<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ArtTitudes &#187; yogyakarta</title>
	<atom:link href="http://www.arttitudes.org/tag/yogyakarta/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arttitudes.org</link>
	<description>Indonesia Contemporary Art</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Aug 2011 16:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Texture &#124; Structure</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/texture-structure.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/texture-structure.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>
		<category><![CDATA[anggar prasetyo]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[hardiman]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2173</guid>
		<description><![CDATA[[ February 14, 2011 7:30 pm to March 14, 2011 7:30 pm. ] Pameran Tunggal ANGGAR PRASETYO “TEXTURE &#124; STRUCTURE”
Penulis: Hardiman

Tekstur adalah sifat khas suatu permukaan sebuah bentuk. Dan, struktur bermakna sebagai cara mencipta, membangun, atau memandu beberapa bentuk. Pada karya-karya Anggar Prasetyo, tekstur dan struktur itu bukan hanya bertebaran, tetapi menjadi pilihan utama dalam perwujudan karyanya sebagai ‘apa yang tampil’.

Beragam permukaan benda diamati, dikaji, dan ditampilkannya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/02/texture_structure.jpg" rel="lightbox[2173]" title="texture_structure_s"><img class="alignleft size-full wp-image-2174" title="texture_structure_s" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/02/texture_structure_s.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2173"></span>Pameran Tunggal ANGGAR PRASETYO “TEXTURE | STRUCTURE”<br />
Penulis: Hardiman</p>
<p>Tekstur adalah sifat khas suatu permukaan sebuah bentuk. Dan, struktur bermakna sebagai cara mencipta, membangun, atau memandu beberapa bentuk. Pada karya-karya Anggar Prasetyo, tekstur dan struktur itu bukan hanya bertebaran, tetapi menjadi pilihan utama dalam perwujudan karyanya sebagai ‘apa yang tampil’.</p>
<p>Beragam permukaan benda diamati, dikaji, dan ditampilkannya dalam lukisan. Setidaknya, kita bisa melihat pertumbuhan eksplorasi Anggar pada pengkajian tekstur batu, kain, kertas, dan beragam tekstur lainnya. Pertumbuhan pendalaman ini tidak hanya menyoal tampilan tekstur belaka, tapi juga pada persolan teknik. Teknik pada lukisan Anggar Prasetyo adalah pengutamaan eksplorasi. Sangat banyak pemirsa lukisan Anggar Prasetyo yang menduga bahwa tekstur itu adalah tekstur riil rabaan, tetapi ternyata itu hanya ilusi tentang rabaan. Sebuah teknik yang, bukan hanya tinggi, tapi menjebak mata kita untuk berasosiasi dengan realitas rabaan.</p>
<p>Melihat karya-karya Anggar Prasetyo yang dipamerkan di Tembi Contemporary dalam pameran Texture | Structure tentu sedang memainkan ilusi kita. Pengamatan kita yang tidak sesuai dengan pengindraaan kita telah diperdaya Anggar Prasetyo dengan menghadirkan kekuatan teknik pada lukisannya. Sebuah stimulus visual yang mengasyikan mata, yang kemudian menggoda indera rabaan kita untuk menyentuh lukisannya. Lalu, kalau kita merabanya, maka tipuan itu telah menjebak kita. Inilah sebuah permainan yang mengasyikan itu<br />
Tentu saja, bukan soal tipuan yang jadi fokus kajian Anggar Prasetyo. Kita bisa menelusuri kenikmatan mata itu pada irama, perulangan, roncetan (gradation), kelainan, kecengcahan (contrast), kerapatan, dan segala unsur visual lainnya. Realitas unsur visual ini melahirkan unsur pertalian dan unsur peranan, misalnya tentang kedudukan, ruang, gaya berat, dan raut (shape).</p>
<p>Di tengah-tengah gemuruhnya seni rupa naratif yang memuliakan muatan. Tiba-tiba kehadiran Anggar Prasetyo menyadarkan kita, bahwa salah satu nilai seni terletak pada elemennya itu sendiri. Kita bisa merasakan bagaimana pergulatan Anggar Prasetyo untuk tetap kukuh pada ideologi estetik formalistiknya di tengah-tengah arus besar naratif itu.</p>
<p>Opening : Monday, February 14, 2011 at 7:30PM<br />
Closing : March 14, 2011<br />
Venue : Tembi Contemporary<br />
Address : Jl. Parangtritis Km 8,5 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta 55816</p>
<p>Dibuka oleh: Enin Supriyanto</p>
<p>Keterangan lebih lanjut, hubungi :<br />
Elly A. Mangunsong +62 818 468 283 +62 818 468 283</p>
<p>Jam Buka Tembi Contemporary<br />
