<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ArtTitudes &#187; tommy f awuy</title>
	<atom:link href="http://www.arttitudes.org/tag/tommy-f-awuy/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arttitudes.org</link>
	<description>Indonesia Contemporary Art</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Aug 2011 16:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Cosmopolite</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/cosmopolite.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/cosmopolite.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 01:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[philo art space]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tommy f awuy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1627</guid>
		<description><![CDATA[PARADOKS KOSMOPOLIT Tommy Awuy (Kurator)
Kosmopolit (cosmopolite) sebagai sebuah konsep sesungguhnya sudah memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Sebelum para pemikir (filsuf) Yunani Kuno menciptakan konsep kosmos, realitas kehidupan masih dianggap keos (chaos). Konsep kosmos dan chaos dipandang sebagai dua watak yang bertentangan. Chaos terjadi karena unsur-unsur realitas aktif di dalam dan bagi dirinya sendiri dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/04/Cosmopolite.jpg" rel="lightbox[1627]" title="Cosmopolite"><img class="alignleft size-full wp-image-1628" title="Cosmopolite" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/04/Cosmopolite.jpg" alt="" width="200" height="151" /></a>PARADOKS KOSMOPOLIT<br /> Tommy Awuy (Kurator)</p>
<p>Kosmopolit (cosmopolite) sebagai sebuah konsep sesungguhnya sudah memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Sebelum para pemikir (filsuf) Yunani Kuno menciptakan <span id="more-1627"></span>konsep kosmos, realitas kehidupan masih dianggap keos (chaos). Konsep kosmos dan chaos dipandang sebagai dua watak yang bertentangan. Chaos terjadi karena unsur-unsur realitas aktif di dalam dan bagi dirinya sendiri dan karenanya kehidupan menjadi tak menentu dan tak bertujuan.</p>
<p>Alkisah, ketika orangYunani Kuno pada sekitar abad ke-6 SM mulai tertarik untuk mempertanyakan inti dari segala sesuatu atau realitas maka menyeruaklah konsep kosmopolit tersebut, bahwa inti realitas adalah materi, air, udara, api, terbatas, tak terbatas, cinta, benci, dan sebagainya. Plato kemudian menghantar persoalan filosofis tentang realitas ini pada keyakinan adanya sebuah “perekat” atas semua unsur kehidupan yang memungkinkan tak menuju pada ketiadaan atau kehancuran. Bagaimana membayangkan bahwa sesungguhnya keos nyaris tak eksis apabila tanpa ada suatu “perekat” atas unsur-unsur kehidupan. Kenyataannya, semakin ke depan semakin pasti bahwa realitas memiliki orde, tatanan, dan perekat dari setiap unsur alam kehidupan yakni logos (kata). Jadi, kosmos tak lain adalah rekatan antar setiap unsur oleh logos. Kosmos bagi orang Yunani adalah sebuah harmoni, prinsip ketertiban, logos itu sendiri. Maka Plato dengan sangat yakin mendirikan sekolah pertama di dunia yang dinamakannya Akademia, dengan dasar logos. Guru Plato, Socrates, sebelumnya sudah memproklamirkan dirinya sebagai warga dunia, warga kosmos.</p>
<p>Kosmos dalam pengertian sekarang diartikan sebagai rekatan antar benua yang lebih akrab dengan sebutan global! Keberadaan pengertian ini terlebih lagi ditentukan oleh keterbukaan diri oleh setiap negara menjadi ”pergaulan dunia” terutama sejak didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sudah tentu hal ini tak terlepas dari kekuatiran bersama atas ancaman-ancaman yang sangat signifikan atas harmoni kosmos dengan terjadinya Perang Dunia I dan II setelah dibelah oleh ”penjajahan semantik” menjadi Dunia Barat (Occidental) dan Dunia Timur (Oriental). Tertib kosmos didasari pada konstruksi perdamaian dengan simbol masing-masing negara yaitu bendera yang kemudian menjadi tidak lagi begitu signifikan dengan munculnya teknologi informasi.</p>
<p>Kosmos, global, wolrd, universe, manca negara, merupakan sederetan istilah atau konsep yang paralel dan sebenarnya memiliki problematika yang cukup kompleks secara politis, kultural, terlebih bisnis. Pergaulan dunia pun tidak secara langsung menjamin harmonisasi secara utuh karena kita bisa memilah-milah sudut pandang dan membuat pengertian sendiri tentang apakah yang kita maksudkan dengan kosmos, cosmopolite?</p>
<p>Pameran kali ini dengan thema Cosmopolite di Philo Art Space oleh Kelompok EAST , tidak lain mengacu pada masalah kompleksitas di atas. Memilih thema ini memiliki alasan tertentu, pertama atas pertimbangan keberadaan dari kelompok EAST itu sendiri dengan personnya masing-masing: Eko (Anugrah Eko Triwayono) Ade Koesnowibowo (Ade Ebo), Sapto Aji, dan Totok Basuki. Pertemanan mereka dibina sejak tahun 1980-an ketika kuliah di ASRI-Yogya (sekarang ISI) dan sekalipun Totok Basuki tinggal di Australia tetap saja pertemanan mereka langgeng. Sudah tentu, hal ini karena teknologi informasi telah menjadikan luasnya kosmos seperti ”kampung gede” (global village) dan memungkinkan terjadinya kontak setiap saat. Lebih pasti lagi, semangat berkesenian merupakan dasar perekat bagi pertemanan mereka.</p>
<p>Alasan lainnya adalah perenungan mereka atas makna hidup tak pelak terpengaruh oleh isu-isu keseharian yang melintas di hampir semua benak manusia seperti; kekuasaan, kekerasan, harapan, arogansi, optimisme, ketakberdayaan, dan sebagainya. Berbagai persoalan hidup seperti ini memang sama-sama mengemuka dan seolah mengiang dan terus melayang-layang bebas di ruang kesadaran maupun ketaksadaran manusia masa kini, bahwa di balik kecanggihan pencapaian teknologi yang dihasilkannya ternyata seringkali ia masih terpedaya oleh naluri-naluri yang menutupi akal sehat. Situasi ataupun kondisi paradoksal kehidupan antara awal anjakan dan lompatan jauh kedepan tetap saja terus memunculkan banyak persoalan kosmopolit yang sangat menarik untuk dijadikan alasan kreativitas.</p>
