalam waktu dan ruang yang sama dan selesai pada saat itu juga. Melukis baginya sama dengan momen kreatif dengan durasi yang tidak terputus dan tak tergantikan. Tangannya langgsung berhubungan dan merasakan sensasi cat saat menyentuh tekstur dari permukaan kanvas yang dilukisnya.</p>
<p>Hal itu menghasilkan ekspresionisme yang disimpulkan Eric Newton sebagai: “Affandi tidak melukis kenyataan, melainkan melukis perasaan yang ia dapatkan dari kenyataan yang dialaminya.” (Bambang Bujono, 2007). Ekspresionisme yang kemudian mengantar Affandi memasuki peristiwa maupun apresiasi senirupa internasional yang penting di India, Eropa, Jepang dan Amerika. Ia dianggap membawa ekspresionisme baru dengan cara Affandi sendiri dalam kanon ekspresionisme Barat yang sudah biasa waktu itu (Herbert Read, 1959).</p>
<p>Kedua, dalam perjalanan senirupanya, Affandi memasuki satu tahapan lain, yang tampaknya masih menggantung hingga akhir hidupnya. Kritikus Dan Soewarjono merumuskan tahapan ini sebagai: “Affandi meloncat dari bahasa klasik ekspresionistis figuratif, ke bahasa visual abstrak-ekspresionistis” (1970). Periode ini berlangsung saat Affandi menghadapi guncangan dari perkembangan teknologi yang dilihatnya dalam pameran Expo Osaka’70 di Jepang. Anatomi garis-garis Affandi yang sebelumnya meliuk-liuk menyerupai garis wayang, alam tropis, atau budaya pesisir yang pernah melatari masa lalunya, tiba-tiba terguncang berhadapan dengan bentuk-bentuk kubistik dan lurus dari dunia teknologi. Soewarjono lebih rinci mengidentifikasi abstrak-ekspresionistis Affandi ini di mana: garis-garis ekspresif Affandi bergerak tidak lagi mengikuti atau mewakili objek, seperti mulai terlepas dari objek dan bergerak ke arah fenomena yang lain.</p>
<p>Periode ini tampaknya tidak berlanjut, karena untuk Affandi sendiri merasa dirinya lebih sebagai seorang naturalis. Abstrak untuknya masih merupakan dunia yang asing. Cara-cara Affandi melukis dengan tubuh pertamanya di alam terbuka, juga merupakan faktor kuat yang tidak memungkinkan Affandi bersentuhan dengan senirupa abstrak, karena objek masih merupakan alasan pertama untuknya melukis. Di samping penghayatannya yang mendalam atas humanisme kerakyatan yang ikut menentukan emosi maupun pilihan-pilihan objeknya. Tetapi karya-karya menjelang kematiannya, memperlihatkan kembali kecenderungan abstrak pada lukisannya, emosi muncul tidak provokatif lagi lewat minimalisasi garis. Ada kesan Affandi memasuki substansi dari kodrat kemanusiaannya.</p>
<p>Ketiga, Bali dan Affandi hampir tidak terpisahkan dalam konteks perjalanan senirupa Affandi sendiri. Bali tampaknya lebih memenuhi tubuh senirupa yang dijalani Affandi. Pameran ini disertai dengan pemutaran video tentang Affandi (Affandi After Epoch), serta diskusi untuk sharing di sekitar Affandi.(Afrizal Malna)</p>
<p>Artists: Affandi, Mella Jaarsma, Titarubi, Nyoman Erawan, Jompet Kuswidananto, S.Teddy D.</p>
<p>Start Time:	Thursday, March 25, 2010 at 7:00pm<br /> End Time: Monday, May 10, 2010 at 10:00pm<br /> Venue: Maha Art Gallery<br /> Address: Club House Bali Beach Golf Course, Jl. Hang Tuah 58 Sanur</p>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/oasis-to-be.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spotlight</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/spotlight.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/spotlight.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[afrizal malna]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[galeri nasional]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[made wianta]]></category>
		<category><![CDATA[o house gallery]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1221</guid>
		<description><![CDATA[[ November 25, 2009; 7:00 pm; ] 

Spotlight
Solo exhibition by Made Wianta

Host: O House Gallery
Start Time: Wednesday, November 25, 2009 at 7pm
End Time: Sunday, December 6, 2009
Place: Galeri Nasional Indonesia
Address: Jl. Medan Merdeka Timur no 14, Jakarta
Contact: Bonny Limantoro (081 61828903)

Book Launching: Space Under the Ears, Fine Art Biographyof Made Wianta by Afrizal Mahendra]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1220  alignleft" title="spotlight" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2009/11/spotlight.jpg" alt="spotlight" width="290" height="124" /></p>
<p><strong>Spotlight</strong><br />
<em>Solo exhibition by Made Wianta</em></p>
<p><strong>Host</strong>: O House Gallery<br />
<strong>Start Time</strong>: Wednesday, November 25, 2009 at 7pm<br />
<strong>End Time</strong>: Sunday, December 6, 2009<br />
<strong>Place</strong>: Galeri Nasional Indonesia<br />
<strong>Address</strong>: Jl. Medan Merdeka Timur no 14, Jakarta<br />
<strong>Contact</strong>: Bonny Limantoro (081 61828903)</p>
<p><strong>Book Launching</strong>: Space Under the Ears, Fine Art Biographyof Made Wianta by Afrizal Mahendra<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/spotlight.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

