Codex Code

CODEX CODE
Bagi seorang individu, membuat sebuah buku di pahami secara umum sebagai kerja produksi yang istimewa dan eksklusif sehingga membutuhkan waktu yang panjang, kekuatan ekonomi dan dipengaruhi oleh strata sosial yang berbelit-belit. Manuskrip yang paling akrab dikenal dan ditulis oleh manusia sejak usia belia adalah buku diary. Karena sifatnya yang sangat pribadi dan sensitif, buku diary bisa dibilang jarang dipublikasikan. Namun, buku diary memiliki nilai historis yang tinggi di saat si empunya telah meninggalkan dunia fana.

Continue Reading →

ART ON POSKART

Kurator: Ika Vantiani

Setelah berpameran selama dua minggu sejak 9 Juli 2010, kami kembali mengundang teman-teman untuk datang ke :

Acara penutupan “Poskart Projekt – Art On Poskart”

Seniman yang terlibat dalam pameran ini, akan menjual karya postcard-nya dengan harga Rp.10.000; – Rp.500.000;

Juga, akan ada teman-teman dari komunitas jadul yang akan menjual barang-barang pos antik mereka.

Continue Reading →

A Poskart Projekt Art on Poskart

Pameran Seni Rupa

A Poskart Projekt
Art on Poskart

Kurator: Ika Vantiani

“Kartu pos: kertas selembar yang bikin berdebar-debar, dan enak buat digambar-gambar”
(Ika Vantiani)

RURU Gallery mengundang Ika Vantiani* untuk menjadi kurator sekaligus sebagai insiator dari sebuah project seni rupa tentang gagasan karya seni visual pada medium postcard (kartu pos).

Continue Reading →

Ruru Jazz Fest 2010

Date: Sunday, 16 May, 2010
Time: 11.00 AM – 10.00 PM
Venue: ruangrupa
Address: Jl. Tebet Timur Dalam Raya no.6 Jakarta Selatan 12820

Special performances by :

Kapitalindo
L.A. Dos Trios
Namaste
Ternate & Theodore

Continue Reading →

Toko Keperluan

Curated by : Ade Darmawan

Toko adalah dunia kecil, saya selalu mengingat bentuk dan apa isinya disaat kecil, menelusuri lorong dan memperhatikan benda-benda yang dijual disana, dan saya terkenang hingga kini.
Toko adalah pelarian saat saya bosan dengan bentuk sehari-hari. Lalu menyihir kita untuk memindahkan isinya kedalam “ruang” kita.
(Anggun Priambodo)

Continue Reading →

Drawma

Pameran Seni Gambar
Marishka Soekarna – Pink Girl Go Wild – Monica Hapsari
Kurator: Indra Ameng

Pada pameran yang kedua di 2010 ini, RURU Gallery mengundang 3 seniman perempuan yang selama ini telah menekuni seni gambar dan mengembangkan karya drawing-nya. Masing-masing memiliki gaya dan kecenderungan sendiri untuk mengeksplorasi seni gambar ke berbagai medium.

Continue Reading →

Numpang Nampang

POPO adalah seorang street artist Jakarta. Awal mula eksistensinya dimulai dari tembok-tembok bisu jalanan. “Silence Speak“, kata POPO mencoba menjelaskan gagasannya yang selama ini berbicara melalui karya-karyanya sebagai diary atas hal-hal pribadi yang tidak bisa diungkapkannya secara verbal.

POPO menggunakan tembok-tembok di pinggir jalanan Jakarta sebagai “Diary Komunikasi Visual Seni Jalanan”. Diary biasanya mencatat cerita atau kejadian pribadi yang dialami sehari-hari.

Continue Reading →

Komik Magnetik

Komik MagnetikPameran 10 seniman komik
KOMIK MAGNETIK

Kurator: Ifan Ismail & Yudha Sandy
Seniman: Erwan Hersi Susanto a.k.a Iwank, Fida Irawanto, Sulung Widya, Prihatmoko Catur a.k.a Moki, Ign. Ade, Rhonald Marcellius, Azisa Noor, Aji Prasetyo, Sheila Rooswita, Eko S. Bimantara.