<p>Kelompok EAST tidaklah bermaksud mengangkat semua persoalan kosmopolit dengan tampilannya sebagaimana kita bisa saksikan sehari-hari di media massa. Mereka tidak menangkap atau merekam kesemarakan dan kesemrawutan peristiwa sebagaimana adanya lalu terkesan verbal namun lebih melihat pada kesan-kesan kemanusiaan yang dimunculkannya. Ujung-ujungnya kosmopolit bagi mereka sesungguhnya merupakan masalah antropologis, pergulatan manusia itu sendiri dalam memaknai keseharian hidupnya, bergulat dengan ruang, warna, dan tingkah laku yang bukan hanya dipahami dan dipraktekkan oleh orang per orang tapi oleh antar-individu. Berharap hidup dalam ruang dan warna dan perilaku yang menyejukkan hati dan semangat untuk memaksimalisasikan potensi diri tentu saja bersemayam di setiap benak manusia dan itulah sebenarnya yang ingin dicapai oleh konsep kosmopolit itu.</p>
<p>Eko misalnya sangat mengedepankan dimensi kemanusiaan yang terkait langsung dengan ruang hidup keseharian dalam karya-karyanya. Ia merefleksikan realitas yang nampak tidak nyaman untuk dihuni karena ketimpangan perilaku manusia itu sendiri termasuk dirinya sendiri sebagai subyek di dalamnya. Nampaknya ketimpangan, penderitaan, kesengsaraan tidak beranjak jauh dari sejarah manusia dan khususnya sejarah bangsa-bangsa. Problem kosmolopit masih menyisakan proyek keadilan (justice) yang harus diselesaikan sekalipun jelasnya sisi antropologis manusia itu sendiri yang seringkali menghalang, misalnya pada usaha pengambilan keputusan. Karya berjudul Sama-Sama Kepala Batu adalah contoh satirik dari masalah relasi antar manusia yang menyebabkan hidupnya gampang terkotak dan masing-masing mengambil posisi yang tak mengenakkan.</p>
<p>Merenungkan fenomena kosmopolit bagi Eko harus dimulai dari kaki kita sendiri untuk mencoba berdiri tegak. Kelima karyanya merupakan sebuah narasi anak negeri yang pada dasarnya melangkah masih terseok-seok di antara kemegahan dan kemewahan yang membekukan. Kegemasan untuk eksis acapkali berakhir dengan ketidakberdayaan secara total sehingga diri tak lagi mampu bergerak, bahkan lebih jauh lagi matapun tak sanggup memandang dunia kehidupan sekitarnya sebagaimana pada karyanya No Action. Eko sengaja mencampuraduk sikap optimistik dan pesimistik untuk kemungkinan kita bisa belajar mengambil sikap terhadapnya dan jangan lupa, bagaimanapun tetap masih saja ada sesuatu yang kuat tetap tinggal, yakni rasa cinta betapapun negeri ini coreng-moreng adanya, My Lovely Country.</p>
<p>Ade Ebo di sisi lain tapi dengan asumsi yang hampir sama menampilkan geliat pencarian diri manusia. Teknik dan ekspresi estetiknya tak beranjak jauh dari pilihannya semula, dunia perwayangan namun terus berusaha menisik relevansinya dengan kondisi kekinian. Kita lihat saja dan selayaknya bertanya bagaimana relasi antara tampilan tokoh-tokoh perwayangan, laptop, fesyen kontemporer, minyak, rakyat kecil, red wine,dan sebagainya? Sekilas unsur-unsur tersebut hanya dimunculkan begitu saja dan nyaris tanpa makna. Namun tak terhindarkan justru gejala deformatif seperti itu merupakan gambaran yang tidak bisa dipaksakan untuk menerima suatu referensi lalu dari sana memampukan kita mendefinisikan realitas.</p>
<p>Ade dengan penuh rasa optimisme menganggap bahwa apa yang kita pahami sebagai kondisi kosmopolit adalah sebuah kelit-kelindan berbagai unsur yang dari sana justru bisa membebaskan imajinasi kita untuk memaknai hidup. Kenyataan demikian mencolok mata bahwa pemisahan secara dikotomistik antara realitas yang masuk akal dan tidak masuk akal justru dengan sendirinya mempertanyakan akal itu sendiri. Lagi-lagi paradoks tidak bisa dihindari betapapun di satu sisi keinginan kuat membangun rasionalitas itu ada. Watak manusia modern terutama urban senantiasa menuju pada hasrat pemenuhan kebutuhan hidup tak peduli masih terasa kuat kendala-kendala ekonomi dan pengetahuan yang harus diatasi. Media massa seakan tak pernah istirahat sedetikpun membombardir kegemerlapan hidup lewat iklan-iklan yang terasa wajib untuk memilikinya meski bukan sebagai kebutuhan dasar dan sebenarnya tak cukup punya modal untuk itu. Dan media massa pun di balik itu menawarkan janji-janji dengan berbagai referensi termasuk menghidupkan kembali primbon sebagai petunjuk mencapai kesuksesan. Ade sangat jelas menyampaikannya lewat karya berjudul Ketig Reg&#8230;.Karakter kosmopolit atau globalisme di sini adalah primbonisme.</p>
<p>Sedangkan Sapto Aji memandang kosmopolit adalah sebuah paradoks antara kekerasan dan kelembutan sebagaimana dengan mencolok ditampilkannya dalam karya Raflesia dan Doa dari Biara. Konsep kosmopolit di sini mencuat sebagai bentukan yang bernapaskan kekuasaan sebagaimana pada karya Kosmos Milikku, The Best Actor dan Drakula Tanah Leluhur, dan kenyataannya hal itu tak bisa lepas dari simbol maskulinitas dan feminitas; bunga, doa, dan peluru.</p>
<p>Kekuasaan pada intinya selalu menampilkan dua wajah arogansi dan rayuan. Sapto mengambil contoh yang demikian dekat untuk sekarang ini sebagaimana terlihat pada karya Kosmos Milikku. Wajah dalam karya ini memiliki referensi kuat sebagai wajah Presiden Amerika, yang bagi Sapto dilihat dari sudut kekuasaan maka selayaknyalah seorang presiden dari negara adikuasa untuk bersikap arogan jika ingin disegani oleh kawan maupun musuh-musuhnya. Hanya orang yang memiliki jiwa arogan yang mampu membuat janji-janji, lalu apakah itu akan ditepati atau tidak, urusannya belakangan saja dan ketika janji-janji itu disampaikan akan dengan sendirinya dibangun oleh senyuman semanis mungkin.</p>
<p>Sementara Totok Basuki menampilkan pemahamannya tentang kosmopolit lebih sebagai wilayah bentuk dan dengan demikian dia membacanya sebagai simbol khususnya pada karya-karyanya yang bergaya abstrak. Hal ini mengingatkan kita pada awalnya konsep kosmos itu muncul. Kosmos sebagai sebuah konsep memang adalah dunia abstrak menurut Plato, logos, dan hanya bisa kita pahami lewat penalaran (rasio).</p>