Selasa – Sabtu, 10.00 – 18.00 WIB<br />
Minggu, 11.00-17.00 WIB<br />
Hari Senin dan Hari Libur Nasional Tutup<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/texture-structure.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AFTER EFFECT</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/after-effect.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/after-effect.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 12:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tujuh bintang art space]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2160</guid>
		<description><![CDATA[Pameran ini adalah pameran karya tugas akhir semester mata kuliah Penciptaan Seni mahasiswa Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Kurator : Prof, Drs, M. Dwi Marianto PhD, MFA &#38; Anusapati, MFA
Artist :
A. Nawangseto M , Budi “kampret” , Catur Ratriana , Deni Rahman , Finn Yngvesson , Hardiana , I Kadek “koyo” Yudi Astawa , [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/aftereffect.jpg" rel="lightbox[2160]" title="aftereffect"><img class="alignleft size-full wp-image-2161" title="aftereffect" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/aftereffect.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2160"></span>Pameran ini adalah pameran karya tugas akhir semester mata kuliah Penciptaan Seni mahasiswa Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta.</p>
<p>Kurator : Prof, Drs, M. Dwi Marianto PhD, MFA &amp; Anusapati, MFA</p>
<p>Artist :<br />
A. Nawangseto M , Budi “kampret” , Catur Ratriana , Deni Rahman , Finn Yngvesson , Hardiana , I Kadek “koyo” Yudi Astawa , Budayana , Lee , Mahdi “Medi” Abdullah , Mufi Mubaroh , Putu Dita Asta Giri , Setyo Priyo Nugroho</p>
<p>Paameran dengan judul “ after effect ” ini menampilkan karya-karya seni rupa dua dan tiga dimensional yang diciptakan setelah melalui proses provokasi dari para dosen pembimbing yaitu M.Dwi Marianto dan Anusapati agar para mahasiswa (seniman) melakukan eksperimentasi dan pengembangan teknis terhadap kebiasaan perilaku dalam berkarya selama ini sehingga dapat menghasilkan karya yang lebih kaya baik dalam hal tema, konsep, maupun wujud visual. Provokasi yang dikenal dengan sebutan “ keluar dari kotak “ ini memang ditekankan kepada para mahasiswa agar memiliki pola pikir dan keberanian untuk lebih mengeksplorasi teknis yang dikuasai dan diharapkan muncul efek-efek dari proses “bermain” yang belum pernah digali. Juga mampu untuk menterjemahkan karya yang diciptakan dengan lebih kuat untuk dapat dipertanggunjawabkan baik secara wacana maupun dari sisi akademis.</p>
<p>Opening : Friday, January 21 at 7:30p<br />
Closing : Sunday, January 30 at 10:00pm<br />
Venue : Tujuh Bintang Art Space<br />
Address : Jl. Sukonandi No. 7 Yogyakarta<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/after-effect.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Organic Mind</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/organic-mind.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/organic-mind.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 03:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[luki prang]]></category>
		<category><![CDATA[mantra]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[sangkring art space]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[sugi lanus]]></category>
		<category><![CDATA[wahyudin]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2147</guid>
		<description><![CDATA[[ January 10, 2011 7:00 pm to January 28, 2011 7:00 pm. ] "ORGANIC MIND" by  MANTRA
Writer : Luki Prang, Sugi Lanus, Wahyudin

Pameran Tunggal oleh Mantra
Terminologi “organik” telah masuk ke dalam otak kita sebagai sesuatu yang mangajak kita untuk kembali ke alam. Banyak negara dan budaya telah lama menganut gaya hidup organik dengan makanan organik, pertanian organik, kosmetik organik dan sebagainya. Pemikiran organik mempunyai hubungan erat dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/OrganicMind.jpg" rel="lightbox[2147]" title="OrganicMind_s"><img class="alignleft size-full wp-image-2148" title="OrganicMind_s" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/OrganicMind_s.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2147"></span>&#8220;ORGANIC MIND&#8221; by  MANTRA<br />
Writer : Luki Prang, Sugi Lanus, Wahyudin</p>
