Perjalanan Seni Rupa Indonesia dalam perspektif kesejarahan, dengan pemahaman pihak-pihak yang berperan aktif untuk seni rupa Indonesia. Pendidikan seni di sekolah maupun perguruan tinggi melibatkan pembahasan mengenai sejarah seni rupa Indonesia, dari catatan yang dibuat oleh pemerintah. Sementara proses pemparan sejarah tersebut belum tentu disusun berdasarkan ilmu kesejarahan. Bagaimana periodisasi diterapkan dalam sejarah seni rupa modern Indonesia?
Pembicara : Hilmar Farid & Agus Burhan
Moderator : Halim HD
Hari, tanggal : Sabtu, 19 Desember 2009
Waktu : 15.30 – 17.00 WIB
Lokasi : Sangkring Art Space
Notulen : Yuliana Intan
CP: Fajar Martha: 0817465917
jogjabiennale@yahoo.co.id
biennalejogja.com
KI JAROT JOGO PARKIR NENG GEDUNG BI
KI JAROT, adalah akronim dari JUKI-JAHANAM-ROTRA, akan manggung bareng fashion show karya Tere & Rika di Gedung BI (Bank Indonesia) Jogja. Jogo Parkiran adalah lagu hip-hop Jawa yang pertama kali populer, sementara fashion show Tere & Rika mengambil inspirasi dari baju tukang parkir.
Acara ini adalah salah satu program dari BIENALE JOGJA X 2009
Host: Jogja Hip Hop Foundation
Date: Wednesday, December 16, 2009
Time: 3:30pm – 9:30pm
Location: GEDUNG BANK INDONESIA (BI) YOGYAKARTA
Continue Reading →
Biennale Jogja X mengangkat isu Jamming dan Gerakan Arsip Seni Rupa. Mengapa tim kurator memilih isu ini? Mengutip proposal Biennale Jogja X, kali ini akan ditampilkan karya-karya mutakhir dari para perupa kontemporer yang memiliki reputasi bagus dalam wacana dan pasar senirupa kontemporer Indonesia. Bagaimanakah memilih para perupa yang dikategorisasi memiliki reputasi bagus tersebut? Bagaimanakah proses penterjemahan isu menjadi proses kuratorial Biennale Jogja X? Apakah fungsi dan peran kurator dalam Biennale Jogja X? Pada karya yang mengisi areal kota, bagaimanakah proses pemilihan seniman dan bentuk-bentuk konsultasi, transaksi, komunikasi dengan para seniman? Bagaimanakah proses penentuan titik lokasi yang dipilih? Bagaimana hubungannya terhadap pemerintah kota?
Biennale Jogja X – 2009 mengundang teman-teman untuk hadir dalam acara Public Lecture: Praktek Pengoleksian Karya Seni Rupa.
Sesuai dengan arti sebenarnya, kolektor adalah orang yang mengoleksi. Makna kolektor bagi pasar seni rupa Indonesia saat ini kerap disamakan dengan investor dan art dealer yang melakukan pembelian karya seni untuk segera dijual kembali. Apakah istilah kolekdol masih relevan dengan situasi seni rupa Indonesia? Apa yang dilakukan kolektor terhadap karya seninya? Atas dasar apa seseorang tergoda untuk mengoleksi sebuah karya seni?
Continue Reading →
OLEH: YUYUK SUGARMA
Sinar Harapan, Sabtu, 07 November 2009
Yogyakarta – Ruang publik Kota Yogya bakal dipenuhi karya-karya artistik para perupa.
Di baliho-baliho, aspal jalanan, tembok-tembok maupun ruang-ruang yang kosong akan terpampang lukisan yang ber bentuk digital print, instalasi, bahkan performing art ataupun eksperimental art. Sementara di empat venue (Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, Gedung Bank Indonesia dan Sangkring Art Space) juga akan terpampang lukisan-lukisan karya perupa di era kemerdekaan, seperti Sudjojpno, Trubus, dan Affandi. Total, ada 130 perupa (di antaranya Heri Dono, Dadang Christanto, Djoko Pekik, Jumaldi Alfi, Nasirun, Totok Buchori, Edi Hara, Rudi Manthovani dan masih seabrek lagi perupa lainnya) yang akan terlibat dalam pameran in door. Sementara itu, tak kurang dari 150 seniman/kelompok (seperti Kelompok Seringgit, Dicky Tjandra, Albara, dan Kelompok Hitam Manis) terlibat “mempercantik” kota Yogya.
Itulah tekad panitia yang diwujudkan dalam perhelatan seni rupa Biennale yang akan berlangsung sejak 10 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa,” demikian tema yang diambil pada Biennale Jogja X.
Continue Reading →
SURVEY BIENNALE X JOGJAKARTA 2009
DATA DIRI
Nama:
Alamat:
Telp:
Profesi (di bidang seni):
a. Kurator
b. Perupa
c. Kolektor
d. Galeri
e. Penuis
g. Art Management
h.
TENTANG BIENNALE
1. Menurut anda, apakah Jogjakarta membutuhkan biennale ?
a. Ya
b. Tidak
Jika ya, berikan alasannya:
Continue Reading →
Setelah kurang-lebih 21 tahun, sesudah 9 kali perhelatan, Biennale Jogja telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis dan pencapaian artistik para pelaku senirupa di kota ini.
Kemungkinan itu merupakan semacam jembatan kesempatan untuk merayakan tradisi ini dengan partisipasi. Tapi sejauh ini partisipasi itu masih dianggap bersifat fragmentaris—dan hal inilah yang kerap memunculkan kritik dari satu perhelatan ke perhelatan lainnya.
Karena itu, setelah 9 kali pergelaran, sudah saatnya untuk menengok kembali, tidak hanya signifikansi kritik itu terhadap Biennale Jogja, tapi juga apa yang selama itu telah berlangsung dalam tradisi ini.
Continue Reading →
Perhelatan akbar senirupa Biennale Yogyakarta akan berlangsung sebentar lagi. Namun dalam Biennale yang ke-10 ini ada yang mengemuka dan bisa menjadi tonggak sejarah dalam perjalanannya.
Dimotori Butet Kartaredjasa, Dyan Anggraini, Ong Hari Wahyu, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Yuswantoro, Adi, Kusen Hadi dan masih banyak nama lagi, mereka sepakat bahwa Biennale X yang akan berlangsung Desember mendatang tak akan ada penjualan karya oleh
panitia.
Selain itu, Biennale Jogja X juga akan menjadi tonggak sejarah. Kegiatan perhelatan Biennale yang biasanya hanya ditangani sebuah kepanitiaan, kelak akan menjadi lembaga permanen. Lembaga yang nantinya didanai APBD ini akan berkonsentrasi pada penyelenggaraan Biennale Yogyakarta dua tahun sekali, menggalang dana abadi, memperkuat jaringan seni rupa tingkat nasional dan internasional, serta membangun infrastruktur seni rupa. Ini merupakan impian lama, dan kali ini akan terwujud nyata.
Continue Reading →