<p>Ruang-ruang dinamis dan warna-warna ceria bagi Totok menyimbolkan optimisme dan harapan. Namun pada karya figuratif berjudul Hero kita mungkin saja terkejut dan digoda untuk bertanya, optimisme dan harapan seperti apa kalau wajah sebenarnya dari simbol ternyata adalah sebuah tengkorak? Belum sempat kita bersoal-jawab secara tuntas, kita sudah disodorkan lagi dengan pertanyaan, apakah maksudnya dengan figur badak sebagai Penjaga Alam? Atau dilihat sebaliknya pun, dari Penjaga Alam ke Hero misalnya, tetap saja simbol-simbol ini menyimpan misteri atau lebih tepatnya paradoks. Lagi-lagi kosmopolit tak lain adalah sebuah realitas paradoksal, dan akan di sana kita bermain-main, di satu sisi ruang kita seperti tercengkram oleh struktur yang tak kenal kompromi tapi di satu sisi dalam ruang yang sama itu kita pun bisa dengan seliar mungkin berimajinasi.</p>
<p>Start Time: Wednesday, April 14, 2010 at 8:00pm<br /> End Time: Wednesday, April 28, 2010 at 6:00pm<br /> Venue: PHILO ART SPACE<br /> Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12540 INDONESIA</p>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/cosmopolite.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Packaging</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/packaging.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/packaging.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 01:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[philo art space]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tommy f awuy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1560</guid>
		<description><![CDATA[[ March 22, 2010; 8:00 pm; ] DEMI GENGSI-KONSUMTIF Curated by Tommy Awuy Suatu kecenderungan yang demikian kuat pada budaya urban adalah ”bungkusan” (packaging). Hal ini dimulai dari hasrat untuk memberikan sebuah penampilan yang menarik secara estetik dan mengejutkan selain untuk memproteksi. Namun langkah demi langkah makna bungkusan yang dianggap sebagai atribut ini sekarang berubah menjadi substansial. Bungkusan bukan lagi merupakan suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1562" href="http://arttitudes.org/exhibition/packaging.html/attachment/packaging-2"><img class="alignleft size-full wp-image-1562" title="Packaging" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/03/Packaging1.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>DEMI GENGSI-KONSUMTIF<br /> Curated by Tommy Awuy</p>
<p>Suatu kecenderungan yang demikian kuat pada budaya urban adalah ”bungkusan” (packaging). Hal ini dimulai dari hasrat untuk memberikan sebuah penampilan yang menarik secara estetik dan mengejutkan selain untuk memproteksi. Namun langkah demi langkah makna bungkusan yang dianggap sebagai atribut ini sekarang berubah menjadi substansial. Bungkusan bukan lagi merupakan suatu wujud tindakan lanjut melainkan langkah awal bagi perwujudan sesuatu, <span id="more-1560"></span>seperti pergerakan memutar balik dari efek menjadi sebab. Imajinasi kita dibangun bukan lagi berawal dari pertanyaan bagaimana menciptakan sesuatu tapi bagaimana sesuatu itu terlihat. Jadi, proses penciptaan bukan berawal dari “apa yang kita lihat” melainkan “apa yang terlebih dulu dilihat orang lain”.<br /> Makna “bungkusan” pada dasarnya menambah rangsangan pengenalan kita akan ketidakpastian realitas, mana sebab dan mana akibat.</p>
<p>Pengertian ”bungkusan” tidak lagi sekedar menunjuk pada benda yang kita lihat secara kasat mata, seperti kertas bungkusan sebuah hadiah. Kiriman karangan bunga, parsel, promosi, tingkah laku, tutur kata, cara berpikir, fesyen, lukisan, film dan lain-lain, semua itu adalah bungkusan. Bungkusan ada di mana-mana dan tujuannya jelas adalah untuk memikat. Bungkusan pada dasarnya adalah sebuah muslihat yang ingin memperdaya satu atau semua potensi indrawi kita. Mendengar seseorang berbicara artinya kita bersiap diri untuk terpedaya oleh ucapannya. Bungkusan sesungguhnya adalah suatu kerja mimetik, mempengaruhi (meme) dan kembali pada paragraf awal, bungkusan adalah performasi estetik; mempertunjukkan sesuatu tidak lain adalah tindakan mempengaruhi.</p>
<p>Maka, “bungkusan” bisa dilihat dari dua pengertian; secara sempit dan luas. Membeli produk tertentu, kita merasa diberi nilai tambah apabila mendapatkan bungkusan yang bagus dan indah sehingga muncul perasaan agar tidak membuangnya bahkan dipajang atau dibawa ke mana-mana untuk kesan gengsi. Kita bisa dengan leluasa menyaksikan para konsumer di mall-mall berjalan lenggang-lenggok membawa atau menenteng bungkusan misalnya dari produk Louis Vuitton, Hermes, Versace, Armani, dan lain-lain, Arti sempit ini menunjuk langsung pada arti yang luas bahwa kata bungkusan itu sebenarnya tidak referensial atau mewakili bendanya, yakni gengsi yang dibangun oleh wacana-wacana atau teks-teks, khususnya iklan, yang sudah merasuki benak para konsumer itu. Wacana membentuk model berpikir dan perilaku seseorang. Wacana bukan sekedar alat yang bisa dilepas begitu saja apabila kita tidak lagi membutuhkannya. Diri manusia itu sendiri hanya mungkin dikenali sebagai salah satu yang berada secara kongkrit sejauh ketika dia berbicara, language turn.</p>
<p>Produk dan gengsi di atas hanyalah salah satu contoh dari kesadaran bagaimana realitas hidup pada dasarnya adalah sebuah bungkusan dalam pengertian luas. Tidak ada dalam kehidupan ini yang eksis tanpa bungkusan (bahasa) dan bahasa pada dirinya adalah sebuah paradoks, tak terdefinisikan terkecuali hanya mengenalnya lewat suatu pilihan, referensial atau konvensi, denotasi atau konotasi, sintagmatik atau paradikmatik, dan seterusnya. Dengan ini realitas tampil serba kemungkinan tanpa otonomi total dan universal.</p>
<p>Pameran Bersama di Philo Art Space berthema Packaging yang berlangsung tanggal 22 Maret – 5 April ini pengertian ‘bungkusan’ di atas baik secara luas maupun sempit, mengemuka.</p>