<p>Pameran Tunggal oleh Mantra<br />
Terminologi “organik” telah masuk ke dalam otak kita sebagai sesuatu yang mangajak kita untuk kembali ke alam. Banyak negara dan budaya telah lama menganut gaya hidup organik dengan makanan organik, pertanian organik, kosmetik organik dan sebagainya. Pemikiran organik mempunyai hubungan erat dengan kesadaran lingkungan dan kesehatan.</p>
<p>Tetapi ada aspek-aspek lain dari berpikir organik yang harus kita pegang dan pahami. Mantra, seorang seniman kontemporer, mengekspresikan dalam koleksinya ini dua bentuk kecerdasan penting yang  ditemukan di dalam kemanusiaan: Kecerdasan Alami dan Kecerdasan Bentukan. Kecerdasan Alami adalah apa yang kita lakukan dengan naluri kita, apa yang alam minta kita lakukan dan ketrampilan-ketrampilan yang alami berikan kepada kita. Mantra memberikan contoh Jimmy Hendrix sebagai sebuah elemen naluri alamiah yang luar biasa karena Hendrix tidak pernah belajar musik tetapi ketrampilan alamiahnya mampu menciptakan suara-suara gitar yang unik. Dengan kata lain, Hendrix mempunyai “pikiran organik”. Masalah budaya yang terjadi saat ini adalah bahwa kita terlalu tenggelam dalam kecerdasan bentukan yang disebarkan oleh konsumerisme dan media seperti kecanduan TV dan keharusan “mengikuti sindrom Jonses” secara materialistik. Hasil akhirnya menjadikan kemanusiaan kehilangan konsep pikiran organiknya.</p>
<p>Namun demikian beberapa cara kecerdasan bentukan kembali ke kecerdasan alami seperti yoga yang diciptakan oleh kemanusiaan di India sekitar 5000 tahun yang lalu sebagai bentuk olah raga dan jiwa yang membawa pikiran dan tubuh bersama di dalam kesatuan spiritual.  Dengan demikian kita bisa menyatakan bahwa beberapa kecerdasan unik ada pada keduanya.</p>
<p>Menilik kembali naluri alami Hendrix sebagai bukan saja seorang dengan bakat melebihi pendidikan musik manapun, kesamaan antara fenomena tentangnya dan esensi yoga dibuktikan dengan koleksi Mantra tentang penjelasan pikiran organik yang visual. Kita juga harus mengingat bahwa Hendrix menderita karena dipresi manik (gangguan bipolar), suatu penyakit mental terkait fluktuasi suasana hati yang cepat dan mudah berubah, yang sering ditemukan pada seniman-seniman dan orang-orang dengan karakter kreatif. Ini terbuka untuk dialog terbuka jika pikiran organiknya tidak mampu menghadapi kecerdasan bentukan yang meluap-luap karena masyarakat di sekitarnya. Jelas bahwa pikiran-pikiran kreatif akan dimakan oleh kecerdasan bentukan ketika banyak seniman setuju dengan pernyataan ini.</p>
<p>Mantra membangunkan kita dengan memasukkan dedaunan pada bentuk-bentuk di dalam lukisan-lukisannya yang mengajak kita untuk melupakan ketrampilan-ketrampilan, pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan organik kita. Ia menggunakan bahasa simbolnya sendiri sebagai penanda bagi kebersamaan dan dialog multibudaya.</p>
<p>“Pikiran Organik” akan merubah aspek-aspek kehidupan kita dalam pandangan kontroversial tentang seni.<br />
Oleh Luki Prang<br />
Luki memegang gelar PhD dari South East Asian Anthropology dan telah tinggal dan bekerja di Lombok, Indonesia selama 10 tahun. Ia adalah seorang warga Austraia yang lahir di Eropa dengan ibu seorang Jerman dan ayah seorang India dan telah berkelana sejak masa kanak-kanak ke berbagai budaya, seni dan tradisi.<br />
Di Lombok ia berkonsentrasi pada perkembangan serni bagi seniman-seniman setempat berbakat dan terbuka bagi hubungan internasional.<br />
Ditahun 2010 Luki memfasiltasi program kerelawanannya Mantra dengan DAADA, organisasi Australia untuk seniman-seniman cacat, di Perth, Autralisa Barat.</p>
<p><strong>[English Version]</strong></p>
<p>A Solo Exhibition by Mantra</p>
<p>The terminology “organic” has entered our brains as something that tells us to go back to nature. Many countries and cultures have since long embraced “organic” lifestyles, “organic” foods, “organic” agriculture, “organic” cosmetics and so on. The organic thinking has a strong connection to environmental awareness and health in common.</p>
