Start Time: Tuesday, March 23, 2010 at 7:30pm
End Time: Wednesday, March 31, 2010 at 10:30pm
Location: BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA
Manusia-manusia dunia modern sebagian besar bekerja keras demi kekuatan dan kesejahteraan material, tak peduli seberapa besar ongkosnya. Dalam kehirukpikukan ini, mereka melupakan satu hal bahwa alam semesta adalah seorang ibu yang memberi makan mereka, memberi napas dan memancarkan sinar kemewahannya, cintanya dan bermacamragam keindahan kepada umat manusia.
Khususnya dalam seratus tahun terakhir, destruksi alam mengakibatkan
Continue Reading →
Start Time: Tuesday, March 2, 2010 at 7:30pm
End Time: Wednesday, March 10, 2010 at 9:00pm
Venue: BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA
Address: Jl.Suroto 2 ,Kota Baru, Yogyakarta
Will be officiated by Mr.Ridwan (The owner of Syang Gallery)
Artists: HAFEZ ACHDA, PARJIYANTO, PUTRA EKO SAPUTRO, SRI PRAMONO, SUMARTONO,SUPARMAN,TEGUH MARGONO dan UNGGUL PAMUNGKAS
Continue Reading →
Salah satu serial strip komik paling populer saat ini adalah Benny & Mice yang terbit setiap Minggu di Harian Kompas. Strip komik ini pada awalnya banyak mengambil latar keadaan kota Jakarta yang dinamis. Pada perkembangannya, strip komik yang dikarang oleh Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad alias Mice ini banyak melakukan kritik sosial kepada penduduk Jakarta dan Indonesia dari berbagai kalangan.
Dengan bekal selama setengah abad menekuni dunia gambar model itu, kini Jeihan sampai pada “puncak” dari segala teknik gambar. Karya-karyanya bertambah sublim bahkan menampakkan kebeningan yang luar biasa.
Di luar itu semua –dan inilah capaian ‘mutakhir’ Jeihan, perupa ini bekerja tidak lagi atas dasar dorongan ‘keinginan’. Bahwa segala sesuatu terwujud didorong oleh gerak insting. Insting, dalam perumusan Jeihan, sebuah keadaan kejiwaan yang bekerja di atas kesadaran, tidak lagi pada tataran bawah sadar yang sering diterjemahkan sebagai bekerjanya intuisi. Pada prakteknya saat-saat bekerja Jeihan tidak lagi melihat apa yang terjadi di atas kanvasnya, ia berkonsentrasi penuh untuk memasuki alam kejiwaan para modelnya. Lewat getaran-getaran energi yang dipancarkan modelnya atau lebih populer dikenal sebagai aura, Jeihan menemukan spesifikasi-spesifikasi karakter yang kemudian ia terjemahkan lewat warna-warna. (Sumber: Leaflet Pameran, 2009)
Continue Reading →
Continue Reading →
Bali menjadi pilihan utama untuk disinggahi pameran keliling karya seni cetak grafis ini sedikitnya untuk dua alasan. Pertama karena kegiatan semacam ini sangat jarang dilakukan di tengah keramaian seni rupa terutama seni lukis, dan pada hemat kami baik seniman maupun masyarakat umum di Bali perlu mendapat alternatif suguhan visual. Kedua untuk memberi dorongan semangan kepada sejumlah kecil seniman yang ternyata juga membuat karya grafis, dan satu di antaranya menghasilkan karya finalis yang ikut dipamerkan kali ini. Alasan lain tentu saja adalah menjadi bagian dari pengenalan atas Bentara Budaya yang bulan lagu diresmikan penggunaannya secara penuh.
DARI LEMPAD SAMPAI LIONG
Pameran Lukisan Bali koleksi Bentara Budaya
Langkah bersejarah PK Ojong (alm) salah seorang pendiri Kompas Continue Reading →
Gramedia yang dibantu oleh GM Sudarta (kartunis Kompas) adalah
mengoleksi karya-karya pelukis Bali di tahun 1970-an. Kesempatan
langka itu datang ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Ubud, tanpa memahami peta lokasi pelukis-pelukis Bali, berdua mereka mendatangi sebuah art gallery bernama Wayan Barwa di kawasan Teges, Ubud, Bali. Mereka bertemu dengan salah satu pegawai bernama Ketut Nama, yang akhirnya mengantar PK Ojong dan GM Sudarta menyambangi pelukis-pelukis kondang saat itu yang menyebar di beberapa banjar seperti Pengosekan, Tebesaya, Batuan, Ubud, sampai Tegalalang.