<p>Afdhal membidik realitas kehidupan berupa serba kemungkinan yang bisa kita baca dari 3 karyanya Memulai Kemungkinan, Di Antara Kemungkinan dan Mengakhiri Kemungkinan. Karya yang pertama dan ketiga menggambarkan sosok yang berada di dalam ruang yang dikelilingi tembok tinggi seperti penjara. Apabila kita membaca dua karya ini sebagai satu rangkaian, maka suasana yang bernuansa dramatis ini dapat dibaca sebagai perjalanan anak manusia yang terikat dalam ruang-waktu problematik. Ruang dan waktu ‘membungkus’ manusia sehingga menampakkan positivitas diri-kebertubuhannya. Di sini soal ruang dan waktu sesungguhnya hanya kata lain dari bahasa. Perjalanan diri-kebertubuhan manusia terbentuk dan diarahkan oleh bahasa. Lalu masih adakah kita bicara soal peluang bagi manusia untuk melepaskan diri dari bentukan dan arahan bahasa? Afdhal menunjukkan jalan kemungkinan ini dan sekaligus ironi, yakni pintu. Pintu menjadi tanda bagi ke luar-masuknya diri-kebertubuhan, seperti yang terlihat pada karya Di antara Kemungkinan, figur ada di luar ruangan, melepaskan diri dari ruang-waktu dramatis tadi, namun jangan lupa, ada unsur lain lagi yang kemudian masih membelunggunya yakni tali. Tembok-pintu-tali pada hematnya adalah metafor dari bahasa. Manusia mencipta bahasa tapi kemudian terperangkap oleh bahasa. Hanya bahasa unsur yang terkuat sebagai bukti bahwa manusia adalah mahluk yang tidak pernah bebas secara otonom karena ketika dia berbahasa saat itu juga dia terikat oleh komunikasi dengan orang lain.</p>
<p>Harlen dengan karya Alienated Youth of Mind dan Lapen tak jauh-jauh berangkat dari persoalan diri-kebertubuhan yang galau mencari pembebasan. Diri teralienasi oleh apa? Banyak unsur yang bisa kita lihat dalam kedua karya ini di mana setiap unsur saling berhubungan membentuk sebuah sistem, lingkungan kehidupan. Sesosok manusia yang nampak kecil teralienasi oleh gantungan tali seperti hanya bisa bergerak apabila digerakkan oleh lingkungan kehidupannya secara luas yang jelas-jelas bukan dirinya (the other dan itulah yang disebut kesadaran-mind). Menurut para pemikir strukturalis, kenyataan ini tidak lain merupakan kerja bahasa karena lingkungan kehidupan adalah bahasa. Jadi manusia teralineasi oleh bahasa dan bagaimanapun dia ingin mencari kemungkinan-kemungkinan untuk terbebaskan. Harlen menunjuk kemungkinan itu pada karya Lapen, suatu aktivitas pembebasan imajinatif bahwa ’Lapen’ adalah sejenis minuman berkadar alkohol, murah, merakyat tentunya, bisa di temukan di sekitar daerah Malioboro, Yogya, dan berdaya kerja cukup efektif.</p>
<p>Karya-karya Adelano mengambil suasana awal-awal kehidupan yang diwakili oleh figur bayi, telur, produk susu, dan kembang. Unsur-unsur ini nampak kuat mewakili pemahaman kita tentang bungkusan bahasa dalam memulai kehidupannya seorang bayi sudah terbungkus oleh lingkungan kehidupannya, lewat pembahasaan orang-orang yang terdekat dengannya. Tak heran dalam kasus-kasus tertentu, bayi diprogram terlebih dulu orang keinginan orang tua seperti pemberian nama. Nama adalah bungkusan awal dan akhir (alfa-omega) pada diri seseorang yang kadang membuat seseorang hidup melawan kontradiksi antara makna sebuah nama dengan pemikiran dan tingkahlakunya. Di samping itu bagaimana produk tertentu mensyaratkan bahwa jika bayi ingin bertumbuh sehat dan kuat maka minumlah susu ini atau susu itu. Bayi dibentuk oleh sistem kompetisi satu produk dengan produk lainnya dan sampai dewasa pun dia tak lepas dari sistem kompetisi itu pada tingkat mengkonsumsi produk bergengsi.</p>
<p>Sementara Heryanto Maidil bergiat langsung dengan sistem tanda (semeon). Karyanya berobyek figur perempuan yang diri-kebertubuhannya dibalut oleh sejenis tali (sarang laba-laba). Figur perempuan sengaja dikedepankan karena masih cenderung dianggap sebagai sosok tak berdaya dalam sistem patriarki. Lingkungan seringkali dengan begitu gampangnya mengartikan atau tepatnya mendifinisikan bahkan perempuan adalah makhluk begitu dan begini tanpa menyadari bahwa lingkungan tersebut pun sebenarnya nyaris tak berbeda. Relasi sosok perempuan dan sistem sama-sama merupakan bentukan bahasa yang diperdaya oleh kuasa. Lia Mareza misalnya dengan karya berjudul Displacement memberikan tekanan dengan bermain-main dalam sistem tanda, bahwa karena relasi seksualitas laki-laki dan perempuan sama-sama merupakan bentukan bahasa maka sangat mungkin, betapa pun rumit dan perkasanya laki-laki bak tembok benteng China, perempuan bisa mengendalikan dan membuatnya bertekuk lutut.</p>
<p>Tak kalah menantangnya, Evi Muheriyawan mengeksplorasi sosok perempuan dalam lingkungan kehidupan urban yang tak terlepas dari perkembangan dunia mode sebagaimana hal ini hadir di semua kota-kota dunia-kosmopolit. Fesyen menandakan glamoritas pergaulan kontemporer yang kelihatannya bergerak demikian dinamis dan bebas. Namun demikian, kehidupan seperti ini pun sebenarnya tak luput dari ironi bahwa figur-figur tersebut dibungkus oleh teks-teks yang mencipta angka-angka, artinya diri-kebertubuhannya dibungkus oleh berapa ukuran berat dan tinggi badannya bahkan sampai pada organ-organ paling vital sekalipun. Fesyen menunjukkan identitas, paling tidak, ukuran gengsi tertentu, sekaligus menegaskan sebuah lingkungan kehidupan yang serba tak pasti dan cepat berlalu, sangatlah khas bagi sebuah gengsi konsumtif.</p>
<p>Made Bakti mempertegas bagaimana hubungan fesyen, gengsi dan konsumeristik ini menjadi ”budaya bungkusan”. Dua karyanya berjudul High Pristige dan Shopping Maniac, jelas di satu pihak memperlihatkan suasana dinamik yang dikelilingi oleh produk-produk dan bungkusan masa kini yang diburu oleh kaum urban dengan agresif. Membeli produk sama halnya membeli jati diri dan syarat utamanya adalah ”gaul” dan terlebih dulu menarik perhatian media massa demi publisitas, tentu saja. Mereka mungkin tidak peduli, sadar atau tidak, bahwa dunia yang mereka perani adalah serba bungkusan, yang penting bagaimana hal itu menjadi identitas bergengsi betapapun hal itu hanya memberikan mereka sekali saja bisa tidur dengan mimpi yang enak dan indah.</p>