<p>But there are other aspects of “organic” thinking we have to embrace and understand. The contemporary visual artist Mantra expresses in this collection two important intellects found in humanity: The Natural Intellect and The Acquired Intellect. Natural Intellect is what we do with our instincts, what nature tells us to do and the skills nature gave us. Mantra’s example of Jimmy Hendrix is an outstanding element of natural instinct since Hendrix had never studied music but his natural skill created unique guitar sounds. In other words Hendrix had the “organic mind”. The cultural problem occurring today is that we are drowning in too much acquired intellect spread by consumerism and media such as TV addiction and having to “keep up with the Jonses” syndrome in a materialistic way. The end result being humanity loosing its organic mind concept.</p>
<p>However some ways of acquired intellect goes back to natural intellect such as yoga which was created by humanity in India around 5000 years ago as a form of exercise bringing mind and body together in a spiritual unity. We can therefore state that some unique intellects are both.</p>
<p>Looking back at the natural instincts of Hendrix who not only was a talent beyond any musical education, a similarity between his phenomena and the essence of yoga is therefore proven in Mantra’s collection of visual organic mind explanation. We also should remember that Hendrix suffered from manic depression (bipolar disorder), a mental disease of highs and lows often found amongst artists and people of creative character. It is open for dialogue if his organic mind could not cope with an overload of acquired intellect by his surrounding society. It is clear that creative minds will almost be eaten by too much acquired intellect as many artists will agree to this statement.</p>
<p>Mantra wakes us up by inserting leaves into his painted forms to tell us not to forget our organic skills, minds and feelings. He uses his own language of symbols as a sign for multicultural togetherness and dialogue.</p>
<p>“Organic Mind” will change our aspects towards life in an artistic controversial point of view.</p>
<p>By Luki Prang<br />
Luki  holds a PhD in South East Asian Antropology and has lived and worked in Lombok, Indonesia for 10 years. She is an Australian citizen born in Europe by a German mother and an Indian father and has traveled extensively already in her childhood being exposed to different cultures’ art and tradition.<br />
In Lombok she focused on arts development for selected local talented artists and opened their doors for international connections.<br />
In 2010 Luki facilitated Mantra’s volunteer program with DAADA, the Australian organization for disabled artists, in Perth , Western Australia .</p>
<p>Opening : Monday, 10 Januari 2011 at 7 pm<br />
Closing : Friday, 28 January 2011<br />
Venue : Sangkring Art Space<br />
Address : Nitiprayan Rt.1 Rw.20 Ngestiharjo, Kasihan Bantul Yogyakarta</p>
<p>&#8220;ORGANIC MIND&#8221; music performance : Thursday, 13 January 2011, at 7 PM<br />
by Mantra, Yonas, Wukir, NO&#8217;ART (Lombok)<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/organic-mind.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kidult</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/kidult.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/kidult.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 03:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tembi contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[tromarama]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[[ January 6, 2011 7:30 pm to January 25, 2011 7:30 pm. ] "Kidult"
Tromarama Solo Exhibition

Opening : Thursday 6 January 2011, 7.30pm – 10pm
Closing : Tuesday, 25 January 2011
Venue : Tembi Contemporary
Address : Jl. Parangtritis Km 8,5 Tembi, Timbulharjo
Sewon, Bantul Yogyakarta 55816]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/kidult.jpg" rel="lightbox[2144]" title="kidult_s"><img class="alignleft size-full wp-image-2145" title="kidult_s" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/kidult_s.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2144"></span>&#8220;Kidult&#8221;<br />
Tromarama Solo Exhibition</p>
<p>Opening : Thursday 6 January 2011, 7.30pm – 10pm<br />
Closing : Tuesday, 25 January 2011<br />
Venue : Tembi Contemporary<br />
Address : Jl. Parangtritis Km 8,5 Tembi, Timbulharjo<br />