Pameran „darstellung | vorstellung“ mempresentasikan sepuluh posisi fotografi Jerman kontemporer. Setelah untuk waktu yang lama kegiatan seni dalam bidang fotografi, baik dalam tingkat nasional maupun internasional dibentuk oleh generasi murid-murid Bernd Becher dari Akademi Senirupa Düsseldorf, maka di tahun-tahun terakhir ini telah terbentuk satu babak fotografi yang lebih hidup dan heterogen, yang tak terikat pada satu institusi pendidikan, wilayah, dan gaya tertentu yang sudah ada.
Para seniman pameran ini berasal dari generasi masa kini, mereka berusia sekitar 40-an, dan sejak sepuluh tahun terakhir ini mereka aktif di bidang fotografi. Banyak dari mereka hidup dan bekerja di Jerman Barat dan Timur.
Continue Reading →
Perhelatan seni berbagai gaya dan bentuk di dalam tema dasar “bambu” akan digelar hampir sepanjang bulan November, untuk mengisi grand opening Bentara Budaya Bali. Festival Bambu ini terdiri dari pameran seni rupa, serial pertunjukan musik selama tiga malam berturut dan sarasehan seni. Semua terkait dengan bambu, berangkat dari renungan tentang bambu di dalam kehidupan manusia. Perhatian utama tidak hanya pada ekspresi keindahan di dalam perspektif seni semata tetapi juga pada aksi penyadaran akan kelestarian dan keseimbangan alam.
Pameran rupa yang diresmikan pada saat resepsi dan berlangsung sampai 20 November akan berujud lukisan atau drawing dan ragam teknik lainnya, karya-karya tiga dimensi, instalasi, dan sejumlah karya luar ruang. Para perupa yang mengisi pameran adalah Made Wianta,
Continue Reading →
Menyuguhkan seri pemandangan terbaru di dalam perkembangan dunia seni grafis hari ini, yang merupakan hasil dari Trienal Grafis 2009, sebuah kompetisi tiga tahunan yang dijaga secara ketat oleh tim juri. Sebanyak 50 karya finalis termasuk di antaranya tiga pemenang utama akan tampil di dalam pameran perdana di venue kami di Jakarta. Berbeda dengan dua kali kompetisi terdahulu, Trienal kali ini melonggarkan tema sambil mengharap munculnya karya-karya grafis yang hebat secara teknis sekaligus kuat di dalam pesan. Kombinasi kehebatan tersebut bisa ditemui di dalam sejumlah karya finalis. Berbagai corak gambar muncul di dalam puluhan karya tersebut, namun yang tak kalah penting hadir juga bermacam teknik cetak. Terbanyak di antaranya adalah cukil kayu, beberapa menggunakan intaglio, lithography, monoprint, serta “mixmedia”.
Continue Reading →
Hasil Penjurian Kaya Trienal Seni Grafis 2009
Tak Kunjung Padam karya Mohammad Yusuf Continue Reading →
Food Not Teror karya Mohammad Yusuf
Human Activity karya Joko Atmaja
Garuda dalam Genggaman Sang Terdakwa karya I Kadek Septa Adi
Selatan – Utara kaya Syahrizal Pahlevi
Greedness karya Angga Sukma Permana
Anger by Angel karta Angga Sukma Permana
Imaji tentang Kerusakan Alam karya Winarso Taufiq
Hukum Rimba karya Yohanes M Fakri Syahrani
Hutan Kota karya M Oscar Sastra
Mencoba Melawan Takdir karya Ariswan Adhitama
Phrenologia karya Haryadi Suadi
Meski di ISI Yogyakarta ia memilih belajar seni lukis, namun Rizal Pahlevi dikenal sebagai seorang pegrafis yang tangguh. Ia menguasai pisau cukilnya seperti pelukis menggoreskan pensil atau kuas: luwes dan leluasa seolah tak mengalami hambatan teknis. Tampilan visual gagasan-gagasannya yang muncul di atas kertas, kain, atau kanvas, menepis anggapan bahwa grafis adalah jenis seni yang menghambat ekspresi.
Karya-karyanya sering bertolak dari kenyataan di lingkungan terdekatnya, sejak orang-orang yang dia jumpai di dalam kehidupan sehari-hari, suasana pekarangan rumah, sampai berbagai lanskap. Kini ia hadir dengan rekaman pengalaman yang lain meski tetap
Continue Reading →