<p>Start Time: Monday, March 22, 2010 at 8:00pm<br /> End Time: Monday, April 5, 2010 at 6:00pm<br /> Venue: PHILO ART SPACE<br /> Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12510 INDONESIA</p>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/packaging.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baby Talks</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/baby-talks.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/baby-talks.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 04:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[deni junaedi]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[philo art space]]></category>
		<category><![CDATA[pratomo sugeng]]></category>
		<category><![CDATA[purwanto]]></category>
		<category><![CDATA[rosid]]></category>
		<category><![CDATA[suprobo]]></category>
		<category><![CDATA[tommy f awuy]]></category>
		<category><![CDATA[wayan kun adnyana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1432</guid>
		<description><![CDATA[[ February 22, 2010; 8:00 pm; ] BAYI DALAM KONSTRUKSI KEGAIRAHAN Tommy F Awuy Bilamana seseorang disebut bayi sebenarnya masih belum memiliki definisi umum dan setepat-tepatnya. Namun orang pada umumnya menyangka, bahwa sebutan bayi itu dikenakan pada seorang anak yang baru lahir hingga sekitar 5 tahun. Masa di mana seorang anak dirawat dengan ekstra hati-hati bagi segenap keberadaan dirinya. Dan dari perawatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1431" href="http://arttitudes.org/exhibition/baby-talks.html/attachment/baby-talks"><img class="size-full wp-image-1431 alignleft" title="Baby Talks" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/02/Baby-Talks.jpg" alt="" width="200" height="150" /></a>BAYI DALAM KONSTRUKSI KEGAIRAHAN<br /> Tommy F Awuy</p>
<p>Bilamana seseorang disebut bayi sebenarnya masih belum memiliki definisi umum dan setepat-tepatnya. Namun orang pada umumnya menyangka, bahwa sebutan bayi itu dikenakan pada seorang anak yang baru lahir hingga sekitar 5 tahun. Masa di mana seorang anak dirawat dengan ekstra hati-hati bagi segenap keberadaan dirinya. Dan dari perawatan pada sekitar usia tersebut bisa menandakan akan seperti apa jadinya sang anak kelak<span id="more-1432"></span>, baik dilihat secara psikologis dan dari cara tanggapnya secara motorik ataupun lewat pembentukan syaraf-syaraf otak.</p>
<p>Tentu saja ada berbagai macam cara manusia dalam hal merawat bayi dengan kekhasannya masing-masing. Namun bukanlah maksud di sini untuk mempersoalkannya. Pada kesempatan kali ini, Pameran Lukisan dengan tema Baby Talks di Philo Art Space membidik fenomena perawatan bayi masa kini, khususnya yang berlangsung dalam budaya urban atau di wilayah kota-kota besar.</p>
<p>Semarak munculnya khusus toko-toko bayi, berbagai macam minuman dan makanan bayi produk pabrik-pabrik kapitalisme global, mainan-mainan bayi yang serba unik dan semarak, sekolah-sekolah bayi, dan konsultan-konsultan perawatan bayi, bayi-bayi yang sudah menjadi rebutan produk-produk besar untuk dijadikan iklan, bermain film, bayi yang sudah dipersiapkan atau ditentukan harus berbahasa apa atau harus mampu berbicara beberapa macam bahasa asing di kemudian hari, terapi bayi dengan nada-nada musik yang menjaminnya menjadi pinter seperti Einsten, spa bayi, dan lain-lainnya. Kita bisa menyebut fenomena ini sebagai fenomena kontemporer merawat bayi.</p>
<p>Menjadi pertanyaan mendasar dan tentu saja penting di sini, ialah ”dunia kehidupan semacam apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang tua terhadap anak bayinya?” dan ”apakah dengan perawatan itu sudah merupakan jaminan terpercaya bagi sang bayi akan menjadi seperti apa yang diinginkan orang tua?” Peserta pameran: Deni Junaidi, Wayan Kun Adnyana, Pratomo Sugeng, Purwanto, Rosid, dan Suprobo, dengan ciri khas bahasa rupa mereka mencoba merekam dan mengkritisi fenomena di atas.</p>
<p>Deni Junaidi tampil secara satir dengan metafor dunia yang keras, bertinju (Anaknya saja Hebat). Katakanlah di sini, bayi yang tergolong balita mengkanvaskan seorang petinju berbadan besar dan kekar yang wajahnya mengingatkan kita pada wajah Mike Tyson. Sorotan wajah itu tak lagi sanggup menampilkan sebagaimana ekspresi seorang petinju yang biasanya terlihat ganas, hanya tersandar tak berdaya di tali ring, sementara sang balita masih menunjukkan gaya yang serius, dingin, waspada, dan siap siaga untuk menyerang lagi. Tak pelak dengan metafor ini sebenarnya kita sudah cukup paham bagaimana kerinduan akan heroisme dari orang tua (terlebih dalam masyarakat patriarkis) atas anaknya masih nampak cukup kuat, semacam pewarisan gen demi survive ala Darwinian. Menunjukkan bagaimana keperkasaan bayi laki-laki sebenarnya sekaligus hendak menyatakan diri siapa sebenarnya orang tuanya, teristimewa sang ayah. Dan pemikiran seperti ini tidak jauh berbeda dengan lukisan berjudul Sejak Kecil Aku Diasuh Buku itu. Seandainya seorang bayi laki-laki mengecap pendidikan seperti itu lalu tumbuh menjadi seorang play boy, bisa secara optimis pandangan masyarakat akan memaklumkannya. Tapi bagaimana dengan seorang perempuan? Konstruksi masyarakat terhadap seseorang sehubungan dengan perilaku seksualitas tentu saja menjadi faktor yang demikian penting.</p>
<p>Sementara Wayan Kun Adnyana melihat sisi penting pada kehidupan masa depan bayi dengan merepresentasikan benda yang kita kenal sebagai kursi (Kursi-Kursi untuk Esok). Kursi bisa kita baca sebagai simbol singgasana secara umum maupun khusus. Secara umum siapa pun atau setiap orang adalah makhluk politik di mana kekuasaan adalah inheren dengan eksistensi. Secara khusus kursi mewartakan penyempitan atas keluasan ruang publik lalu mengerucut pada tampuk dari mana tatanan hidup individu per individu diarahkan. Bagaimana kita mempersiapkan bayi-bayi menjadi penguasa yang mungkin kita sebagai orang tua teringat akan doktrin dari filsuf Jerman, Hegel, dan bagaimana cara Hitler mempersiapkan bayi-bayi Jerman untuk menjadi uber alles.</p>