Sewon, Bantul Yogyakarta 55816<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/kidult.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Papers and Ugo</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/papers-and-ugo.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/papers-and-ugo.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 01:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[taman budaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[ugo untoro]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2137</guid>
		<description><![CDATA[[ January 8, 2011 7:30 pm to January 21, 2011 9:00 pm. ] Organizer : Heri Pemad Art Management
Opening : Saturday, 8 January 2011 at 3 PM
Closing : Friday, 21 January 2011
Venue : Taman Budaya Yogyakarta
Address : Jl. Sriwedari No. 1 Yogyakarta, Indonesia

Artist Talk on Sunday, 9 January 2011 at 3 PM]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/PapersAndUgo.jpg" rel="lightbox[2137]" title="PapersAndUgo"><img class="alignleft size-full wp-image-2138" title="PapersAndUgo" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2011/01/PapersAndUgo.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2137"></span>Organizer : Heri Pemad Art Management<br />
Opening : Saturday, 8 January 2011 at 3 PM<br />
Closing : Friday, 21 January 2011<br />
Venue : Taman Budaya Yogyakarta<br />
Address : Jl. Sriwedari No. 1 Yogyakarta, Indonesia</p>
<p>Artist Talk on Sunday, 9 January 2011 at 3 PM<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/papers-and-ugo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Boneka</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/pesta-boneka.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/pesta-boneka.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 02:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Community]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[papermoon puppet theatre]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tembi contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2126</guid>
		<description><![CDATA[Pesta Boneka adalah sebuah perayaan seni teater boneka yang diprakarsai oleh Papermoon Puppet Theatre, sebuah kelompok yang melakukan beragam eksperimen seni dengan menggunakan media teater boneka sejak tahun 2006.
Pesta Boneka ingin mengajak publik untuk menikmati seni teater boneka sebagai seni yang universal dan diperuntukkan bagi siapa saja.
Menu PESTA BONEKA #2 :
* Selasa / 14 Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/12/PestaBoneka.jpg" rel="lightbox[2126]" title="PestaBoneka_s"><img class="alignleft size-full wp-image-2127" title="PestaBoneka_s" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/12/PestaBoneka_s.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2126"></span>Pesta Boneka adalah sebuah perayaan seni teater boneka yang diprakarsai oleh Papermoon Puppet Theatre, sebuah kelompok yang melakukan beragam eksperimen seni dengan menggunakan media teater boneka sejak tahun 2006.</p>
<p>Pesta Boneka ingin mengajak publik untuk menikmati seni teater boneka sebagai seni yang universal dan diperuntukkan bagi siapa saja.</p>
<p>Menu PESTA BONEKA #2 :</p>
<p>* Selasa / 14 Desember 2010<br />
19.00 WIB &#8211; selesai</p>
<p>Pementasan<br />
-	Wayang Beber (Surakarta)<br />
-	Wayang Kancil (Yogya)<br />
-	Automne 2085 (Prancis)<br />
-	Wayang HipHop (Yogya)</p>
<p>Pembukaan Pameran Iwan Effendi feat. Papermoon Puppet Theatre : “Artworks of MWATHIRIKA”</p>
<p>* Minggu – Selasa / 19-21 Desember 2010<br />
14.00 WIB &#8211; selesai</p>
<p>Workshop pementasan teater boneka untuk anak dan remaja desa Tembi<br />
(peserta pilihan)</p>
<p>* Rabu / 22 Desember 2010<br />
16.00 WIB – 17.30 WIB</p>
<p>Pementasan</p>
<p>- Hasil Workshop Remaja dan anak-anak Tembi feat Papermoon Puppet Theatre</p>
<p>- Teater Boneka Indonesia (Yogyakarta)</p>
<p>Venue : Tembi Contemporary<br />
Address : Jl. Parangtritis km. 8,5 Sewon, Bantul<br />
Yogyakarta, Indonesia<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/pesta-boneka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja Gumereh, Jogja Bangkit</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/2115.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/2115.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 02:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2115</guid>
		<description><![CDATA[[ December 10, 2010 6:30 pm to December 17, 2010 6:30 pm. ] Pameran Senirupa JOGJA ART SHARE: Jogja bangkit ,Jogja Gumbregah

