Muncul dari kegelapan akan mewujudkan suatu yang misterius, dramatik dan kedalaman……..
……kali ini ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta akan berubah menjadi hitam pekat. Seluruh permukaan dinding, lantai, dan plavon akan ditutup dengan kain hitam. Meskipun karakter karya dan media
Continue Reading →
A Bambang Toko Solo Exhibition
While Bambang Toko presents a progression of painted canvases, depicting comic book panels, it would be remiss to claim that progression to be sequential, as in sequential art (comic art). Rather, each canvas is viewed separately, due to
Continue Reading →
Curated by Bambang “Toko” Witjaksono
Co Curated by Grace Samboh
Andi’s Gallery menghadirkan pameran komik. Tentu saja, komik yang maksud adalah bukan sepenuhnya komik sebagai bentuk, tetapi segala bahasa estetik yang muncul dalam dunia komik. Maestro komik, Will Eisner, menggunakan istilah ‘seni berturutan’ untuk menjelaskan batasan tentang komik. Batasan ini tentu saja masih menghendaki penjelasan yang lebih spesifik. Tetapi, marilah kita tempatkan batasan yang dikemukakan Will Eisner ini sebagai titik berangkat.
Continue Reading →
Continue Reading →
Pemateri Public Lecture Series #3:
Eko Prawoto
Lulus dari Universitas Gajah Mada, 1982. Eko Prawoto bekerja sebagai arsitek junior di PT Prima Design. Kemudian menjadi dosen dan pendiri jurusan Arsitektur di Universitas Kristen Duta Wacana. Awal karir tersebut, membawanya keperjalanan penuh tantangan dan tak terduga. Saat menjadi dosen muda, beliau bertemu dengan Romo YB Mangunwijaya, banyak berdiskusi filosofis dan konsentrasi lebih dalam lagi mengenai humanitarian. Pertemanan ini menjadi pengaruh yang penting dalam dasar pemikiran-pemikiran Eko Prawoto di masa depan. Eko Prawoto kembali melanjutkan sekolahnya di Berlage Institute Amsterdam tahun 1991. Sepulang dari sekolah ini, kembali membawa perubahan dalam karirnya. Desain-desainnya menjadi penuh eksperimen, menggabungkan elemen arsitektur modern dan tradisional.
Tema ini diambil dari dialog dengan Bayu Widodo terkait dengan pameran tunggalnya di Roommate 5 – 12 Juli 2009. Pameran tunggalnya kali ini berbeda dengan pameran sebelumnya. Pameran ini mengetengahkan kembali karya hasil residensinya di Studio Megalo, Canberra, Australia. Pameran tunggal ini juga disertai dengan workshop screen printing, dan tattoo, serta artist talk proses residensinya di Australia.
Bayu melakukan residensi selama enam minggu. Program ini dia dapatkan secara mandiri. Hasil dari “mengalami” hidup di sana ia presentasikan dalam bentuk pameran di studio Megalo, 24 April 2009 dengan tajuk Me vs Robot. Penganalogian ini muncul ketika Bayu merasakan bahwa di dalam urbanisasi, manusia hidup dalam sistematika mesin. Residensi menjadi praktik mengalami bentuk “urban” di sana –hingga masuk dalam medan street art.
Melalui sejumlah karyanya, terasa ia tertarik untuk mengkomunikasikan konsep urbanisasi yang sudah menjadi praktik, dan efeknya bagi kemanusiaan orang. Aktualisasi dari persoalan sosial urban itu banyak dia tampilkan melalui penanda-penanda, berupa rumah, dan manusia berkepala tengkorak. Memang ada variasi lain, namun, kita bisa mendekati gagasannya mengenai urban melalui tegangan manusia dan “home”. Home bukanlah rumah, melainkan “ruang kenyamanan”.
Continue Reading →