<p>Di sisi yang berbeda, kita melihat dunia bayi yang direkonstruksi oleh media televisi yang benar-benar sebagai alat kekuasaan yang paling efektif dalam masa-masa kontemporer ini sebagaimana yang ditampilkan oleh Pratomo Sugeng. Bayi-bayi bertumbuh dengan injeksi mem (meme=virus pikiran) dari dunia yang semarak oleh benda-benda, fakta-peristiwa, dan imajinasi-fiktif, yang nyaris membuat kita percaya begitu saja bahwa dunia ini begitu kecil namun tak seorang manusia pun yang pernah sanggup mendefinisikannya. Televisi bagaimanapun suka atau tak suka adalah sebuah kekuasaan yang membangkitkan akan gairah paradoksnya kehidupan, tak ada batasan substansial akan realitas, hitam-putih, siang-malam, lelaki-perempuan, baik-jahat, sedih-bahagia, dan sebagainya. Maka bayi-bayi kita pun ikutlah larut dalam dunia paradoksal ini. Mereka bagaimanapun membutuhkan rangsangan audio-visual yang dalam hal ini tak terelakkan lagi televisi akan sanggup memberikannya sepuas mungkin.</p>
<p>Tak kalah menariknya, Suprobo memperlihatkan pada kita bagaimana bayi dikonstruksi oleh kegairahan cinta orang tua. Lipstrik-bibir memang melambangkan gairah dan cinta namun kemudian kita bisa menduga dengan pikiran sehari-hari, bahwa cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang mudah dipahami karena cinta pun tak luput dari persoalan paradoksal. Dengan cinta sang ibu melahirkan anak sekalipun menyatu dengan kesakitan dan bahkan bayangan akan maut yang sewaktu-waktu bisa mengancam secanggih apa pun teknologi persalinan sudah tersedia. Bayi-bayi sebenarnya sudah sejak awal dikonstruksi menjadi ”siapa” oleh orang tua dan bahkan mungkin oleh masyarakat dengan tak segan-segan beratasnamakan cinta, disayang, dimanja, dibelikan apa saja untuk kesenangan bayi, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Rosid.</p>
<p>Siapa pun orang tua yang terbilang punya perasaan normal-manusiawi sudah jelas memiliki kedalaman cinta yang tak terperikan atas bayinya. Sudah pula sewajarnya apabila ia menginginkan bayinya bertumbuh seperti apa yang diharapkannya. Dan tak mengherankan pula apabila kemudian seorang bayi tumbuh jauh sekali di luar harapan orang tua. Hal ini serba mungkin terjadi karena alasan yang sanhgat mendasar di atas bahwa ternyata cinta atau sayang tidak selalu semudah yang dibayangkan. Dengan cinta orang mengenal kedamaian dan loyalitas namun dengan cinta pula orang melakukan peperangan dan kebencian.</p>
<p>Benih paradoksal manusia kelihatannya sudah sejak bayi bertumbuh. Purwanto dengan jelas memperlihatkan hal itu pada kita dengan tubuh dan wajah bahkan kelamin bayi yang berganda. Ketunggalan diri manusia di sini dianggap mistifikatif atau sekedar impian manusia dewasa (orang tua). Dengan benda-benda lipstik Purwanto hendak menyampaikan sebagaimana sudah disinggung di atas, manusia adalah sebuah konstruksi masyarakat sejak awal bahkan dari wacana sebelum sperma dan ovum bertemu. Kepribadian ganda ataukah skizofrenik adalah kenyataan yang kesehari-harian dilakoni oleh kita namun lebih sering kita menolak dan tidak mempercayainya. Kita senantiasa menciptakan mitos akan diri kita yang serba tunggal, atau baik atau jahat.</p>
<p>Pameran dengan tema Baby Talks ini bermaksud mengajak kita melihat fenomena kontemporer bagaimana manusia urban dikonstruksi oleh logika late-capitalism. Sebuah pencapaian hidup manusia yang maunya menggiring daya hidup manusia itu sendiri pada kegairahan-kegairahan yang tak terbatas dan tentunya tanpa satu pijakan dan pegangan tapi ternyata punya satu persyaratan yang tersisa, yakni kegairahan itu sendiri.</p>
<p>Artists: Deni Junaedi, Pratomo Sugeng, Purwanto, Rosid, Suprobo, Wayan Kun Adnyana</p>
<p>Start Time: Monday, February 22, 2010 at 8:00pm<br /> End Time: Monday, March 8, 2010 at 6:00pm<br /> Venue: PHILO ART SPACE<br /> Address: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12510 INDONESIA</p>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/baby-talks.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SHOPASSION</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/shopassion.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/shopassion.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 14:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[philo art space]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[sujarwo]]></category>
		<category><![CDATA[tommy f awuy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[[ November 19, 2009; 8:00 pm; ] SHOPASSION
A Sujarwo solo painting exhibition

NARASI SEBUAH HASRAT

Pameran Lukisan Sujarwo yang bertema SHOPASSION ini boleh dikatakan adalah lanjutan dari pameran tunggalnya yang pertama bertema SHOPPING MALL &#38; FASHION, di galeri yang sama, setahun yang lalu. Kali ini Sujarwo lebih memfokuskan kegiatan berbelanja daripada suasana shopping mall itu sendiri. Mengeksplorasi obyek atau tema seperti ini tentu saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-1198" title="Shopassion" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2009/11/131.jpg" alt="Shopassion" width="200" height="130" />SHOPASSION</strong><br />
A Sujarwo solo painting exhibition</p>
<p>NARASI SEBUAH HASRAT</p>
<p>Pameran Lukisan Sujarwo yang bertema SHOPASSION ini boleh dikatakan adalah lanjutan dari pameran tunggalnya yang pertama bertema SHOPPING MALL &amp; FASHION, di galeri yang sama, setahun yang lalu. Kali ini Sujarwo lebih memfokuskan kegiatan berbelanja daripada suasana shopping mall itu sendiri. Mengeksplorasi obyek atau tema seperti ini tentu saja dilakukan dengan suatu kesadaran akan realitas kekinian di mana kegiatan berbelanja sudah merupakan bagian terpenting bagi life style kelas menengah urban. <span id="more-1197"></span>Produk bukan lagi dilihat sebagai benda untuk suatu kebutuhan sesuai dengan fungsi atau kegunaan benda yang bersangkutan namun sebagai citra atau besar kemungkinan hanyalah sekedar terpuaskannya hasrat untuk membeli dan memiliki.</p>