Akhirnya, 26 Oktober 2010 lalu Merapi, gunung berapi paling aktif di Indonesia, bahkan di dunia, meletus. Puncaknya, Kamis malam, 4 November 2010, ketika gunung dengan ketinggian 2.968 meter dpl (di atas permukaan laut) ini memuntahkan banyak kandungan materialnya berupa awan panas, lava pijar, lahar dingin, juga debu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/12/JogjaArtShare.jpg" rel="lightbox[2115]" title="JogjaArtShare"><img class="alignleft size-full wp-image-2116" title="JogjaArtShare" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/12/JogjaArtShare.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2115"></span>Pameran Senirupa JOGJA ART SHARE: Jogja bangkit ,Jogja Gumbregah</p>
<p>Akhirnya, 26 Oktober 2010 lalu Merapi, gunung berapi paling aktif di Indonesia, bahkan di dunia, meletus. Puncaknya, Kamis malam, 4 November 2010, ketika gunung dengan ketinggian 2.968 meter dpl (di atas permukaan laut) ini memuntahkan banyak kandungan materialnya berupa awan panas, lava pijar, lahar dingin, juga debu vulkanik. Diperkirakan, secara keseluruhan gunung Merapi kali ini menggelontorkan material hingga sekitar 140 juta meter kubik. Dampak dari meletusnya gunung yang mempertemukan empat kabupaten (dan dua propinsi) ini begitu luas dan masif. Ratusan orang tewas, ribuan orang cedera, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, lahan tanah, hingga mata pencaharian utama. Jutaan hektar hutan dan lahan pertanian dan perkebunan lenyap menjadi “padang pasir” yang perlu bertahun-tahun untuk bisa kembali seperti semula. Angka-angka mengenai hal ini akan begitu beragam sesuai perkembangan waktu yang terus bergerak. Para korban tersebut kini membutuhkan uluran tangan kepedulian dari semua kalangan, tak terkecuali kita dari masyarakat seni (rupa). Kepedulian masyarakat seni ini sudah banyak dilakukan sejak awal setelah (gejala) bencana ini terjadi. Tidak sedikit dari sahabat kita telah lebih dahulu bergerak langsung di lapangan dengan membuat posko bantuan, bergabung dengan komunitas lain, LSM dan lainnya untuk menyegerakan kebutuhan dasariah bagi para korban letusan Gunung Merapi. Kini, setelah sebulan berlalu, sumber bencana, letusan gunung Merapi telah luruh. Kondisi telah “membaik” meski tentu saja banyak hal telah berubah menimpa para korban. Barangkali kebutuhan sandang pangan sedikit tertangani untuk jangka waktu yang relative pendek. Namun demikian, ada sekian banyak persoalan yang mengemuka, seperti kebutuhan pendidikan pendidikan anak-anak, kebutuhan spiritual bagi keluarga, terutama ibu dan anak, dan sebagainya. Dalam kerangka pemikiran untuk memberi kontribusi bagi para korban bencana, khususnya bencana Merapi ini, kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam perhelatan berbasis seni (rupa), yakni pameran amal seni rupa. Tajuk pameran ini, “Jogja Gumregah! Jogja Bangkit!” dengan jelas mengindikasikan sebuah harapan yang besar untuk memompa semangat kebersamaan sebagai warga Yogyakarta dan Indonesia dalam mengatasi masalah kebencanaan. Pameran ini tentu saja hanya sebagian kecil dari upaya masyarakat seni rupa untuk berkontribusi di samping banyak modus dan cara lain.</p>
<p>Pameran akan dibuka oleh DR. Syamsul Maarif, MSi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan &#8230;Bencana (BNPB)</p>
<p>Opening : Friday, 10 December 2010 at 6:30pm<br />
Closing : Friday, 17 December 2010<br />
Venue : Jogja National Museum (JNM)<br />
Address : Jl. Amri Yahya No 1 Gampingan Yogyakarta<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/2115.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE TALES of GWEN SILENT</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/the-tales-of-gwen-silent.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/the-tales-of-gwen-silent.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 05:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[a. c. andre tanama]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[bentara budaya]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[syang art space]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2110</guid>
		<description><![CDATA[Launching Buku THE TALES OF GWEN SILENT: An Art Journey with Andre Tanama (kerjasama dengan SYANG Art Space, Magelang)
Writers: Vera Wijaya, Adinto Fajar S., Nia &#8216;Hagai&#8217; Dianti, Sukma Swarga Tiba.
