Rumah Seni Cemeti membuka dua peluang untuk bekerja sebagai Staf Operasional dan Staf Artistik yang akan menangani:
Staf Operasional:
Kinerja operasional galeri sehari-hari, pembukuan, manajemen keuangan, administrasi dan manajerial pameran & proyek
Staf Artistik: Continue Reading →
Pengolahan database dokumentasi seni rupa, manajemen website, dan bertanggung jawab atas desain dan publikasi.
Proyek Seni Rupa “+ROAD” – tanggal 1 sampai dengan 30 Juni 2010 di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta
“ +ROAD “ (baca: cross road) adalah judul proyek seni rupa; pertautan dialog budaya antara lima orang perupa muda Yogyakarta dengan lima orang perupa dari Yangon Myanmar. Secara sangat intensif mereka akan masuk ke dalam program yang secara khusus dirancang dengan terlebih dahulu mempresentasikan karya masing-masing dalam tuntutan konteks pemahaman budaya masing-masing, meneropong jauh di balik latar belakang politik, ekonomi, dan sosial kesenian mereka.
Continue Reading →
Continue Reading →
Kami mencari Seniman/ Seniwati yang tertarik untuk mengikuti:
– Proyek/ workshop & pameran bersama seniman dari Myanmar
– Residensi di Rumah Seni Cemeti selama tiga (3) bulan
– Master Class Program
Continue Reading →
Allison Holt (l. 1972, Amerika) tinggal dan bekerja di Solo dan Yogyakarta, Indonesia sebagai Fulbright Research Fellow. Ia belajar di Evergreen State College (Olympia, WA), dan memperoleh gelar sarjananya di Massachusetts College of Art (Boston, MA). Holt berkecimpung dengan
NEW APPROACH – NEW WEBSITE
Take a look at our new website, still at http://www.cemetiarthouse.com!
CEMETI ART HOUSE known as an art space for contemporary art in Yogyakarta, Indonesia, has changed its activities: We no longer have monthly changing exhibitions anymore. Instead, Cemeti Art House is encouraging creative/alternative projects and focuses on art practices through multidisciplinary artist-in-residence programs. We will also host interns and art researchers.
Continue Reading →
MOTOR LAPAR
Laura Wills
Studio Terbuka & Presentasi Hasil Kerja Residensi
“Kritis-spontan mungkin adalah karakter utama dari kerja-kerja Laura selama ini. Padanya tampak jelas ada usaha untuk memberikan tawaran cara pandang alternatif terhadap persoalan sehari-hari, khususnya yang menyangkut hubungan antara manusia dan lingkungannya. Suatu topik yang seperti dikatakan sendiri olehnya: besar.
Terutama dalam karya-karyanya yang didesain untuk menciptakan interaksi masyarakat, sebuah jalan lain sebagai fasilitator perubahan—dan bekerja dengan cara-cara yang sistematis (sebuah peran yang biasa diambil oleh organisasi non pemerintah, juga oleh beberapa seniman dan pekerja kebudayaan) terbuka untuk dipilih.
Continue Reading →
Studio Terbuka dan Presentasi Kerja Residensi
Laura Wills adalah perupa visual yang tinggal dan berkarya di Adelaide, Australia. Praktek berkeseniannya meliputi beragam media, mulai dari lukisan, drawing, fotografi hingga instalasi, media arts, dan proyek-proyek komunitas. Ketertarikannya yang terbesar adalah untuk berkarya menggunakan material-material temuan, mengadakan kolaborasi dan proyek-proyek yang bertema sosial dan atau lingkungan hidup.
Periode residensi Laura Wills selama 3 [tiga] bulan di Yogyakarta dimulai dari awal September hingga akhir November 2009.
Continue Reading →
Pengamen versus teroris: Wayang Modern di Grand Indonesia
pertunjukan wayang kontemporer, hip dan asyik
Jangan lewatkan pertunjukan wayang kontemporer hasil kolaborasi seniman rupa Eko Nugroho, dalang ki Catur Kuncoro dan Ki Toro, seniman musik Yennu Ariendra, dan seniman cahaya Clink Sugiarto.
Pertunjukan kolaborasi ini telah dipentaskan di Teater Salihara Jakarta, Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta, dan disertakan juga di proyek Veduta oleh Eko Nugroho sebagai bagian dari Lyon Biennale, Perancis.
Anda akan dihibur dengan perpaduan yang menarik antara tradisi wayang lokal dengan unsur artistik modern yang memungkinkan Anda mendapatkan keterkaitan antara bentuk seni macam ini dengan kehidupan Anda di masa
Continue Reading →
Pameran dan Presentasi Final Seniman Residensi
LANDING SOON #11
Wiyoga Muhardanto & Rosalie Monod de Froideville
Rosalie Monod de Froideville
Persinggungan Rosalie dengan seni berakar dari kegelisahan pribadinya tentang gagasan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh dan secara konstan mengalami perubahan. Setiap pertemuan—dengan orang lain, dengan waktu, benda, media, dsb—dimaknai Rosalie sebagai daya yang berpotensi membentuk manusia, secara fisik maupun psikologis. Karya-karyanya berkisar seputar gagasan tentang facade dan ‘diri’ di balik tabir itu: bagaimana manusia, atas kesadaran tentang kerapuhannya, menciptakan tameng-tameng, pencitraan yang semu, dan mengaplikasikan kontrol yang kuat, yang didorong dari dalam atau dari luar dirinya. Karya-karya Rosalie bergerak dari wacana kontrol diri kepada upaya-upaya membebaskan diri dari cengkaman yang menyesakkan itu, dan apa yang akan terjadi bila manusia bebas dari kontrol.
Tinggal di Yogyakarta, bagi Rosalie, adalah pengalaman kebudayaan yang nyata berbeda dengan yang dimilikinya sebelumnya. Pengalaman ini membuatnya menguji kembali dirinya sendiri dan caranya membuat karya. Juga membuatnya mempertimbangkan ulang dan mengembangkan
Continue Reading →