<p>Kegiatan atau perilaku berbelanja adalah suatu kondisi dari tergalinya bawah sadar ketika hasrat subjek pembeli pada suatu fase tertentu mengalami batasan-batasan signifikan secara alamiah. Berganti pada suatu fase kemudian ketika peluang serba memungkinkan untuk memiliki (membeli) maka enerji bawah sadar sebagai hasrat terkuat, akhirnya tersalur selayaknya sebuah upaya pelampiasan seksual (libido). Pasar dalam hal ini bisa kita pahami sebagai “institusi-hasrat” atau SHOPASSION sebuah frase dari kata “shopping” (berbelanja) dengan “passion” (hasrat). Sementara produsen terus saja dengan segala upayanya membangun strategi bagaimana meyakinkan pembeli bahwa produk yang dikonsumsi merupakan satu kesatuan antara kualitas dengan pencitraan (iklan).</p>
<p>Membaca karya-karya Sujarwo, kita dihantarkan pada bagaimana kondisi pasar disemaraki oleh sosok-sosok dengan segala gaya atau perilaku yang begitu siap siaga menyapu bersih produk-produk yang tersedia. Berbagai unsur berpadu menjadi sebuah fenomena perbelanjaan yang hampir tak bisa terbayangkan bagaimana seseorang bisa tanpa sadar membeli sampai jauh dari batas kesanggupannya dan memang berdasarkan hal seperti itulah yang menyebabkan munculnya budaya konsumerisme. Lihatlah karya berjudul Tak Ada Hasrat Tertahan yang menggambarkan sosok pembeli yang sedang kewalahan memasukkan produk-produk belanjaannya yang jelas jauh melebihi daripada kapasitas ruang kendaraan. Adegan ini seperti sebuah teater komedi satir yang sengaja mempertontonkan betapa tidak klopnya hubungan antara daya nalar dengan hasrat pemilikan namun apa pun ceritanya pada akhirnya yang terpenting di sini ialah produk-produk yang diinginkan tersebut bagaimanapun sudah dimiliki.</p>
<p>Salah satu unsur penting dalam shopassion adalah waktu. Sujarwo menunjuknya secara sangat gamblang dalam karya berjudul Berburu Waktu, Hari Belanja, Belanja Bulanan, All Day Shopping dan mungkin yang paling menggelitik adalah Never Ending Shopping. Konsep waktu dalam kaitannya dengan belanja sudah tentu waktu yang objektif, mekanistis, dan linear, waktu yang serba terukur, mulai dari detik, menit, jam, hari dan seterusnya. Waktu yang obyektif ini demikian mendeterminir ruang subjektif seseorang dan hampir pasti mengkonstruksi kondisi psikisnya untuk terus menunggu dengan sangat serius saat-saat mana produk-produk baru (new arrival) tiba. Tepatnya, waktu adalah belanja dan tiada waktu tanpa belanja. Apa pun yang dilakukan seseorang dalam hal ini tak terlepas dari motif berbelanja. Pemahaman tentang diri sendiri diperoleh lewat waktu yang merangkai sedemikian banyaknya pengalaman berbelanja: “aku berbelanja maka aku ada”. Lihatlah betapa bergairahnya beberapa sosok pada karya Hari Berbelanja. Dengan hadirnya mobil mewah yang jelas merupakan sebuah penanda dalam karya tersebut sudah bisa kita tebak produk macam apa dan seberapa banyak produk yang akan mereka miliki. Mereka mungkin termasuk sosok-sosok yang berhasil menangkap waktu setelah sekian lama memburunya dan sekarang gilirannya untuk memiliki.</p>
<p>Unsur lain yang tak kalah pentingnya ialah struk belanjaan sebagaimana terlihat dalam karya Belanja Bulanan dan Branding Forever. Lembar panjang struk belanjaan yang nyaris melilit sepanjang tubuh nampak terkesan hyper namun tidaklah demikian jika kita memahami logika konsumerisme itu. Struk belanjaan seharusnya menjadi sebuah penanda bagi hadirnya ambang-batas antara perhitungan kalkulatif dengan hasrat membeli namun pada prakteknya hal itu selalu disadari muncul belakangan setelah hasrat membeli dipenuhi oleh “benda ajaib” pengganti simbol alat tukar berupa kartu kredit, visa, ATM, dan lain-lain, sebagai simbol atas simbol, perwakilan dari enerji psikis yang sebenarnya tak stabil tapi mengatasi keterbatasan ruang-waktu kesehari-harian kita dalam hal memperlakukan uang. Perhitungan kalkulatif lebih merupakan efek daripada sebab sebagaimana struk belanja kemudian hanya sekedar data-bukti yang ditumpuk dan lewat begitu saja dari kesadaran. Hal ini disinggung secara sangat transparan oleh Sujarwo dalam karya No Problem with the Price.</p>
<p>Harga tentu saja salah satu unsur yang sangat menentukan kondisi berbelanja dan Sujarwo memperlihatkan gejala yang sangat khas bahwa di satu pihak sosok pembeli tidak memperhitungkan harga di hadapan hasrat membeli namun di lain pihak discount menjadi target yang demikian menggiurkan. Pada karya Discount 50% para pembeli nampak menjadi penyerbu yang histeria berdesak-desakan di escalator seperti menggantungkan harapan hidup sepenuhnya di sana. Erat kaitan ceritanya dengan karya Check Harga yang mengesankan adanya perilaku sangat ambigu antara hasrat dengan strategi membeli. Menyoal harga seperti cek terlebih dulu rupanya merupakan kegiatan tersendiri di samping ketika kita langsung berhadapan dengan produk yang benar-benar kita sukai tanpa melihat dulu berapa harganya. Laptop, majalah, koran atau apa pun media yang menampilkan berbagai macam produk lengkap dengan harga adalah sarana yang membangkitkan hasrat dan sangat mungkin mendorong sedikit imajinasi untuk kemudian ”melahap” produk-produk tersebut.</p>
<p>Sudah sangatlah mahfum di sini bahwa iklan telah menjadi realitas awal sebelum kita berhadapan langsung dengan produk dan dengan demikian tindakan membeli sekedar ekstensi dari pengaruh pencitraan. Tindakan membeli dengan terlebih dulu mengitar-ngitari setiap sudut shopping mall juga merupakan perilaku tersendiri yang sudah sangat popular dengan sebutan ”mejeng”, fashion show tanpa catwalk. Sujarwo melukiskannya sebagai Shopping Style.</p>