Pada tahun 2000 A.C. Andre Tanama mulai memfokuskan diri total menggeluti seni rupa, dan berhasil menciptakan gambaran karakter yang khas dalam karya-karyanya. Sekitar tahun 2002, Andre [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/12/TheTalesofGwenSilent.jpg" rel="lightbox[2110]" title="TheTalesofGwenSilent"><img class="alignleft size-full wp-image-2111" title="TheTalesofGwenSilent" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/12/TheTalesofGwenSilent.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2110"></span>Launching Buku THE TALES OF GWEN SILENT: An Art Journey with Andre Tanama (kerjasama dengan SYANG Art Space, Magelang)<br />
Writers: Vera Wijaya, Adinto Fajar S., Nia &#8216;Hagai&#8217; Dianti, Sukma Swarga Tiba.</p>
<p>Pada tahun 2000 A.C. Andre Tanama mulai memfokuskan diri total menggeluti seni rupa, dan berhasil menciptakan gambaran karakter yang khas dalam karya-karyanya. Sekitar tahun 2002, Andre menciptakan karakter Wayang Monyong sebagai manifestasi dari ekspresi perasaannya. Dan pada tahun 2007 Andre melahirkan tokoh Gwen Silent.</p>
<p>Siapa Gwen Silent dan bagaimana kisahnya?</p>
<p>Gwen Silent adalah nama figur anak perempuan yang dia ciptakan sebagai karakter utama dalam karya-karyanya, baik itu seni grafis, monoprint, lukisan, drawing, maupun patung. Gwen Silent memiliki karakter yang amat khas, yaitu digambarkan kepalanya menunduk, tidak memiliki indera mulut dan mata atau terkesan hampir selalu tertutup, Karakter visual tanpa mulut itu pula yang membuat nama Gwen Silent terasa tepat disandangkan pada figur ini karena silent berarti sunyi.</p>
<p>Gwen Silent muncul sebagai metafor atas sisi spiritual manusia dalam menghadapi dan menyikapi permasalahan di dalamnya. Maka ini tentunya membuat Gwen Silent akan muncul sebagai simbol-simbol atas hati nurani, simbol harapan sekaligus keputusasaan, simbol atas kebahagiaan sekaligus kesedihan, simbol amarah sekaligus kasih sayang, yang tentunya semuanya itu muncul sebagai sebab juga akibat problematika di dalamnya.</p>
<p>Banyak yg mengira bahwa Gwen Silent adalah penggambaran atas anak perempuannya. Memang tidak ia pungkiri bahwa penggambaran ini (awalnya) terinspirasi akan sebuah harapan memiliki anak pertama dengan jenis kelamin perempuan (tatkala istrinya hamil tua, akhir 2007). Dan nama Gwen senddiri menjadi nama baptis anaknya. Menariknya lagi, kata SILENT seolah-olah menjadi singkatan nama anaknya juga, yakni Sae ILEN Tanama.</p>
<p>Tapi setelah ia mencoba flashback terhadap proses penciptaannya, ia merasakan bahwa Gwen Silent lebih merepresentasikan dirinya sendiri. Secara fisik penamaan dan fisik anatomi wajah, memang ada inspirasi dari anaknya. “Tapi ini bukan anak saya&#8230;. Gwen Silent justru saya sendiri, entahlah..,” ungkaqp Andre</p>
<p>Bersamaan dengan program pameran ini telah dipersiapkan sebuah buku yang direncanakan akan dilaunching pada saat pembukaan pameran tersebut. Pameran kali ini mengambil tajuk “Tales of Gwen Silent” dan disertai dengan buku berjudul The Tales of Gwen Silent (An Art Journey with Andre Tanama) Dibuka oleh dr. Oei Hong Djien</p>
<p>Opening : Friday, December 17, 2010<br />
Closing : Monday, December 27, 2010<br />
Venue : Bentara Budaya Yogyakarta<br />
Address : Jl. Suroto, Kota Baru, Yogyakarta<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/the-tales-of-gwen-silent.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matahatijogja</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/matahatijogja.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/matahatijogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 07:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[matahati]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[sangkring art space]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2056</guid>