Dimeriahkan oleh: Airport Radio

Sebagai lanjutan dari workshop kurator yang diadakan oleh ruangrupa satu tahun yang lalu, ruangrupa mengundang 2 kurator muda yang mengikuti workshop kurator tahun lalu: Ifan Ismail (Jkt) dan Yudha Sandy (Yk) untuk bekerja-sama sebagai kurator dalam pameran ini. Sama-sama aktif di dunia komik dan juga getol mengomik, keduanya mengundang 10 seniman komik generasi baru yang memiliki karya-karya yang segar baik dari segi cara bertutur, ide cerita maupun tehnik visualisasi yang berkarakter.

Continue Reading →

Special Video Screening RETROSPECT

RETROSPECTSpecial Video Screening
RETROSPECT
Henry Foundation’s video works 2000 – 2009

Sebagai rangkaian program pameran tunggal Henry Foundation “copy-paste extraordinaire” di RURU Gallery, ruangrupa mengadakan program video screening “Henry Foundation’s video works 2000 – 2009”.
Program video screening ini akan memutarkan kompilasi karya video dari Henry Foundation sejak 2000 sampai 2009. Henry Foundation adalah salah satu perupa yang intens berkarya dengan medium video. Karya videonya menjelajah dari mulai video musik, video art, video performance dan juga video instalasi

Continue Reading →

“copy-paste extraordinaire”, Pameran tunggal Henry Foundation

http://violentreaction.deviantart.com/art/headphones-door-50278930Curated by Agung Hujatnikajennong

“8 tahun lebih saya bermain di berbagai macam media. copy-paste extraordinaire mengembalikan saya ke media yang benar atau mungkin tidak benar”
(Henry Foundation)

Bagi Henry Foundation, istilah ‘salin-tempel’ (copy-paste) tidak saja mencerminkan prinsip dasar dari seluruh proses kreasinya. Lebih dari itu, ‘salin-tempel’ telah menjadi ideologi yang menyemangati jaman di mana kita hidup. Hari -hari ini, ketika segala macam informasi selalu tersedia di depan mata dan bisa diakses dengan sangat mudah, pemahaman kita tentang dunia pun sesungguhnya telah berubah. Kini seorang seniman tak lagi mungkin mencipta dari titik nol, karena tak mungkin menolak informasi yang mengepungnya. Proses aktualisasi diri

Continue Reading →

Diskusi Pameran Tunggal Mahardhika Yudha ”FOOTAGE JIVE”

“Footage dokumentasi yang dimiliki oleh siapapun, memiliki kecenderungan untuk diolah kembali atau didaur ulang sampai kapan pun. Sekaligus sebagai upaya personal untuk merekam sejarah.” (Mahardhika Yudha)

Sebagai rangkaian program pameran tunggal Mahardhika Yudha “Footage Jive” di RURU Gallery, ruangrupa mengadakan diskusi dengan tema “Membaca Arsip”.

Program diskusi ini akan membicarakan seputar pengelolaan arsip visual dan khususnya audio visual, menyangkut juga masalah sejauh mana telah dilakukan”pembacaan” terhadap arsip-arsip visual yang telah ada, serta

Continue Reading →

“FOOTAGE JIVE”,Pameran Tunggal Mahardika Yudha

"FOOTAGE JIVE"“Footage merupakan bahan dasar untuk membuat karya audiovisual. Dalam pameran ini, saya membatasi footage kepada sifatnya, yaitu dokumentasi yang lebih bersifat alamiah. Sejak saya membeli kamera di tahun 2005, saya memiliki kebiasaan merekam apa pun di jalan, di rumah, di mana pun saya berada. Baik footage yang berupa dokumentasi (alamiah) ataupun pengadeganan (diciptakan) bisa dipakai sampai kapan pun. Footage dokumentasi yang dimiliki oleh siapapun, memiliki kecenderungan untuk diolah kembali atau didaur ulang sampai kapan pun. Sekaligus sebagai upaya personal untuk merekam sejarah”. (Mahardhika Yudha).

Mahardhika Yudha lahir 1981 di Jakarta. Berkenalan dengan video sejak usia 5 tahun ketika bersama kawan-kawan taman kanak-kanaknya menonton video Asterix (format vhs) yang disewa dari rental video.Di tahun 2003, ia

Continue Reading →