<p>Budaya konsumerisme tak pelak menyediakan sebuah ruang kehidupan serba gemerlap sekalipun sosok-sosok di dalamnya larut dengan kondisi irasionalitas yang mungkin sangat patetik tapi itulah tahapan yang memang hendak dicapai. Uang adalah ekstensi paling signifikan dari enerji bawah sadar manusia untuk memiliki sesuatu dan itu menjadi simbol yang tidak memiliki rasa akan hak dan tanggung jawab atas relasi sosial. Sujarwo di sini hendak bercerita bahwa ketika perhatian kita tersita pada kondisi gemerlap ini bagaimanapun ada ruang yang lalu bisa terabaikan begitu saja yakni ketimpangan sosial dari kesadaran kita orang per orang. Keseluruhan karya dalam pameran SHOPASSION ini bagaimanapun adalah serangkaian cerita yang sangat terbuka secara interpretatif apakah memang gerak sejarah sosial dan budaya menuju pada ruang homogen konsumerisme ataukah itu hanya kebetulan sebagai riak gelombang yang kuat tapi kemudian melemah dan hilang dalam diseminasi.</p>
<p>Tommy F Awuy<br />
Kurator</p>
<p><strong>Start Time</strong>: Thursday, November 19, 2009 at 8:00pm<br />
<strong> End Time:</strong> Friday, December 4, 2009 at 6:00pm<br />
<strong> Location</strong>: PHILO ART SPACE<br />
<strong> Address</strong>: Jl Kemang Timur 90 C Jakarta 12730 Indonesia<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/shopassion.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Philo Art Space Fine Art 4th Anniversary Exhibition</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/events/philo-art-space-fine-art-4th-anniversary-exhibition.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/events/philo-art-space-fine-art-4th-anniversary-exhibition.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 05:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[agus suwage]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[chandra johan]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[diyanto]]></category>
		<category><![CDATA[doel ab]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[galam zulkifli]]></category>
		<category><![CDATA[hamdan omar]]></category>
		<category><![CDATA[haris purnomo]]></category>
		<category><![CDATA[heri dono]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu nurwanto]]></category>
		<category><![CDATA[jerry thung]]></category>
		<category><![CDATA[nurkholis]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[philo art space]]></category>
		<category><![CDATA[ronald manullang]]></category>
		<category><![CDATA[s. teddy d.]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[sipo andy]]></category>
		<category><![CDATA[teguh ostenrik]]></category>
		<category><![CDATA[tisna sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[tommy f awuy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=774</guid>
		<description><![CDATA[[ September 9, 2009; 7:00 pm; ] Philo Art Space Fine Art 4th Anniversary Exhibition

HAPPINESS 9
Curated by Tommy F Awuy

Agus Suwage I Chandra Johan I Dipo Andy I Diyanto I Doel AB I Galam Zulkifli I Hamdan Omar I Haris Purnomo I Heri Dono I Ibnu Nurwanto I Jerry Thung I Nurkholis I S. Teddy D. I Ronald Manullang I Teguh Ostenrik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Philo Art Space Fine Art 4th Anniversary Exhibition</p>
<p><strong>HAPPINESS 9</strong><br />
<em>Curated by Tommy F Awuy</em></p>
<p>Agus Suwage I Chandra Johan I Dipo Andy I Diyanto I Doel AB I Galam Zulkifli I Hamdan Omar I Haris Purnomo I Heri Dono I Ibnu Nurwanto I Jerry Thung I Nurkholis I S. Teddy D. I Ronald Manullang I Teguh Ostenrik I Tisna Sanjaya</p>
<p>On Wednesday, 09.09.09<br />
At 5 pm – onwards<br />
Philo Art Space<br />
Jl Kemang Timur 90 c South Jakarta 12730 Indonesia<br />
t: (021) 719 84 48 m: +62 811 10 60 47 e: philoartspace99@gmail.com<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/events/philo-art-space-fine-art-4th-anniversary-exhibition.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>U R B A N   F I G U R E</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/u-r-b-a-n-f-i-g-u-r-e.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/u-r-b-a-n-f-i-g-u-r-e.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 08:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[acep zamzam noor]]></category>
		<category><![CDATA[agustinus teddy darmanto]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[budi hardyantoni]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[cubung wp]]></category>
		<category><![CDATA[fitrajaya nusananta]]></category>
		<category><![CDATA[group]]></category>
		<category><![CDATA[indyra]]></category>
		<category><![CDATA[ipong purnama sidhi]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[philo art space]]></category>
		<category><![CDATA[robertus robet]]></category>
		<category><![CDATA[rudi st darma]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tommy f awuy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[[ July 4, 2009; 8:00 pm; ] 

U R B A N   F I G U R E
a group painting exhibition

Acep Zamzam Noor   I   Agustinus Teddy Darmanto  I   Budi Hardyantoni
Cubung WP   I  Fitrajaya Nusananta  I   Indyra

Ipong Purnama Sidhi   I   Rudi ST Darma  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-285" title="URBAN FIGURE" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2009/07/Invitation-URBAN-FIGURE-200x200.jpg" alt="URBAN FIGURE" width="200" height="200" /></p>
<p><strong>U R B A N   F I G U R E</strong><br />
a group painting exhibition</p>
<p>Acep Zamzam Noor   I   Agustinus Teddy Darmanto  I   Budi Hardyantoni<br />
Cubung WP   I  Fitrajaya Nusananta  I   Indyra</p>
<p>Ipong Purnama Sidhi   I   Rudi ST Darma   I   Tommy F Awuy</p>
<p>Curated by  Robertus Robet</p>
<p>Officiated by M. SOBARY</p>
<p>Saturday, July 4, 2009 at 8 p.m.</p>
<p>at Philo Art Space<br />
Jl Kemang Timur 90 C<br />
South Jakarta 12730</p>
<p>Tel: +62 21 719 84 48</p>
<p>Contact Person: Amalia Ahmad (+62 811 10 60 47)</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/u-r-b-a-n-f-i-g-u-r-e.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