		<description><![CDATA[[ November 1, 2010 7:00 pm to November 20, 2010 7:00 pm. ] MATAHATIJOGJA oleh Kelompok MATAHATI

Pameran akan dibuka oleh Dr. Melani Setiawan, MSc
Penulis, Drs. Suwarno Wisetrotomo. M.Hum

Opening : Monday, 1 November 2010 at 7 PM
Closing : Saturday, 20 November 2010
Venue : Sangkring Art Space
Address : Nitiprayan, Rt 1/20 No. 88 Ngestiharjo
Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182

Artist Talk
Tuesday, 2 November 2010 at 4 PM

galeri buka pukul 11:00 - 20:00
minggu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/11/matahati.png" rel="lightbox[2056]" title="matahati_s"><img class="alignleft size-full wp-image-2068" title="matahati_s" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/11/matahati_s.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2056"></span>MATAHATIJOGJA oleh Kelompok MATAHATI</p>
<p>Pameran akan dibuka oleh Dr. Melani Setiawan, MSc<br />
Penulis, Drs. Suwarno Wisetrotomo. M.Hum</p>
<p>Opening : Monday, 1 November 2010 at 7 PM<br />
Closing : Saturday, 20 November 2010<br />
Venue : Sangkring Art Space<br />
Address : Nitiprayan, Rt 1/20 No. 88 Ngestiharjo<br />
Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182</p>
<p>Artist Talk<br />
Tuesday, 2 November 2010 at 4 PM</p>
<p>galeri buka pukul 11:00 &#8211; 20:00<br />
minggu dan hari libur nasional tutup<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/matahatijogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gema Waktu</title>
		<link>http://www.arttitudes.org/exhibition/gema-waktu.html</link>
		<comments>http://www.arttitudes.org/exhibition/gema-waktu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 06:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[abas alibasyah]]></category>
		<category><![CDATA[agung rai museum of art]]></category>
		<category><![CDATA[agus dermawan t]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[asosiasi pecinta seni indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[galeri nasional]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=2060</guid>
		<description><![CDATA[[ November 4, 2010 3:00 pm to November 14, 2010 3:00 pm. ] Galeri Nasional Indonesia, Agung Rai Museum of Art,Asosiasi Pecinta Seni Indonesia mempersembahkan

"Gema Waktu"
karya Abas Alibasyah

Pembukaan akan oleh Syakieb A. Sungkar (kolektor)
Hosts: Tossin Himawan, Subandi Salim, Chris Dharmawan, Agung Rai, Haryono Budiono

Opening : Thursday, 4 November 2010 at 7 PM
Closing : 14 November 2010
Venue : Galeri Nasional Indonesia
Address : Jalan Medan Merdeka Timur 14 Jakarta

Buka setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/11/gema-waktu.jpg" rel="lightbox[2060]" title="gema-waktu_s"><img class="alignleft size-full wp-image-2061" title="gema-waktu_s" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/11/gema-waktu_s.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a><span id="more-2060"></span>Galeri Nasional Indonesia, Agung Rai Museum of Art,Asosiasi Pecinta Seni Indonesia mempersembahkan</p>
<p>&#8220;Gema Waktu&#8221;<br />
karya Abas Alibasyah</p>
<p>Pembukaan akan oleh Syakieb A. Sungkar (kolektor)<br />
Hosts: Tossin Himawan, Subandi Salim, Chris Dharmawan, Agung Rai, Haryono Budiono</p>
<p>Opening : Thursday, 4 November 2010 at 7 PM<br />
Closing : 14 November 2010<br />
Venue : Galeri Nasional Indonesia<br />
Address : Jalan Medan Merdeka Timur 14 Jakarta</p>
<p>Buka setiap hari pukul : 09.00 &#8211; 19.00</p>
<p>Pameran ini disertai peluncuran buku<br />
&#8220;Gema Waktu &#8211; Lukisan-lukisan Abas<br />
disusun: Agus Dermawan T.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arttitudes.org/exhibition/gema-waktu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

